Mohon maaf karena komentar Anda tidak diizinkan untuk tampil di sini. Mohon kiranya mengisi komentar di Buku Tamu atau sesuai artikel yang dibaca. Ini adalah halaman yang khusus memuat lintasan pikiran dan perasaan pribadi…
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Oct | ||||||
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | ||||||
Categories
Artikel Terbaru
- Kalangan Sharia Minded: Peluang atau Kendala Bagi Bank Syariah?
- Bank Syariah, Kesejahteraan, UMKM dan Pembalikan Piramida Ekonomi
- Kehilangan
- Aku Ingin Bertanya (Kau Ingin Menjawab?)
- Lezatnya Perjuangan
- Pelajaran dari Sebuah Jam
- Renungan (Muhasabah)
- Usia dan Karya: Senioritas Vis a Vis Profesionalitas
- Sedekah: Aset di Dunia Terlebih di Akhirat
- Bahaya Memvonis Orang Lain dengan Kekufuran atau Ahli Bid`ah (Khuthurah at- Takfir wa at-Tabdi`)
Komentar Pengunjung & My Words
| ita on Lezatnya Perjuangan | |
| Abi aqila on Bahaya Memvonis Orang Lain den… | |
| abuaufa on Cukup Kematian Sebagai Na… | |
| Abu Aisyah Imam Wahy… on Kalangan Sharia Minded: Peluan… | |
| dessi atikah on Istri Cantik, Perlukah? | |
| Lukman Al-hakim on Kehilangan | |
| sahabatui on Buku Tamu | |
| abukhodijah on Buku Tamu | |
| Beda Pendapat atau P… on Beda Pendapat atau Pendap… |
Introspeksi I
Allah Ta`ala berfirman (yang artinya): "Dan tidaklah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad), kecuali sebagai rahmat (kasih) kepada semesta alam." [QS. Al-Anbiya': 107]
Imam Ibn Taimiyyah berkata, "Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang paling mengetahui al-haqq dan paling mengasihi sesama makhluk." [Minhaj as-Sunnah.] Bagi yang mengklaim bahwa dirinya termasuk kalangan Ahlus Sunnah, maka sudahkah hal tersebut direalisasikan sebagai pijakan dan spirit dasar dalam hal dakwah serta muamalah kepada pihak lain yang berseberangan pendapat?
Introspeksi II
Sungguh mengherankan apabila ada orang yang bersikap keras, intoleran, memaksakan pendapat dan mudah memvonis orang lain dalam perkara yang memungkinkan perbedaan pendapat di dalamnya (khilafiyyah ijtihadiyyah), padahal ia telah membaca berbagai literatur fiqh, ushul fiqh, tafsir, hadits, dll, yang di dalamnya memuat sekian banyak perbedaan pendapat di kalangan ulama. Jika yang bersangkutan belum membaca/menelaah literatur tersebut, maka sejatinya ia sama sekali tidak berkompeten untuk mengeluarkan pendapat, apalagi memvonis orang lain. Namun, apabila ia telah membaca literatur-literatur tersebut akan tetapi masih juga bersikap keras dan intoleran, maka ini adalah musibah... inna li'Llahi wa inna ilaihi raji`un. Penting untuk ditambahkan bahwa yang dimaksud dengan toleransi adalah menghargai perbedaan, dan bukan menyamakan perbedaan.
Introspeksi III
Hendaklah kita berhati-hati dan tidak bermudah-mudah dalam menilai syubhat terhadap suatu pandangan yang berbeda dengan kita, serta dalam memvonis orang lain. Sebab, bisa jadi yang ternyata terkena syubhat itu adalah kita, sehingga oleh karenanya kita menilai kebenaran yang belum kita ketahui sebagai syubhat. Jangan berbaik sangka (husnu'zh zhann) terhadap diri sendiri dan apa yang sudah diketahui, namun sebaliknya berburuk sangka (su'u'zh zhann) terhadap orang lain dan apa yang ia ketahui. Sadarilah betapa sedikitnya yang kita ketahui dari lautan ilmu yang ada, dan bahwa orang lain pun punya kemungkinan untuk benar sebagaimana halnya kita. Hal ini bukan berarti kita berpikir liberal, tidak menyalahkan apa yang jelas salah, merelatifkan segala hal serta menihilkan amr ma`ruf nahy munkar. Namun, tentu tidak benar apabila kita bersikap terlalu ekslusif, menganggap bahwa kebenaran dalam segala hal hanya ada pada kita atau kelompok kita dan menafikan kebenaran dari yang lain. Sesungguhnya kebenaran itu diapit oleh dua kutub kesesatan yang berseberangan secara diametral.
Introspeksi IV
Berapa banyak orang yang mengklaim kebebasan dari fanatisme dan taqlid, namun sejatinya ia hanyalah berpindah dari suatu fanatisme dan taqlid kepada bentuk fanatisme dan taqlid yang lain yang boleh jadi tidak kurang atau bahkan lebih parah dari sebelumnya.
I`tidzar
Apa yang saya tuliskan dalam blog ini bukan berarti telah saya amalkan, khususnya yang berkaitan dengan topik tazkiyatu'n nafs (penyucian jiwa). Namun, saya hanyalah men-share upaya saya yang sangat kurang untuk memperbaiki diri, melalui jalur tulisan. Semoga tulisan tersebut dapat memperbaiki diri saya, secara khusus, dan mereka yang membacanya, secara umum. Bagi yang membacanya dan mengambil manfaat darinya, maka saya mengharapkan agar didoakan untuk dapat merealisasikan apa yang saya tuliskan. Kiranya hal ini sejalan dengan syair hikmah Imam al-Khalil Ibn Ahmad, guru Sibawaih, "Lihatlah ucapanku dan bukan amalku. Perkataanku akan memberi manfaat kepadamu, sedangkan kekuranganku dalam hal amal tidak akan memudharatkanmu." [Unzhur li qauli wa la tanzhur ila `amali; yanfa`ka qauli wa la yadhrurka taqshiri.]
Link Lainnya
Information
Untuk informasi singkat seputar blog dan pemiliknya serta penyebab komentar pengunjung belum/tidak ditampilkan maka silahkan melihat: "About Me & This Site". Bagi yang ingin menghubungi pemilik blog dipersilakan mengirimkan email ke: abu_faris_iwan@yahoo.com
Copyright
Sebagai amanat ilmiah, mohon mencantumkan sumber alamat situs ini bagi yang mengutip sebagian atau keseluruhan artikel yang ada.
Statistik Blog
- 32,556 pengunjung

Cinta…
Cinta tak pernah membuat kecewa
sebab sejatinya cinta adalah ketulusan tiada terkira
Kau sampaikan pengharapanmu untuk berada di sisinya
tapi kau biarkan ia terbang arungi dunia
dan kau hanya bisa menunggu kedatangannya
Cinta adalah kau rela menanggung derita, menahan perihnya air mata,
untuk bahagianya
Cinta adalah harapan mulia,
yang membuatmu tidak pernah berhenti berusaha meraihnya
meski cinta sendiri tak pernah memaksa…
Sejatinya cinta adalah lentera, yang mengorbankan dirinya,
untuk menghapus gulita…
adalah angin bertiup manja,
untuk memekarkan kuncup menjadi bunga…
adalah pedang baja,
untuk menebas segala angkara…
Berapa banyak yang mengklaim cinta
Tapi sebenarnya keinginan memiliki semata…
Janganlah kau cintainya hanya karena Sang Kuasa
tapi juga jangan mencintai karena dirinya
Cintailah ia karena-Nya dan karena ia pantas dicinta…
(Jakarta, dalam bus kota di jalanan yang macet, nasehat kepada seorang kawan yang sedang patah hati, 1 Maret 2006)
Bila mungkin, jadilah lentera,
tak mengapa sirna demi cahaya
jelmakan suka cita
atau samudra,
menanggung lara sungai-sungai bermuara
‘tuk tenteram dunia
(Jakarta, 20 Juli 2006)
Masa, zaman, bergulir, berputar, berganti…
Kadang, terhadap tenteram lampau waktu aku rindui…
Kurasa terlalu jauh kulangkah pergi
jelajah bumi…
Tertanya dalam kabut alpa masihkah jalan kembali…
Titi rindang jalan Ilahi…
Masihkah ada bara jiwa ‘tuk bidadari…?
(Jakarta, 15 Agustus 2006)
Bila dunia menusukmu seribu sembilu
Jika ramai pijar menyudutmu sunyi jelaga lorong batu
Masih ada Surga patut dirindu tuk lipur laramu
Bila kilau permata tak sirna hampa kalbu
Jika nanyian rayu tak lagi luluhkan galau
Masih ada taman langit ‘tuk pilihan abadimu
(cuap malam hari di bis kota nan berdebu)
Apa arti pujangga?
Bila kata dianggap sastra
karena ketidakmampuan bicara sewajarnya
Jika ungkapan dianggap istimewa
justru karena keganjilan dari yang biasa
(Jakarta menuju Bekasi, 15 Agustus 2006)
Bila Beda Adalah Murka
Teruntuk saudara yang saling merobek dunia dengan sengketa
Mereka yang dirambah murka saat beda-beda kata terjelma
mengklaim berjalan pada satu-satunya lentera
tanpa siapapun jua
Saat rindang kehormatan jadi semak usang terinjak percuma
Ketika sejuk senyum jelma geram api membuncah angkasa
Bila saja kau sadari bahwa antara kita tak perlu ada bara
Sekiranya kau mengerti indah persahabatan dalam cahaya
Andai saja persaudaraan adalah bak surya sapu gelap dunia
tanpa minta balas jasa
Tentu tak perlu kau rentang jauh luka nan cerca antara kita
Cuma karena beda yang biasa
Sebab kita sama…
(revisi dari luap hati dalam bus kota yang merangkak menembus malam yang mulai mengeja sunyi)
Lorong waktu
Terseretku oleh lorong waktu,
menemuimu
Kupaksamu susuri masa lalu
masuki ruang rindu
tak terawat, berdebu
Ada bekas jejakmu jelas di sana
kau tak melihatnya?
Ada gambarmu terlipat rapi di bilik jiwa
kau tak menyadarinya?
Ada ketika merenda kala dengan tawa
atau duka
Ah, ternyata hari terlalu cepat bergegas pergi
melaju, berlari
untuk merajut sekaligus mengurai benang memori
Tapi, lorong waktu tak pernah terkunci
penghubung aku, kau dan sunyi
(Menuju Jakarta, berangkat kerja, 30 April 2007)
Kabut merambati puncak ini
mencoba menyelimuti
Seperti hati
dari tanya yang memerlukan tanya
mengapa?
(Cidahu, Sukabumi, 29 Juni 2007)
Ada rasa belum terungkap
gundah tak tersingkap
Raut itu…
Apakah cermin waktu lalu?
Kau?
Tidak, sebab tersisa darimu hanya nama
bukan gambar, bayang atau penanda
(Cidahu, Sukabumi, 29 Juni 2007)
Pasti, selalu ‘kan hadir hampa
bila terjelma jauh dari-Nya
Antara kau dan dirimu ada jarak tak berhingga
rentang yang tiada
kehilangan tak berupa
kesepian bernyawa dan bersenyawa
Tak dapat ditolak pun dihindari
meski pergi sejauh bumi
Terdapat luka tak terobati
lubang menganga tak tertutupi
Walau reguk seluruh manis dunia
pada ramai bergempita
Tak pernah ada pilihan bagi kebahagiaan
selain di sanding Sumber Keindahan
(Jum`at, 23 November 2007, dalam bis yang meluncur menuju kota bekasi)
Long Road To Heaven
Waktu berjalan
terasa begitu lambat, pelan
seolah panjang kekekalan
tapi sebenarnya selekas arakan awan
ada, lalu berpendar dalam ketiadaan
Jalan ini penuh payah
berhias darah
hanya saja bisa lebih manis dari madu
namun bagi penikmat rindu
Sedikit sekali yang mencapai
banyak yang terhenti, terkapar, terkulai
Bilakah kita sampai…?
(Di kantor, Jakarta, 28 November 2007)
PUISI MEREKA:
AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
~Sapardi Djoko Damono~
===========================================
PADA SUATU HARI NANTI
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari
~Sapadi Djoko Damono~
===========================================
AKULAH SI TELAGA
akulah Si Telaga
berlayarlah di atasnya
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil
yang menyerakkan bunga-bunga pantai
berlayarlah sambil memandang harunya cahaya
sesampai di seberang sana
tinggalkan begitu saja perahu
biar aku yang menjaganya
~Sapardi Djoko Damono~
===========================================
HUJAN BULAN JUNI
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
~Sapardi Djoko Damono~
===========================================
DOA
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
Cahayamu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara dinegeri asing
Tuhanku
dipintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
November 1943
~Chairil Anwar~
===========================================
AKU
Kalau sampai waktuku
ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
aku tetap meradang menerajang
Luka dan bisa kubawa berlari
berlari
hingga hilang pedih peri
dan aku akan lebih tidak peduli
aku mahu hidup seribu tahun lagi
March 1943
~Chairil Anwar~
===========================================
SEEKOR MERPATI TERLUKA
seekor merpati terluka
hinggap di ujung tombak
tombak pun jadi bunga
yang mengerami doa-doa
di langit merah
membias
diam yang tak bisa kuterka
~D Zawawi Imron~
RELATIVITAS CINTA
Si Dungu menyangka
cinta adalah sama
selamanya
konstan belaka
Itu sabda roman picisan dan titahnya
Si Dungu enggan memahami
segala di hati berfluktuasi
datang, pergi
menurun, mendaki
tiada, ada
Iman, benci, murka pun cinta
Kawan berubah lawan
sejalan laju zaman
Kebencian jadi kerinduan
seiring putaran bulan
Cinta sama dengan benci
sisi relativitas ketakstabilan abadi
Tapi… inilah seni
Adni, 2008 (saat menunggu pesanan, di warung gado-gado kaki lima pinggir jalan)
LELAKI DAN HUJAN
Kelam
tapi belum hitam
padahal malam belum jua mendatang
hanya mendung mengerang
melepas bagian tubuhnya
bergerombol jatuh satu satu
memalu batu
membungakan kelopak seribu
Lelaki itu
menantang angkasa
melontar bara bara
matanya menikam darah
marah yang merah
ke udara ia ledakkan amarah
memendar delapan arah
tapi raungnya tertelan
riuh sinar bentakan
Ia terlambat menyadari
murka yang tak berarti
karena hujan tengah menumbuhkan pelangi…
Adni, Juni 2008
AKSARA DAN KATA
Akulah cinta dipanahkan busur jiwa
Akulah utusan cahaya
Akulah raja yang bertitah di tahta
Akulah ular yang liar berbisa
Akulah jembatan senantiasa di antara
Akulah harapan yang terlahir dan tersirna
Akulah pedang tajam tak berkira
Akulah permohonan tak berhingga
Akulah wajah-wajah berupa-rupa
Kugetar udara
Kucoret lembaran rasa
Kupekerjakan dunia
Kugandeng gulita
Kukobar api membakar suasana
Kugurat suka
Kusepuh luka
Aku terlelap dalam gempita
Aku terbunuh diam bisu memurka
Aku adalah aksara terbelenggu dalam kata…
Adni, Okt 2008 (dalam bis, pulang kerja)
DULU ADA CINTA
Dulu, di sini ada cinta…
ternyata ia air sejuknya menguap udara
atau api hangatnya tak senantiasa menyala
atau musim semi mengantar datangnya masa kebekuan
atau jalan berliku terhenti kebuntuan
Dulu, pernah ada cinta…
ketika bunga hendak mekarkan kuncupnya
saat mentari mulai mendaki edarnya
Dulu, memang ada cinta…
tapi lalu sirna entah ke mana
mungkin ruang waktu menyembunyikannya
18 Okt 2008, dalam bis
HUJAN
Inilah hujan
pimpinan dari arakan mendung kehitaman
rasul kepada kampung kesedihan
penerbit bagi lembar romantisme murahan
Dia bingkisan rahmat-Nya
ia sirami bunga-bunga
ia undang pelangi berwarna
Dia kiriman teguran-Nya
ia seret badai yang meronta
Air mata langit untuk duka di bumi
pasukan yang berempati atas segala tragedi
penyegar sayatan sembilu
pelubang batu-batu
namun pasti, itulah penanda jejakmu…
(Untuk seseorang yang mungkin suatu hari namanya terlupakan, 17 Desember 2008)
Puisi Bangun Tidur
Saat ini
yang kuingin hanya satu
menuliskan kata-kata indah
untuk diriku
dan orang-orang yang mencintaiku
termasuk engkau
tentu saja