Mohon maaf karena komentar Anda tidak diizinkan untuk tampil di sini. Mohon kiranya mengisi komentar di Buku Tamu atau sesuai artikel yang dibaca. Ini adalah halaman yang khusus memuat lintasan pikiran dan perasaan pribadi…

18 Responses to “My Poetry”


  1. 1 Abu Faris October 9, 2007 at 11:58 am

    Cinta…

    Cinta tak pernah membuat kecewa
    sebab sejatinya cinta adalah ketulusan tiada terkira
    Kau sampaikan pengharapanmu untuk berada di sisinya
    tapi kau biarkan ia terbang arungi dunia
    dan kau hanya bisa menunggu kedatangannya
    Cinta adalah kau rela menanggung derita, menahan perihnya air mata,
    untuk bahagianya
    Cinta adalah harapan mulia,
    yang membuatmu tidak pernah berhenti berusaha meraihnya
    meski cinta sendiri tak pernah memaksa…
    Sejatinya cinta adalah lentera, yang mengorbankan dirinya,
    untuk menghapus gulita…
    adalah angin bertiup manja,
    untuk memekarkan kuncup menjadi bunga…
    adalah pedang baja,
    untuk menebas segala angkara…
    Berapa banyak yang mengklaim cinta
    Tapi sebenarnya keinginan memiliki semata…

    Janganlah kau cintainya hanya karena Sang Kuasa
    tapi juga jangan mencintai karena dirinya
    Cintailah ia karena-Nya dan karena ia pantas dicinta…

    (Jakarta, dalam bus kota di jalanan yang macet, nasehat kepada seorang kawan yang sedang patah hati, 1 Maret 2006)

  2. 2 Abu Faris October 9, 2007 at 12:05 pm

    Bila mungkin, jadilah lentera,
    tak mengapa sirna demi cahaya
    jelmakan suka cita
    atau samudra,
    menanggung lara sungai-sungai bermuara
    ‘tuk tenteram dunia

    (Jakarta, 20 Juli 2006)

  3. 3 Abu Faris October 9, 2007 at 12:14 pm

    Masa, zaman, bergulir, berputar, berganti…
    Kadang, terhadap tenteram lampau waktu aku rindui…
    Kurasa terlalu jauh kulangkah pergi
    jelajah bumi…
    Tertanya dalam kabut alpa masihkah jalan kembali…
    Titi rindang jalan Ilahi…
    Masihkah ada bara jiwa ‘tuk bidadari…?

    (Jakarta, 15 Agustus 2006)

  4. 4 Abu Faris October 9, 2007 at 12:18 pm

    Bila dunia menusukmu seribu sembilu
    Jika ramai pijar menyudutmu sunyi jelaga lorong batu
    Masih ada Surga patut dirindu tuk lipur laramu
    Bila kilau permata tak sirna hampa kalbu
    Jika nanyian rayu tak lagi luluhkan galau
    Masih ada taman langit ‘tuk pilihan abadimu

    (cuap malam hari di bis kota nan berdebu)

  5. 5 Abu Faris October 9, 2007 at 12:20 pm

    Apa arti pujangga?
    Bila kata dianggap sastra
    karena ketidakmampuan bicara sewajarnya
    Jika ungkapan dianggap istimewa
    justru karena keganjilan dari yang biasa

    (Jakarta menuju Bekasi, 15 Agustus 2006)

  6. 6 Abu Faris October 9, 2007 at 12:25 pm

    Bila Beda Adalah Murka

    Teruntuk saudara yang saling merobek dunia dengan sengketa
    Mereka yang dirambah murka saat beda-beda kata terjelma
    mengklaim berjalan pada satu-satunya lentera
    tanpa siapapun jua

    Saat rindang kehormatan jadi semak usang terinjak percuma
    Ketika sejuk senyum jelma geram api membuncah angkasa

    Bila saja kau sadari bahwa antara kita tak perlu ada bara
    Sekiranya kau mengerti indah persahabatan dalam cahaya
    Andai saja persaudaraan adalah bak surya sapu gelap dunia
    tanpa minta balas jasa

    Tentu tak perlu kau rentang jauh luka nan cerca antara kita
    Cuma karena beda yang biasa
    Sebab kita sama…

    (revisi dari luap hati dalam bus kota yang merangkak menembus malam yang mulai mengeja sunyi)

  7. 7 Abu Faris October 9, 2007 at 12:30 pm

    Lorong waktu

    Terseretku oleh lorong waktu,
    menemuimu
    Kupaksamu susuri masa lalu
    masuki ruang rindu
    tak terawat, berdebu
    Ada bekas jejakmu jelas di sana
    kau tak melihatnya?
    Ada gambarmu terlipat rapi di bilik jiwa
    kau tak menyadarinya?
    Ada ketika merenda kala dengan tawa
    atau duka
    Ah, ternyata hari terlalu cepat bergegas pergi
    melaju, berlari
    untuk merajut sekaligus mengurai benang memori
    Tapi, lorong waktu tak pernah terkunci
    penghubung aku, kau dan sunyi

    (Menuju Jakarta, berangkat kerja, 30 April 2007)

  8. 8 Abu Faris October 9, 2007 at 4:58 pm

    Kabut merambati puncak ini
    mencoba menyelimuti
    Seperti hati
    dari tanya yang memerlukan tanya
    mengapa?

    (Cidahu, Sukabumi, 29 Juni 2007)

  9. 9 Abu Faris October 9, 2007 at 4:59 pm

    Ada rasa belum terungkap
    gundah tak tersingkap
    Raut itu…
    Apakah cermin waktu lalu?
    Kau?
    Tidak, sebab tersisa darimu hanya nama
    bukan gambar, bayang atau penanda

    (Cidahu, Sukabumi, 29 Juni 2007)

  10. 10 Abu Faris November 27, 2007 at 1:21 pm

    Pasti, selalu ‘kan hadir hampa
    bila terjelma jauh dari-Nya
    Antara kau dan dirimu ada jarak tak berhingga
    rentang yang tiada
    kehilangan tak berupa
    kesepian bernyawa dan bersenyawa
    Tak dapat ditolak pun dihindari
    meski pergi sejauh bumi
    Terdapat luka tak terobati
    lubang menganga tak tertutupi
    Walau reguk seluruh manis dunia
    pada ramai bergempita
    Tak pernah ada pilihan bagi kebahagiaan
    selain di sanding Sumber Keindahan

    (Jum`at, 23 November 2007, dalam bis yang meluncur menuju kota bekasi)

  11. 11 Abu Faris November 28, 2007 at 10:17 am

    Long Road To Heaven

    Waktu berjalan
    terasa begitu lambat, pelan
    seolah panjang kekekalan
    tapi sebenarnya selekas arakan awan
    ada, lalu berpendar dalam ketiadaan
    Jalan ini penuh payah
    berhias darah
    hanya saja bisa lebih manis dari madu
    namun bagi penikmat rindu
    Sedikit sekali yang mencapai
    banyak yang terhenti, terkapar, terkulai
    Bilakah kita sampai…?

    (Di kantor, Jakarta, 28 November 2007)

  12. 12 Abu Faris June 4, 2008 at 8:28 am

    PUISI MEREKA:

    AKU INGIN

    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
    dengan kata yang tak sempat diucapkan
    kayu kepada api yang menjadikannya abu

    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
    dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
    awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

    ~Sapardi Djoko Damono~
    ===========================================

    PADA SUATU HARI NANTI

    pada suatu hari nanti
    jasadku tak akan ada lagi
    tapi dalam bait-bait sajak ini
    kau tak akan kurelakan sendiri

    pada suatu hari nanti
    suaraku tak terdengar lagi
    tapi di antara larik-larik sajak ini
    kau akan tetap kusiasati

    pada suatu hari nanti
    impianku pun tak dikenal lagi
    namun di sela-sela huruf sajak ini
    kau tak akan letih-letihnya kucari

    ~Sapadi Djoko Damono~
    ===========================================
    AKULAH SI TELAGA

    akulah Si Telaga
    berlayarlah di atasnya
    berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil
    yang menyerakkan bunga-bunga pantai
    berlayarlah sambil memandang harunya cahaya
    sesampai di seberang sana
    tinggalkan begitu saja perahu
    biar aku yang menjaganya
    ~Sapardi Djoko Damono~
    ===========================================

    HUJAN BULAN JUNI

    tak ada yang lebih tabah
    dari hujan bulan Juni
    dirahasiakannya rintik rindunya
    kepada pohon berbunga itu
    tak ada yang lebih bijak
    dari hujan bulan Juni
    dihapusnya jejak-jejak kakinya
    yang ragu-ragu di jalan itu
    tak ada yang lebih arif
    dari hujan bulan Juni
    dibiarkannya yang tak terucapkan
    diserap akar pohon bunga itu

    ~Sapardi Djoko Damono~

    ===========================================
    DOA

    Tuhanku
    Dalam termangu
    Aku masih menyebut namaMu

    Biar susah sungguh
    mengingat Kau penuh seluruh

    Cahayamu panas suci
    tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

    Tuhanku

    Aku hilang bentuk
    remuk

    Tuhanku

    aku mengembara dinegeri asing

    Tuhanku
    dipintuMu aku mengetuk
    aku tidak bisa berpaling

    November 1943
    ~Chairil Anwar~
    ===========================================

    AKU

    Kalau sampai waktuku
    ku mau tak seorang ‘kan merayu
    Tidak juga kau

    Tak perlu sedu sedan itu

    Aku ini binatang jalang
    dari kumpulannya terbuang

    Biar peluru menembus kulitku
    aku tetap meradang menerajang

    Luka dan bisa kubawa berlari
    berlari
    hingga hilang pedih peri

    dan aku akan lebih tidak peduli
    aku mahu hidup seribu tahun lagi

    March 1943
    ~Chairil Anwar~
    ===========================================

    SEEKOR MERPATI TERLUKA

    seekor merpati terluka
    hinggap di ujung tombak
    tombak pun jadi bunga
    yang mengerami doa-doa

    di langit merah
    membias
    diam yang tak bisa kuterka

    ~D Zawawi Imron~

  13. 13 Abu Faris June 4, 2008 at 4:56 pm

    RELATIVITAS CINTA

    Si Dungu menyangka
    cinta adalah sama
    selamanya
    konstan belaka
    Itu sabda roman picisan dan titahnya
    Si Dungu enggan memahami
    segala di hati berfluktuasi
    datang, pergi
    menurun, mendaki
    tiada, ada
    Iman, benci, murka pun cinta
    Kawan berubah lawan
    sejalan laju zaman
    Kebencian jadi kerinduan
    seiring putaran bulan
    Cinta sama dengan benci
    sisi relativitas ketakstabilan abadi
    Tapi… inilah seni

    Adni, 2008 (saat menunggu pesanan, di warung gado-gado kaki lima pinggir jalan)

  14. 14 Abu Faris June 9, 2008 at 10:25 am

    LELAKI DAN HUJAN

    Kelam
    tapi belum hitam
    padahal malam belum jua mendatang
    hanya mendung mengerang
    melepas bagian tubuhnya
    bergerombol jatuh satu satu
    memalu batu
    membungakan kelopak seribu
    Lelaki itu
    menantang angkasa
    melontar bara bara
    matanya menikam darah
    marah yang merah
    ke udara ia ledakkan amarah
    memendar delapan arah
    tapi raungnya tertelan
    riuh sinar bentakan
    Ia terlambat menyadari
    murka yang tak berarti
    karena hujan tengah menumbuhkan pelangi…

    Adni, Juni 2008

  15. 15 Abu Faris October 10, 2008 at 7:29 am

    AKSARA DAN KATA

    Akulah cinta dipanahkan busur jiwa
    Akulah utusan cahaya
    Akulah raja yang bertitah di tahta
    Akulah ular yang liar berbisa
    Akulah jembatan senantiasa di antara
    Akulah harapan yang terlahir dan tersirna

    Akulah pedang tajam tak berkira
    Akulah permohonan tak berhingga
    Akulah wajah-wajah berupa-rupa

    Kugetar udara
    Kucoret lembaran rasa
    Kupekerjakan dunia
    Kugandeng gulita
    Kukobar api membakar suasana
    Kugurat suka
    Kusepuh luka

    Aku terlelap dalam gempita
    Aku terbunuh diam bisu memurka
    Aku adalah aksara terbelenggu dalam kata…

    Adni, Okt 2008 (dalam bis, pulang kerja)

  16. 16 Abu Faris October 21, 2008 at 11:11 am

    DULU ADA CINTA

    Dulu, di sini ada cinta…
    ternyata ia air sejuknya menguap udara
    atau api hangatnya tak senantiasa menyala
    atau musim semi mengantar datangnya masa kebekuan
    atau jalan berliku terhenti kebuntuan

    Dulu, pernah ada cinta…
    ketika bunga hendak mekarkan kuncupnya
    saat mentari mulai mendaki edarnya

    Dulu, memang ada cinta…
    tapi lalu sirna entah ke mana
    mungkin ruang waktu menyembunyikannya

    18 Okt 2008, dalam bis

  17. 17 Abu Faris December 17, 2008 at 3:16 pm

    HUJAN

    Inilah hujan
    pimpinan dari arakan mendung kehitaman
    rasul kepada kampung kesedihan
    penerbit bagi lembar romantisme murahan

    Dia bingkisan rahmat-Nya
    ia sirami bunga-bunga
    ia undang pelangi berwarna
    Dia kiriman teguran-Nya
    ia seret badai yang meronta

    Air mata langit untuk duka di bumi
    pasukan yang berempati atas segala tragedi
    penyegar sayatan sembilu
    pelubang batu-batu
    namun pasti, itulah penanda jejakmu…

    (Untuk seseorang yang mungkin suatu hari namanya terlupakan, 17 Desember 2008)

  18. 18 Mujianto December 23, 2008 at 1:44 pm

    Puisi Bangun Tidur

    Saat ini
    yang kuingin hanya satu
    menuliskan kata-kata indah
    untuk diriku
    dan orang-orang yang mencintaiku
    termasuk engkau
    tentu saja

    Sebenarnya bagian ini hanya khusus untuk saya. Pengunjung ‘dilarang’ menulis tulisan di sini. Tapi, buat Kang Muji, dan mengingat puisi yang dituliskan, maka bolehlah diberikan eksepsi. ^_^


Leave a Reply




iB Blogger Competition

 

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Introspeksi I

Allah Ta`ala berfirman (yang artinya): "Dan tidaklah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad), kecuali sebagai rahmat (kasih) kepada semesta alam." [QS. Al-Anbiya': 107] Imam Ibn Taimiyyah berkata, "Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang paling mengetahui al-haqq dan paling mengasihi sesama makhluk." [Minhaj as-Sunnah.] Bagi yang mengklaim bahwa dirinya termasuk kalangan Ahlus Sunnah, maka sudahkah hal tersebut direalisasikan sebagai pijakan dan spirit dasar dalam hal dakwah serta muamalah kepada pihak lain yang berseberangan pendapat?

Introspeksi II

Sungguh mengherankan apabila ada orang yang bersikap keras, intoleran, memaksakan pendapat dan mudah memvonis orang lain dalam perkara yang memungkinkan perbedaan pendapat di dalamnya (khilafiyyah ijtihadiyyah), padahal ia telah membaca berbagai literatur fiqh, ushul fiqh, tafsir, hadits, dll, yang di dalamnya memuat sekian banyak perbedaan pendapat di kalangan ulama. Jika yang bersangkutan belum membaca/menelaah literatur tersebut, maka sejatinya ia sama sekali tidak berkompeten untuk mengeluarkan pendapat, apalagi memvonis orang lain. Namun, apabila ia telah membaca literatur-literatur tersebut akan tetapi masih juga bersikap keras dan intoleran, maka ini adalah musibah... inna li'Llahi wa inna ilaihi raji`un. Penting untuk ditambahkan bahwa yang dimaksud dengan toleransi adalah menghargai perbedaan, dan bukan menyamakan perbedaan.

Introspeksi III

Hendaklah kita berhati-hati dan tidak bermudah-mudah dalam menilai syubhat terhadap suatu pandangan yang berbeda dengan kita, serta dalam memvonis orang lain. Sebab, bisa jadi yang ternyata terkena syubhat itu adalah kita, sehingga oleh karenanya kita menilai kebenaran yang belum kita ketahui sebagai syubhat. Jangan berbaik sangka (husnu'zh zhann) terhadap diri sendiri dan apa yang sudah diketahui, namun sebaliknya berburuk sangka (su'u'zh zhann) terhadap orang lain dan apa yang ia ketahui. Sadarilah betapa sedikitnya yang kita ketahui dari lautan ilmu yang ada, dan bahwa orang lain pun punya kemungkinan untuk benar sebagaimana halnya kita. Hal ini bukan berarti kita berpikir liberal, tidak menyalahkan apa yang jelas salah, merelatifkan segala hal serta menihilkan amr ma`ruf nahy munkar. Namun, tentu tidak benar apabila kita bersikap terlalu ekslusif, menganggap bahwa kebenaran dalam segala hal hanya ada pada kita atau kelompok kita dan menafikan kebenaran dari yang lain. Sesungguhnya kebenaran itu diapit oleh dua kutub kesesatan yang berseberangan secara diametral.

Introspeksi IV

Berapa banyak orang yang mengklaim kebebasan dari fanatisme dan taqlid, namun sejatinya ia hanyalah berpindah dari suatu fanatisme dan taqlid kepada bentuk fanatisme dan taqlid yang lain yang boleh jadi tidak kurang atau bahkan lebih parah dari sebelumnya.

I`tidzar

Apa yang saya tuliskan dalam blog ini bukan berarti telah saya amalkan, khususnya yang berkaitan dengan topik tazkiyatu'n nafs (penyucian jiwa). Namun, saya hanyalah men-share upaya saya yang sangat kurang untuk memperbaiki diri, melalui jalur tulisan. Semoga tulisan tersebut dapat memperbaiki diri saya, secara khusus, dan mereka yang membacanya, secara umum. Bagi yang membacanya dan mengambil manfaat darinya, maka saya mengharapkan agar didoakan untuk dapat merealisasikan apa yang saya tuliskan. Kiranya hal ini sejalan dengan syair hikmah Imam al-Khalil Ibn Ahmad, guru Sibawaih, "Lihatlah ucapanku dan bukan amalku. Perkataanku akan memberi manfaat kepadamu, sedangkan kekuranganku dalam hal amal tidak akan memudharatkanmu." [Unzhur li qauli wa la tanzhur ila `amali; yanfa`ka qauli wa la yadhrurka taqshiri.]

Information

Untuk informasi singkat seputar blog dan pemiliknya serta penyebab komentar pengunjung belum/tidak ditampilkan maka silahkan melihat: "About Me & This Site". Bagi yang ingin menghubungi pemilik blog dipersilakan mengirimkan email ke: abu_faris_iwan@yahoo.com

Copyright

Sebagai amanat ilmiah, mohon mencantumkan sumber alamat situs ini bagi yang mengutip sebagian atau keseluruhan artikel yang ada.

Statistik Blog

  • 32,556 pengunjung

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN DAN PERHATIAN ANDA