Dakwah Salafiyyah (Seharusnya) Merupakan Dakwah Penuh Kasih

Posted: September 14, 2007 in Manhaj, Akhlaq & Dakwah, Umum

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah kami mengutus kamu (wahai Muhammad) melainkan sebagai rahmat (kasih) bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyā`: 107)

Cobat perhatikan siyāq ayat tersebut, eksistensi Nabi SAW bukan hanya sbg rahmat bagi kaum muslimin saja, namun sebagai rahmat bagi seluruh manusia, bahkan seluruh alam semesta, termasuk musuh sekalipun. Karena itu, ajaran beliau adalah ajaran kasih. Din al-Islam adalah rahmat. Hal ini tidak mungkin dipungkiri seorang muslim.

Ahlus Sunnah sebagai pembawa dan penerus terbaik ajaran Nabi SAW sudah seharusnya memiliki sifat tersebut, sifat merahmati (mengasihi) dan menyebarkan rahmat (kasih). Ahlus Sunnah, adalah sebagaimana disifati oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dalam ucapan emasnya: a’lamu bil haqq wa arhamu bil khalq (paling mengetahui al-haqq dan paling kasih terhadap makhluk). [Minhāj as-Sunnah, vol. V, hal. 158]

Lantas, bagaimana dengan wajah Dakwah Salafiyyah, yang (seharusnya) merupakan sinonim dari Dakwah Ahlus Sunnah, saat ini? Ternyata, tidak dapat dipungkiri telah terbentuk stigma dan opini publik yang negatif pada banyak kaum muslimin bahwa dakwah tersebut tidak humanis, kaku, berperangai keras, mudah menghujat, dan seterusnya.

Pembentukan bad image tersebut tidak lepas oleh dua faktor:

Pertama: Faktor Eksternal; yaitu isu dan propaganda yang dihembuskan oleh pihak-pihak yang tidak menyukai perkembangan Dakwah Salafiyyah, semisal JIL, Syi’ah, dan lain-lain.

Kedua: Faktor Internal; yaitu kesalahan implementasi Dakwah Salafiyyah yang dilakukan oleh orang-orang yang berafiliasi kepadanya. Hal ini merupakan realitas, ada dan nyata, yang tidak akan dipungkiri oleh orang-orang yang memiliki pemikiran objektif.

Mungkin dapat dikatakan bahwa penyebab utama dari terciptanya bad image dari faktor internal adalah terbentuknya paradigma bahwa seorang Ahlus Sunnah dituntut untuk bersikap keras kepada Ahl al-Bid’ah. Memang benar, terdapat banyak sekali atsar dan riwayat dari Salaf mengenai sikap keras kepada Ahl al-Bid’ah. Namun, pertanyaannya, siapakah yang pantas disebut Ahl al-Bid’ah? Bagaimana kriterianya? Apakah spirit yang melatarbelakangi sikap keras Salaf tersebut? Apakah sikap keras tersebut bersifat mutlak, tidak dapat diganggu gugat dan harus diimplementasikan dalam kondisi apapun, ataukah membutuhkan rincian, persyaratan dan penjelasan? Yang membuat keadaan menjadi runyam adalah munculnya mereka yang ‘sok meniru’ sikap keras Salaf, tanpa merenungkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas.

Jika kita mengacu pada ayat al-Qur`an di atas, dan sangat banyak sekali dalil-dalil lain yang senada dengannya, kemudian ucapan Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah, maka dapat dikatakan bahwa sikap keras Salaf tersebut tidak keluar dari koridor semangat untuk menyebarkan kasih dan rahmat. Kasih sayang tidak selalu harus melahirkan sikap lemah lembut, dan dapat melahirkan sikap keras apabila memang kondisinya menuntut hal itu. Hal ini sebagaimana seorang ayah yang terkadang memarahi, menjewer, bahkan memukul anaknya, justru karena rasa kasihnya terhadap sang anak. Sebab sang ayah mengharap kebaikan bagi sang anak. Demikian pula dengan sikap keras Salaf terhadap Ahl al-Bid’ah. Hal itu terlahir dari kasih dan rahmat kepada kaum muslimin pada umumnya, agar tidak terkontaminasi oleh bid’ah dan tetap di atas kebenaran; sekaligus juga merupakan kasih dan rahmat kepada Ahl al-Bida’, agar mereka sadar dan berhenti dari kebid’ahan.

Sikap keras terhadap Ahl al-Bid’ah juga bukanlah hal yang dapat dilakukan secara serampangan, namun harus memperhitungkan aspek maslahat dan mudharat, sebagaimana dijelaskan secara gamblang oleh Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili dalam Mauqif Ahl as-Sunnah wal Jama’ah min Ahl al-Ahwa` wal Bida’. Hukum asal dalam sikap antar sesama muslim adalah kasih sayang dan lemah lembut, sehingga sikap keras kepada Ahl al-Bid’ah, yang mayoritasnya masih muslim, merupakan pengecualian (istitsnā`) dari hukum asal, karena diharapkan adanya maslahat yang lebih besar dari sikap keras tersebut. Begitu pula dengan hukum asal kehormatan seorang muslim atas muslim lainnya, haram untuk dilanggar. Terlalu banyak dalil yang menegaskan universalitas hukum asal di atas. Karena itu, sikap keras kepada Ahl al-Bid’ah (setelah terbukti bahwa yang bersangkutan memang adalah Ahl al-Bid’ah) dan melanggar kehormatannya tidak dibenarkan kecuali apabila dengan hal tersebut terealisir kemaslahatan yang lebih besar.

Mungkin, dalam tataran teoritis, kita semua sepakat dengan penjelasan di atas. Namun, bagaimana dengan tataran implementatif dan aplikatif?

Dalam menyikapi banyaknya jama’ah-jama’ah yang ada saat ini, apabila semangat menyebarkan rahmat dan kasih sayang yang kita kedepankan, maka kita akan berusaha sebaik mungkin untuk mengajak manusia kepada kebenaran, dengan mempertimbangkan maslahat dan mudharat yang ada. Namun, apabila yang menjadi semangat dan latar belakang adalah bagaimana cara menghancurkan jama’ah tertentu, maka yang keluar dari kita adalah vonis dan celaan, tanpa memperhatikan komparasi antara maslahat dan mudharat di balik hal itu.

Saudara-saudara kita yang bersikap keras terhadap orang-orang yang menyelisihi mereka biasanya berdalil dengan sikap keras Nabi SAW dalam sebagian kasus terhadap orang-orang tertentu. Namun mereka tidak menyadari bahwa yang sikap yang dominan dalam diri Nabi SAW adalah kasih dan lemah lembut, meskipun terhadap orang-orang yang menyelisihi beliau. Mereka seharusnya mengintrospeksi diri, jika mereka mengaku meneladani Nabi SAW, maka sudahkah sifat kasih dan lemah lembut menjadi sikap serta karakter yang dominan dalam diri dan dakwah mereka? Kalaupun Nabi SAW bersikap keras maka hal itu bersifat kasuistik, bukan hal yang dominan, dan itu pun karena dalam sikap keras Nabi SAW terdapat maslahat yang besar.

Intinya, saya ingin mengajak saudara-saudaraku sekalian untuk menjadikan semangat menyebarkan kasih (rahmat) sebagai landasan dalam dakwah mereka, sebagaimana tujuan dari diutusnya Nabi SAW. Sekaligus juga mengajak saudara-saudara mereka untuk menerapkan hal serupa. Saya melihat, bahwa orang-orang yang berafiliasi kepada manhaj Salaf lebih didominasi dengan menasehati dan meluruskan orang-orang ‘di luar’ mereka, dibandingkan menasehati dan meluruskan ‘sesama’ mereka dalam sebagian permasalahan yang merupakan cerminan dari kesalahan manhaj, seperti penggunaan sikap keras dalam dakwah bukan pada tempat dan kondisi yang semestinya, pemberian vonis atas individu tertentu dari orang-orang yang bukan ahlinya, fenonema fanatisme terhadap Ustadz tertentu, dan lain-lain.

Rasanya sudah saatnya kita melakukan konsolidasi dan perbaikan di kalangan internal. Sudah saatnya kita tunjukkan bahwa dakwah salaf adalah dakwah kasih (rahmat) bukan dakwah yang keras apalagi beringas.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk al-ladzina yastami’unal qaula fa yattabi’una ahsanah (mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya) (QS. Az-Zumar: 18)

WaLlāhu a’lam bish shawab.

Abu Faris an-Nuri

abu_faris_iwan@yahoo.com

Comments
  1. orgawam says:

    Dakwah salafiyah itu di tanah air penuh kasih. Fakta sejarah, itulah dakwah sebelum wali songo..seperti Syeikh Maulana Maghribi, Syeikh Maulana Ishak, Syeikh Jumadil Qubra. Beliau2 yang hidup dikurun sekitar 800 H atau kurang, para pendakwah yang berjuang demi ridlo Ilahi. Kemudian diteruskan oleh murid2nya, yaitu para wali yang membentuk wali songo. Itulah dakwah yang insya Allah salafiyah.

    Kalau sekarang… ehm .. sudah tidak ada lagi generasi salaf. Mencoba mencontoh salaf mungkin iyaa… tapi siapa bisa jamin. Semua orang mengaku sebagai ahlu sunnah waljamaah. Oleh karena itu…. jangan2 yg dituduh ahli bid’ah itu justru malah pewaris salaf yang sebenarnya.

    Saya sependapat dengan Bapak untuk berhati-hati dalam memvonis orang lain sebagai ahli bid’ah.

    Terkait dengan banyaknya orang yang menisbatkan diri mereka kepada Ahlus Sunnah atau mengaku sebagai pengikut Salaf, maka perkaranya adalah sebagaimana dikatakan dalam syair,
    وكل يدعي وصلا بليلى وليلى لا تقر لهم بذاك
    Dan setiap orang mengklaim punya hubungan dg Laila
    Padahal Laila sendiri tidak mengakuinya

    Mudah2an Allah menunjuki kita semua untuk berada dalam barisan Ahlus Sunnah (golongan yg selamat) yang sebenarnya, di tengah gelombang perbedaan dan perpecahan kaum muslimin.

    Salam,
    Abu Faris

  2. ustadzkholid says:

    Akh Adni, ana senang dapat alamat antum ini. dan memang demikian ahlusunnah itu yang lebih tahu kebenaran dan lebih rahmat kepada manusia.

    AlhamduliLlah…. Maaf, apakah ini adalah guru saya yang mulia, Ustadz Kholid Syamhudi? Kalau benar, maka sangat diharapkan ifadah dan mulahazhat dari Antum. BarakaLlahu fikum.

  3. abuamincepu says:

    Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh

    Salam silaturahim dan ta’aruf ahki yang budiman, semoga beginilah semua dakwah salafiah penuh dengan kesabaran dan kasih sayang, karena dengannya akan diiringi kemenagan, insyalloh.

    Barokallohufiikum.

    Alfakir ilm’ Abu Amin
    http://abuamincepu.wordpress.com/

  4. abuhaedar says:

    Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh

    Salam taaruf akhi….

    Wa’alaikumussalam warahmatuLlahu wabarakatuh wamaghfiratuh… Salam ta’aruf juga Akhi… ‘Afwan baru bales, soale baru bisa nulis tanggapan balik dg cara beginian. Maklum lah gaptek :p

  5. Assalamu’alaikum, salam kenal. Semoga bermanfaat blognya.
    Barakallohu fiik

    Wa’alaikassalam warahmatuLlah… salam kenal juga, wafika barakaLlahu…

  6. Haitan Rachman says:

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Salafush sholeh terutama gererasi para Shahabat RA yang telah dinyatakan jelas-jelas tentang kesuksesan beliau-beliau itu oleh Allah swt dan juga Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, merupakan generasi yang patut dicontoh dengan baik.

    Dan mungkin saja ada sebagian manusia yang berkeinginan ISTILAH itu menjadi kurang tepat untuk kaum muslimin. Disinilah peran Da’wah itu sendiri menjadi kunci untuk membangun kembali karakter-karakter yang telah dimiliki oleh generasi tersebut.

    Salam kenal,
    Haitan Rachman
    http://haitanrachman.wordpress.com
    http://usahadawah.wordpress.com

    Wa’alaikumu’ssalam warahmatu’Llahi Wabarakatuh… Salam kenal juga

  7. abi says:

    bismillah ..
    mas klo bisa sholallahu alaihi wa sallam jgn disingkat jd SAW ..
    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/03/fatwa-asy-syaikh-ibnu-utsaimin.html

    syukran, tp sy punya pdapat yg agak bbeda dalam hal ini. bisa dilihat di: http://salafyitb.wordpress.com/2007/04/17/tentang-menyingkat-kalimat-salam/

  8. […] bid`ah) yang dilakukan serampangan oleh sebagian reformis (saya telah menyinggung masalah ini dalam tulisan saya sebelumnya). Ini adalah kesalahan yang seharusnya […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s