Nuzulul Qur’an: Membaca dan Peradaban!

Posted: September 28, 2007 in Seputar Puasa & Lebaran, Tafsir & Tadabbur al-Qur'an, Umum

Salah satu momen terpenting yang terjadi di bulan Ramadhan nan mulia adalah peristiwa diturunkannya al-Qur`ān. Mengingat pentingnya peristiwa tersebut, banyak masyarakat sampai-sampai membuat peringatan ritual terkait peristiwa itu, yang mereka yakini jatuh pada tanggal 17 Ramadhan dan mereka namakan dengan peringatan Nuzūlul Qur`ān. Namun pada kesempatan kali ini saya tidak akan membahas kebid’ahan dan ketidaksesuaian acara dimaksud dalam tinjauan syariat—menurut pendapat yang benar in syā-aLlāh. Hal ini mengingat sudah terdapat cukup banyak tulisan dari ulama dan para ustadz yang membahasnya. Tulisan singkat saya kali ini adalah seputar sebagian hikmah dari ayat al-Qur`ān yang pertama kali diturunkan dan korelasinya dengan peradaban manusia.

Kita ketahui bersama bahwa ayat al-Qur`an yang pertama kali diterima oleh Nabi ` adalah ayat 1-5 dari surat al-‘Alaq:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ {1} خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ {2} اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ {3} الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ {4} عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ {5}

[1] Bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan. [2] Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. [3] Bacalah, dan Rabbmulah yang maha mulia. [4] Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. [5] Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Surat yang pertama turun tersebut dimulai dengan kata: iqra`; perintah untuk membaca. Dapat dipahami dari hal ini bahwa Allah mengisyaratkan kepada hamba-Nya bahwa membaca adalah awal atau kunci pembuka segala sesuatu bentuk kebaikan.

Kata imperatif iqra` (bacalah!) berasal dari kata qara-a, yang makna dasarnya adalah mengumpulkan atau menghimpun (jama’a). Kata al-Qur`an juga berasal dari akar kata yang sama. Filosofinya, ketika seseorang membaca berarti ia tengah menghimpun huruf-huruf yang tertera atau tengah mengumpulkan informasi dari objek yang dibaca.

Terkait dengan perintah membaca pada ayat yang pertama turun, maka tidak disebutkan objek bacaan, namun hanya menyebut pengedepanan motivasi sekaligus tujuan membaca, yaitu bismi Rabbikal ladzī khalaq (dengan nama Rabbmu yang menciptakan). Dengan demikian, ayat tersebut mengisyaratkan bahwa objek bacaan tersebut bersifat umum, apapun itu, asalkan dapat dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Bagaimana dengan objek bacaan yang memuat keburukan? Penting kiranya untuk dibedakan antara objek bacaan yang menginformasikan hal-hal buruk untuk diketahui oleh si pembaca, dan objek bacaan yang pada dasarnya buruk, semisal majalah porno, dan sebagainya. Adapun kondisi yang pertama, maka tidak mengapa. Sebab dengan mengetahui keburukan maka seseorang dapat menjaga diri darinya. Karena itulah Hudzaifah Ibn al-Yaman pernah berkata,

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي.

Dahulu orang-orang (para Sahabat) bertanya kepada Rasulullah ` tentang kebaikan. Sementara aku menanyakan kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir terjerumus ke dalamnya.” [Riwayat al-Bukhāri (III/1319) no. 3411; Muslim (III/1475) no. 1847; dan lain-lain]

‘Umar Ibn al-Khaththāb berkata, “Sesungguhnya simpul Islam itu akan terurai satu per satu apabila seseorang itu tumbuh besar dalam Islam sedangkan ia tidak mengetahui jahiliyyah.” [Al-Fawā`id, hal. 109 dan al-Jawāb al-Kāfī, hal. 152]

Hal ini juga selaras dengan ucapan penyair,

عَرَفْتُ الشَّرَّ لاَ لِلشَّرِّ لَكِنْ لِتَوَقِّيْهِ

        وَمَنْ لَمْ يَعْرِفِ الشَّرَّ مِنَ النَّاسِ يَقَعُ فِيْهِ

Aku mengetahui keburukan bukan untuk keburukan,

        namun untuk menjaga diri darinya.

Karena barangsiapa yang tidak mengetahui keburukan,

        niscaya ia akan terjatuh ke dalamnya.

[Lihat Miftāh Dār as-Sa’ādah (I/296) dan Ihyā` ‘Ulūm ad-Dīn (I/77)]

Perhatikan kembali susunan ayat di atas. Awalnya, hanya disebutkan Rabb yang menciptakan, tanpa menciptakan objek ciptaan, dimana hal ini memberikan faidah keumuman, yaitu mencakup segala macam makhluk ciptaan. Namun ayat selanjutnya menyebutkan bahwa Rabb tersebut menciptakan manusia. Ini merupakan bentuk pemuliaan manusia di atas makhluk ciptaan yang lain.

Ayat berikutnya menegaskan kembali perintah untuk membaca diikuti oleh penyebutan Rabb yang maha mulia (akram). Hal ini menegaskan agungnya perbuatan membaca sekaligus secara implisit mengisyaratkan bahwa apabila manusia ingin mulia maka ia harus membaca, serta bahwa sebab pemuliaan manusia di atas makhluk ciptaan lainnya diantaranya adalah karena membaca, disamping menulis—sebagaimana disebut pada ayat sesudahnya.

Membaca merupakan gerbang segala ilmu pengetahuan, sedangkan ilmu merupakan sumber perkembangan peradaban di dunia sekaligus sumber kebahagiaan dan kejayaan di dunia dan akhirat. Imam asy-Syāfi’i telah mensinyalir hal tersebut melalui ucapan beliau, “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah ia mencari ilmu dan barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaklah ia mencari ilmu.” [Nasyr Thayyit Ta’rīf fī Fadhl Hamalah al-‘Ilm asy-Syarīf hal. 162]

Merupakan fakta yang diterima oleh semua orang bahwa tingkat peradaban suatu bangsa berbanding lurus dengan tingkat ilmu pengetahuannya, sedangkan pintu gerbang pertama dan utama ilmu pengetahuan adalah dengan membaca.

Karena ilmu pengetahuan maka umat Islam mencapai masa kejayaan dan menjadi pusat peradaban pada masa Dinasti ‘Abbasiyyah (abbasid caliphates), yaitu sekitar 750-1250 M; ketika Barat justru sedang mengalami zaman kegelapan (dark ages).

Zaman kegelapan di Barat bermula dari kejatuhan raja Romulus Augustulus pada tahun 476 M. Barulah sekitar 1000 tahun kemudian timbul era modernisasi di Barat, yang dikenal dengan istilah renaissance. Mengikut pendapat yang lain era modern dimulai pada tahun 1453 yaitu ketika kota Konstantinopel jatuh ke tangan kaum muslimin.

Dalam The Story of Medicine, Victor Robinson mengisahkan tentang Zaman Kegelapan bahwa Eropa gelap pada waktu malam sementara Cordova, yang dikuasai kaum muslimin, bermandikan cahaya. Eropa dalam kondisi kotor sedangkan Cordova membangun seribu tempat mandi. Eropa dipenuhi serangga sedangkan penduduk Cordova menukar pakaian dalam mereka setiap hari. Tokoh-tokoh Eropa tidak mengetahui cara menandatangani nama sendiri sedangkan anak-anak di Cordova sudah ke sekolah. Tokoh-tokoh agama di Eropa tidak cara tahu membaca risalah Kristiani sementara ulama Islam di Cordova menuliskan literatur-literatur ilmiah dalam format besar.

Banyak peneliti Barat tidak menyukai penggunaan istilah dark ages (zaman kegelapan). Mereka lebih menyukai istilah middle ages (zaman/abad pertengahan). Dalam The History of The Arabs, Philip K. Hitti berkata, “Orang Islam Spanyol berjaya mencatat sejarah intelektualitas yang agung di zaman pertengahan dahulu. Merekalah sebenarnya pembawa obor budaya dan tamadun bagi seluruh dunia terutamanya antara abad kelapan dan tiga belas Masehi.”

Selepas sekian lama berada di zaman kegelapan, akhirnya Barat mengalami era modernisasi yang dikenal dengan renaissance. Kata renaissance berasal dari bahasa Perancis yang berarti rebirth atau kelahiran kembali. Ia merupakan zaman kebangkitan budaya dan ilmu di Eropa yang berlaku pada kurun waktu sekitar tahun 1300 dan 1600 Masehi. Zaman kebangkitan ini bermula di Italia, sebelum berkembang ke Jerman, Perancis dan Inggris. Pada awalnya, kebangkitan ini bertumpu pada bidang seni dan sastra.

Pada abad XVII Masehi lahirlah para saintis besar di Barat seperti Galileo, William Harvey, Isaac Newton dan Robert Boyle. Mereka melahirkan metodologi sains yang dianggap baru dan dengan demikian meledaklah ilmu sains di Barat, meskipun di awal perkembangannya harus berkonfrontasi dengan gereja. Selepas itu Barat tidak pernah menoleh ke belakang lagi dan terus mengembangkan modernisasi sampai hari ini.

Marquis of Dufferin and Ava dalam Speeches berkata, “Eropa berhutang budi kepada sains, seni dan sastera Islam. Faktor-faktor itulah yang menyebabkan Eropa akhirnya keluar dari kegelapan zaman pertengahan.”

Perkara yang sarna dinyatakan oleh Dr. Roben Briffault dalam The Making of Humanity pada bab Dar Al-Hikmet. Dia berkata, “Roger Bacon bukanlah tokoh yang memperkenalkan konsep eksperimen dalam ilmu. Beliau hanyalah merupakan anak murid kepada sains dan metodologi Islam, dan ilmu yang beliau peroleh ini kemudian dia kembangkan ke Barat. Dia tidak pernah jemu untuk mengatakan bahawa bahasa Arab dan sains Arab adalah satu-satunya pintu bagi mereka di zamannya untuk mengenali ilmu yang hakiki…. Sumbangan dari tamadun Arab kepada dunia moden yang paling bermakna ialah sains.”

Memang benar, tanpa Islam Barat tidak akan mengenal sains dan teknologi. Mari kita simak apa yang dikatakan oleh Robert Briffault dalam The Making of Humanity pada bab Dar Al-Hikmet. Dia berkata, “Di bawah naungan konsep toleransi agama, golongan Kristian hidup penuh kebebasan di bawah pemerintahan khalifah Islam di Spanyol…. Pelajar-pelajar Kristian dari pelbagai pelosok Eropa datang ke negara Arab ini untuk belajar. Alvaro, seorang paderi kanan di Cordova, menulis pada abad ke-9 Masehi, ‘Kesemua pelajar Kristian yang berbakat ini mengetahui bahasa dan kesusasteraan Arab. Mereka membaca dengan penuh minat buku-buku karangan orang Arab dan berasa amat kagum dengan kesusasteraannya’. Gerbert of Aurillac membawa beberapa bahan tentang astronomi dan matematik dari Spanyol untuk mengajar anak-anak muridnya tentang alam serta sistem cakrawala.”

Selanjutnya dalam buku yang sama, pada bab Rebirth of Europe, dia berkata, “Orang-orang Arab memperkenalkan tiga ciptaan untuk Eropa. Setiap ciptaan ini kemudian melahirkan revolusi teknologi yang tersendiri di peringkat global. Pertama adalah kompas (mariners compass). Dengannya Eropa berkembang ke seluruh pelosok dunia. Kedua adalah bubuk bedil (gun powder). Dengannya berakhirlah era pahlawan berkuda dengan baju perisainya. Ketiga adalah kertas (paper), yang membuka jalan kepada ciptaan alat-alat penerbitan yang canggih.”

Demikianlah Islam memberi andil dalam peradaban dan ilmu pengetahuan dunia. Pencapaian (achievement) yang sedemikian tentu tidak lepas dari semangat membaca yang telah ditanamkan oleh Islam sejak permulaan risalah melalui wahyu yang pertama kali diturunkan.

Kejayaan Islam kemudian mengalami penurunan sangat drastis terutama sejak keruntuhan Dinasti ‘Abbasiyyah akibat serangan Hulagu Khan ke Baghdad pada tahun 1258 M (Muharram 656 H)—dibantu oleh pengkhianatan menteri bernama Ibn al-‘Alqami, dari sekte Syī’ah Rāfidhah, semoga Allah membalas segala kejahatan, keburukan dan bencana yang ia telah timpakan terhadap kaum muslimin. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli sejarah mengenai korban yang tewas. Paling sedikit delapan ratus ribu jiwa, dan ada pula yang mengatakan mencapai sejuta jiwa, bahkan jauh lebih banyak dari itu.

Sungai di Baghdad berubah menjadi warna merah kehitaman. Merah karena darah dan hitam karena tinta. Perpustakaan Baghdad luluh lantak. Para peneliti menyebutkan bahwa literatur Islam yang hancur ketika itu jauh lebih banyak dibandingkan seluruh literatur Islam yang selamat sampai saat ini. Dan dari literatur yang selamat tersebut, jauh lebih banyak yang masih berupa manuskrip dibandingkan dengan yang sudah dicetak.

Akhirnya, keunggulan kejayaan peradaban Islam hanyalah menjadi romantisme sejarah….

Saat ini, dapat dikatakan bahwa ketertinggalan negeri-negeri kaum muslimin dibandingkan Barat adalah disebabkan ketertinggalan human resources (sumber daya manusia) karena kurangnya ilmu pengetahuan, di mana salah satu faktor terpenting yang paling berpengaruh dalam hal ini adalah rendahnya minat baca.

Sekali lagi, sejarah peradaban manusia dikemudikan oleh kegiatan membaca. Minat baca yang rendah akan berimplikasikan pada rendahnya sumber daya manusia. Rendahnya sumber daya manusia akan mempengaruhi tingkat kemajuan suatu bangsa. Dengan kata lain, sebuah peradaban manusia ditentukan oleh sumber daya manusianya, sedangkan di sisi lain sumber daya manusia sangat dipengaruhi oleh kemampuan membacanya.

Terkait dengan minat baca di Indonesia, negeri kita, maka dapat dilihat dari posisi Indonesia pada aspek penilaian Human Development Index (IPM: Indeks Pembangunan Manusia) pada tahun 2003 menempati posisi nomor 112 dari 175 negara. Begitu juga dari kategori The Politic Economic Risk Constitution (PERC) 2003. Indonesia menempati posisi ke 12 dari 12 negara. Budaya membaca kita masih rendah juga tercermin dari, misalnya, realitas penerbitan buku di Indonesia belum ada apa-apanya dibanding Amerika Serikat atau Inggris. Pada pertengahan 1990-an saja masing-masing negara ini dalam sebulan mampu menerbitkan 100.000 dan 61.000 judul, sedangkan negara kita hanya sanggup menerbitkan buku kurang dari 10 ribu judul setiap tahun.

Sastrawan kondang, Taufik Ismail, melalui observasinya terhadap beberapa siswa SD di kawasan ASEAN, mengatakan bahwa anak-anak Indonesia rabun membaca dan lumpuh menulis. Kenyaatan ini sungguh mengerikan di tengah adanya kekhawatiran para ahli pendidikan tentang terjadinya generasi yang hilang (the loss generation) di negeri kita.

Fakta tersebut didukung dengan berbagai penelitian yang telah dilakukan di Indonesia. Di samping hasil penelitian yang telah disebutkan sebelumnya, International Education Achievement (IEA) melaporkan bahwa kemampuan membaca siswa SD Indonesia berada pada urutan 38 dari 39 negara peserta studi. Menurut Third International Mathematics and Science Study (TIMMS), kemampuan matematika para siswa SLTP kita berada pada urutan 34 dari 38 negara dan kemampuan IPA berada pada urutan 32 dari 38 negara. Berdasarkan Education for All Global Monitoring Report tahun 2005, Indonesia merupakan negara ke-8 dengan populasi buta huruf terbesar didunia, yakni sekitar 18,4 juta orang (Kompas, 20 juni 2006). Terkait dengan masalah membaca, fakta lain adalah laporan tingkat keterbacaan halaman buku di Indonesia yang tidak mencapai satu halaman per hari perorang.

Akhirnya, penting untuk kita tanamkan bahwa membaca adalah simbol kemajuan sebuah peradaban. Ia membedakan peradaban maju dengan primitif, antara negara maju dan negara berkembang. Melihat begitu pentingnya membaca, ia pun dijadikan salah satu indeks bagi pembangunan manusia, yang sering dijadikan ukuran keberhasilan pembangunan sebuah negara. Dengan demikian, tampaklah salah satu hikmah mengapa Allah Ta’āla menurunkan wahyu pertama dengan perintah membaca. Semoga hal ini dapat menjadi concern kita bersama.

Demikian, semoga ada faidahnya, waLlāhu a’lam bish shawāb….

Salam,

Abu Faris An-Nuri

NB:

Perintah untuk membaca yang dimaksud dalam ayat di atas adalah bersifat umum, tidak hanya terbatas dalam bentuk membaca buku atau memahami tulisan, meskipun hal itu adalah yang pemaknaan yang sangat utama untuk diberlakukan. Membaca yang dimaksud adalah mencakup mengamati situasi dan kondisi serta meneliti semesta raya nan indah. Sekiranya perintah tersebut hanya terbatas untuk membaca sebagaimana yang lazim dikenal, tentulah Nabi ` akan senantiasa berusaha membebaskan diri dari kondisi ummi (buta huruf) dalam rangka memenuhi perintah tersebut. WaLlāhu a’lam bish shawāb.

Sebagian informasi yang terdapat pada tulisan di atas berasal dari sejumlah situs yang dapat dilacak dengan sarana search engine semisal “mbah” google, dengan memasukkan key word yang sesuai.

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s