Menerima Kebenaran dari Manapun dan Siapapun

Posted: October 8, 2007 in Manhaj, Akhlaq & Dakwah, Umum

Allah Ta’ālā berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Māidah)

Termasuk keadilan yang sangat utama adalah mengatakan kebenaran sebagai kebenaran dan menerimanya. Dari manapun datangnya. Sekalipun dari musuh dan orang yang dibenci. Serta mengatakan kesalahan sebagai kesalahan dan menolaknya. Dari manapun datangnya. Sekalipun dari sahabat dan orang yang dicintai. Demikianlah manhaj dan sunnah Nabi ` beserta para Sahabat. Inilah keadilan yang mungkin sangat sulit direalisasikan pada zaman ini, dimana semangat fanatisme kelompok (hizbiyyah) tengah melanda banyak kaum muslimin.

Disebutkan bahwa Yahudi mendatangi Nabi ` dan berkata, “Kalian melakukan kesyirikan dan menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah!” Nabi ` bertanya, “Mengapa bisa demikian?” Yahudi menjawab, “Kalian berkata, ‘Demi Ka’bah!’ Dan kalian juga berkata, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak Fulan!’” Maka Nabi ` memerintahkan kepada para Sahabat apabila bersumpah agar mengucapkan: ‘Demi Rabb Ka’bah!’ Serta agar mereka mengatakan: ‘Atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu.”” [Riwayat an-Nasā’i VII/6/3773 dan lain-lain. Dinyatakan valid oleh Syaikh al-Albāni]

Disebutkan pula bahwa seorang rahib Yahudi pernah mendatangi Nabi ` dan berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya kami mendapati bahwa Allah menjadikan (dalam riwayat lain: menahan) seluruh langit atas satu jari, seluruh bumi atas satu jari, pepohonan atas satu jari, air dan tanah atas satu jari, dan seluruh makhluk atas satu jari, lalu Dia berkata, ‘Akulah Sang Raja!’” Maka tertawalah Nabi ` sampai tampak geraham beliau karena membenarkan ucapan rahib tadi. Kemudian beliau membaca firman Allah:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Dia lagi maha tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS.Az-Zumar: 67) [Riwayat al-Bukhāri IV/1812/4553, dari Ibn Mas’ūd]

Demikian pula terdapat kisah masyhur dari Abū Hurairah yang diajari oleh setan untuk membaca Ayat Kursi sebelum tidur agar mendapat penjagaan dari Allah sampai pagi hari. Ketika ia menyampaikan hal tersebut kepada Nabi `, beliau berkata, “Dia jujur mengabarkan kebenaran kepadamu, padahal ia (setan itu) adalah pendusta.” [Riwayat al-Bukhari secara mu’allaq II/812/2187, dan disambungkan oleh an-Nasā’i, al-Ismā’ili dan Abū Nu’aim, sebagaimana disebutkan oleh Ibn Hajar dalam Fathu’l Bārī. Lihat: Mafātīhu’l Fiqh fi’d Dīn hal. 99]

Perhatikan bagaimana Nabi ` mengakui dan menerima kebenaran sekalipun dari Yahudi dan setan—la’anahumuLlah.

Dari ‘Ali Ibn Abī Thālib, bahwa beliau berkata,

لاَ تَعْرِفِ الْحَقَّ بِالرِّجَالَ اعْرِف الْحَقّ تَعْرِفْ أَهْلَه

“Janganlah mengenal kebenaran itu berdasarkan individu-individu tertentu. Kenalilah kebenaran itu niscaya engkau akan mengenal pemiliknya.” [Ihyā’ ‘Ulūmi’d Dīn, vol. I, hal. 53]

Dari Ibn Mas’ūd, beliau berkata,

مَنْ جَاءَكَ بِالْحَقِّ فَاقْبَلْ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا بَغِيْضًا وَمَنْ جَاءَكَ بِالْبَاطِلِ فَارْدُدْ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ حَبِيْبًا قَرِيْبًا

“Barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebenaran maka terimalah kebenaran itu darinya, meskipun ia adalah orang yang jauh dan dibenci. Dan barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebatilan maka tolaklah, meskipun ia adalah orang yang dicintai dan dekat.” [Lihat: Shifah ash-Shafwah, vol. I, hal. 419; dan al-Fawā’id, hal. 148]

Beliau juga berkata,

الْحَقّ ثَقِيْلٌ مَرِيْءٌ وَالْبَاطِلُ خَفِيْفٌ وَبِيْءٌ

“Kebenaran itu berat namun berakibat baik, sedangkan kebatilan itu ringan namun berakibat buruk.” [Shifah ash-Shafwah, vol. I, hal. 419-420]

Imam asy-Syāfi`i berkata, “Tidaklah seseorang bersikeras menentangku dan menolak kebenaran melainkan ia jatuh dalam pandanganku, sedangkan tidaklah seseorang menerima kebenaran tersebut melainkan aku menghormatinya dan yakin untuk mencintainya.” [Siyar A’lām an-Nubalā’, vol. X, hal. 33]

 

Syaikh Ibn `Utsaimin berkata, “Benarlah apa yang dikatakan oleh Syaikhu’l Islām, yakni bahwa kita (harus) menerima kebenaran dari kelompok manapun, baik dari Mutashawwifah (kaum Sufi), pelajar fiqh maupun ulama syariah. Adapun kita tidak menerima apapun dari mereka dan mengatakan bahwa segala sesuatu yang mereka lakukan adalah kesalahan, maka hal ini tidak benar. Dahulu, Imam Ahmad (terkadang) duduk kepada sebagian kaum Sufi untuk melembutkan hati beliau. Artinya, pada kaum Sufi terdapat hal-hal berupa pelembutan hati dan keberpalingan dari dunia yang tidak terdapat pada selain mereka…. Ambillah kebenaran dari insan manapun itu, baik dari kaum Sufi, pelajar fiqh atau selain mereka!

Kemiripan sebagian umat ini terhadap Yahudi dan Nasrani adalah, bahwa ulama syariah memandang kaum Sufi tidak ada apa-apanya, sementara kaum Sufi juga memandang bahwa ulama syariah tidak ada apa-apanya.

Mengenai perkara belajar dan berguru (ta`līm) kepada kaum Sufi, maka bisa jadi hal itu membuat mereka (semakin) terperosok dan menjadikan mereka terus bertahan di atas hal-hal (kesalahan) yang mereka lakukan, dan sekaligus juga dapat membuat orang lain terperdaya dan berkata, “Fulan (saja) belajar dan mengambil ilmu dari Sufi….”

Adapun menerima kebenaran, maka terimalah kebenaran dari insan manapun, bahkan dari Yahudi, Nasrani, setan atau orang-orang musyrik sekalipun.”

Sekian kutipan dari Syaikh. [Lihat Fathu’l Mu`īn fi’t Ta`līq `alā Iqtidhā’ish Shirāthi’l Mustaqīm, hal. 32.]

Menolak kebenaran termasuk kesombongan (kibr). Padahal, sekecil dzarrah dari kesombongan menyebabkan pelakunya tidak masuk surga. Nabi ` bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قالَ رَجلٌ: إنَّ الرّجلَ يُحبُّ أنْ يَكوْنَ ثوْبُه حسنًا ونَعْلَه حَسَنَةُ. قال: إنّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبّ الجَمالَ، الْكِبْر بَطَرُ الْحَقّ وَغَمْطُ النّاس

“Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya memiliki semisal dzarrah dari kesombongan.” Ada yang bertanya, “Sesungguhnya ada orang yang suka mengenakan baju dan pakaian yang bagus.” Nabi ` menjawab, “Sesungguhnya Allah itu maha indah dan menyukai keindahan. (Yang dimaksud dengan) kesombongan adalah menolak kebenaran dan melecehkan manusia.” [Riwayat Muslim I/93/91, Abū Dāwūd II/457/4092, dan lain-lain]

Kesombongan inilah yang menyebabkan Iblis dikeluarkan dari surga karena menolak perintah sujud kepada Adam. Iblis menolak kebenaran bahwa Adam diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan (QS. At-Tīn: 4) dan justru melecehkan Adam melalui ucapannya:

أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

“Aku lebih baik darinya; Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah!” (QS. Al-A’rāf: 12 dan Shād: 76)

Pada umumnya, tidaklah seseorang itu menolak kebenaran melainkan karena ia melecehkan atau berburuk sangka. Ia menganggap bahwa dirinya lebih dari orang lain, baik dari sisi kecerdasan, kedudukan, harta dan sebagainya, atau ia merasa bahwa orang lain hanyalah penebar kesesatan dan syubhat sementara dirinya lebih mendapat hidayah dalam perkara kebenaran yang ditolaknya. WaLlāhu’l musta’ān.

Bahan bacaan:

1. Mafātīhu’l Fiqh fi’d Dīn, Syaikh Mushthafa al-‘Adawi

2. Fathu’l Mu`īn, karya Syaikh Ibn `Utsaimin

3. Al-Fawā’id, Imam Ibnul Qayyim

4. Menuntut Ilmu, Jalan Menuju Surga, UstadzYazid Jawas

.

 

Comments
  1. Haitan Rachman says:

    Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Kita kaum muslimin saat ini memang perlu banyak belajar, sehingga hikmah yang ada dari Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, serta para Shahabat RA dapat kita peroleh dan menjadi wujud dalam kehidupan kita.

    Kisah Abu Hurairah RA itu merupakan kisah yang menarik, dan kami sendiri pernah membacanya dlm Kitab Fadhoil Amal, susunan Maulana Dzakaria. Mudah-mudahan kita dapat mencontoh Abu Hurairah RA itu terutama bagaimana menghadapi orang lain meskipun musuhnya sendiri, dan tentunya juga berusaha mengamalkan apa yang ada dalam isi itu.

    Wa’alaikumu’ssalam wr. wb.

    Benar Bro, kebenaran itu wajib untuk diterima, dari manapun datangnya.

    Berikut saya berikan keterangan tambahan dari Syaikh Ibn `Utsaimin untuk lebih menegaskan hal tersebut (bagi rekan-rekan yang hendak mengutip tulisan di atas maka harap kutipan dari Syaikh Ibn `Utsaimin berikut ini juga turut disertakan):

    Syaikh Ibn `Utsaimin berkata dalam Fathu’l Mu`in fi’t Ta`liq `Ala Iqtidha’ish Shirathi’l Mustaqim, hal. 32: “Apa yang dikatakan oleh Syaikhu’l Islām adalah kebenaran, yakni bahwa kita (harus) menerima kebenaran dari kelompok manapun, baik dari Mutashawwifah (kaum Sufi), pelajar fiqh maupun ulama syariah. Adapun kita tidak menerima sesuatupun dari mereka dan mengatakan bahwa segala sesuatu yang mereka lakukan adalah kesalahan, maka hal ini tidak benar. Dahulu, Imam Ahmad (terkadang) duduk kepada sebagian kaum Sufi untuk melembutkan hati beliau. Artinya, pada kaum Sufi terdapat hal-hal berupa pelembutan hati dan keberpalingan dari dunia yang tidak terdapat pada selain mereka…. Ambillah kebenaran dari insan manapun itu, baik dari kaum Sufi, pelajar fiqh atau selain mereka!

    Kemiripan sebagian umat ini terhadap Yahudi dan Nasrani adalah, bahwa ulama syariah memandang kaum Sufi tidak ada apa-apanya, sementara kaum Sufi juga memandang bahwa ulama syariah tidak ada apa-apanya.

    Mengenai perkara belajar dan berguru (ta`līm) kepada kaum Sufi, maka bisa jadi hal itu membuat mereka (semakin) terperosok dan menjadikan mereka terus bertahan di atas hal-hal (kesalahan) yang mereka lakukan, dan sekaligus juga dapat membuat orang lain terperdaya dan berkata, “Fulan (saja) belajar dan mengambil ilmu dari Sufi….” Adapun menerima kebenaran, maka terimalah kebenaran dari insan manapun, bahkan dari Yahudi, Nasrani, setan atau orang-orang musyrik sekalipun.” Sekian kutipan dari Syaikh Ibn `Utsaimin.

    Adapun mengenai kitab Fadha’ilu’l A`mal yang Antum sebutkan, maka sependek pengetahuan saya dalam kitab tersebut terdapat hadits-hadits yang dinyatakan lemah, bahkan palsu, oleh kalangan ulama ahli hadits, yang salah satu cirinya adalah berlebih-lebihan (ghuluww) dalam menyebutkan anjuran, ancaman, pahala dan siksa (meskipun ciri ini tidak dapat dimutlakkan begitu saja).

    Padahal Nabi SAW bersabda dalam hadits yg mutawatir: “Barangsiapa yang berdusta atasku dengan sengaja hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di Neraka.” Juga terdapat hadits-hadits lain senada yang mengecam periwayatan hadits Nabi SAW yang palsu atau tidak valid, tanpa menjelaskan aspek validitasnya.

    Semoga Allah menjauhkan kita semua dari sikap fanatisme yang tercela.

    Salam,
    Abu Faris an-Nuri

  2. Haitan Rachman says:

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    My brother Abu Faris,

    Kami mengucapkan banyak terimakasih. Sesuai dengan bahasan diatas, maka kita sendiri tidak boleh menutup mata dengan kebaikan yang diberikan dari kitab yang bersangkutan. Contohnya kami sendiri, kami mendapatkan kisah Abu Hurairah RA yang sama sdr. sampaikan, dan kebetulan terdapat dalam kitab Fadhoil Amal.

    Tentang perkara bahwa ada hadits palsu atau juga dhoif, itu bisa saja terjadi untuk beberapa kitab lainnya. Hal itu karena penilaian sebuah hadits tidak sama untuk semua Ulama, kami banyak menemukan perkara-perkara ini. Sepengetahuan kami yang lemah ini, sampai hari ini belum ada yang memberikan penilaian terhadap kitab itu secara menyeluruh. Dan juga banyak beberapa bagian tidak diterjemahkan ke dalam bahasa terjemahannya, dan kami temukan sendiri. Hal ini dapat dicek dari kitab itu sendiri. Disamping juga, pada prinsipnya kitab itu disusun berdasarkan kitab-kitab sebelumnya yang disusun oleh para Ulama sebelumnya.

    Kenapa sdr. menghubungkan perkara ketika kami bawa kitab fadhoil amal, terus bercerita kepahaman Sufi. Apakah karena Maulana Dzakaria ini mengikuti aliran Tasawuf? atau karena kitab itu dipergunakan oleh usaha da’wah dan tabligh (orang yang lebih mengenalnya dengan jama’ah tabligh). Yang mana ada sebagian Ulama Salafi menganggap bahwa usaha da’wah dan tabligh ini sebagai sufi modern, bahkan dianggap tidak mempunyai manhaj. Sehingga kami sendiri mencoba menuliskan untuk memberikan gambaran sesuai kemampuan kami sendiri, http://usahadawah.wordpress.com

    Oleh karena itu, kami senang jika kita biasa terbuka dengan kaum muslimin yang beragam. Sehingga keseimbangan kita akan kita peroleh. Dan hal ini sebenarnya akan mengarahkan kita sama-sama mendapatkan kebenaran itu, meskipun dari mana saja.

    Yang terpenting kita akan berusaha memperoleh kebaikan itu darimana saja, meskipun dari lawan atau orang-orang yang tidak menyukai kita sendiri. Sehingga secara jujur, kami banyak mendapatkan banyak kebaikan dari para Ulama salafi, tetapi bukan berarti semuanya kita ikuti.

    Wa’alaikumu’ssalam warahmatu’Llahi wabarakatuh wamaghfiratuh…
    My Brother, semoga Allah merahmati kita semua…

    Terkait dengan kutipan dari Syaikh Ibn `Utsaimin, maka hal tsb tidak ada korelasinya dg komentar yang Sdr. tuliskan. Pada awalnya, saya ingin memasukkan kutipan Syaikh tersebut ke ‘matn’ tulisan sebagai tambahan informasi. Namun, sebelum saya melaksanakan niat saya tersebut ternyata ada komentar masuk dari Sdr., shg saya menyertakan kutipan tsb seiring dengan komentar saya. Untuk selanjutnya, in sya-aLlah kutipan dari Syaikh Ibn `Utsaimin tersebut akan saya masukkan juga ke dalam ‘matn’ tulisan saya di atas.

    Mungkin di sini penting kiranya saya tegaskan sekali lagi untuk mencegah terjadinya kerancuan, bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara menerima kebenaran dari mana saja dan menimba ilmu (belajar/berguru) dari mana saja. Kita harus menerima kebenaran dari manapun, jangankan dari sesama muslim, bahkan dari orang kafir atau setan sekalipun (sebagaimana tulisan di atas). Namun, tentunya kita tidak harus menimba ilmu dari orang kafir atau setan. Nabi SAW menerima kebenaran dari Yahudi dan setan, namun Nabi tidak pernah menganjurkan sahabatnya untuk belajar dari Yahudi dan setan dalam rangka mengambil kebenaran dari mereka. Intinya, menerima kebenaran dari manapun dan menimba ilmu dari manapun adalah dua hal yang sangat berbeda.

    Mengenai kitab Fadha’ilu’l A`mal yang tengah dibicarakan, tidak diragukan bahwa dalam kitab tersebut terdapat berbagai kebaikan. Hanya saja, dalam memilih kitab-kitab tentu ada skala prioritas. Jika dua kitab dengan tema sejenis, yang satu di dalamnya banyak terdapat hadits yg tidak valid dan yang lain sangat sedikit mengandung hadits yang tidak valid. Manakah kiranya yang akan kita pilih? Tentu yang kedua bukan? Kiranya, menurut saya, kitab semacam Riyadhu’s Shalihin, karangan Imam an-Nawawi, lebih utama untuk dibaca dan sudah cukup untuk meng-cover kebutuhan terhadap kandungan kitab Fadha’ilu’l A`mal. Wa’Llahu a’lam.

    Memang benar, sejumlah perkara yang terkait dengan penshahihan dan pendha’ifan adalah perkara ijtihad dan memungkinkan beda pandangan. Namun, hal ini tidak dalam seluruh perkara, dan itu pun harus diputuskan dengan dasar ilmu dan tidak sesuka hati. Biasanya perbedaan pendapat dalam hal ini berkisar antara hadits dengan derajat hasan dan dha’if, bukan hadits yang parah kedha’ifannya, palsu, apalagi yang tidak ada sumbernya.

    Beda pendapat dalam hadits seperti halnya beda pendapat dalam fiqh. Ada perbedaan yang kita harus toleran, dan ada pula perbedaan yang tampak jelas mana pendapat yang kuat dari yang lemah.

    Salah satu hadits yang disandarkan kepada Nabi SAW yang beberapa kali saya dengar dari beberapa anggota Jama`ah Tabligh pada tempat dan waktu yg berbeda-beda adalah: “Jika kalian ingin mencari ilmu maka datanglah kepadaku (Nabi SAW), namun apabila kalian ingin mencari iman maka keluarlah (khuruj).” Sependek pengetahuan saya, hadits ini tidak ada sumbernya. Saya tidak tahu apakah hadits tersebut dimuat dalam Fadha’ilu’l A`mal atau tidak. Mungkin Sdr. dapat menginformasikan di mana sumber aslinya? Kemudian, hadits tersebut mengandung kesalahan sangat fatal dari sisi makna. Bagaimana mungkin dibedakan antara ilmu dan iman? Bukankah iman yang benar terlahir dari ilmu yang benar? Iman pada umumnya lebih terkait dengan keyakinan, dan keyakinan dibangun di atas ilmu. Dalam sejumlah ayat al-Qur’an Allah menyandingkan antara ilmu dan iman.

    Sebenarnya, masih cukup banyak yg ingin saya sampaikan, namun rasanya komentar yang saya tuliskan kali ini sudah cukup panjang. Akhirnya, tidak diragukan lagi bahwa usaha dakwah merupakan sesuatu yang sangat mulia. Namun, tentu hal tersebut membutuhkan ilmu dan pengetahuan yang benar sebagai pondasi awalnya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya): “Katakanlah: Inilah jalanku, aku menyeru kepada Allah di atas bashirah (ilmu dan pengetahuan yang benar), aku beserta orang-orang yang mengikutiku….” (QS. Yusuf [12]: 108)

    Demikian, wa’Llahu a`lam bish shawab, mohon maaf apabila ada perkataan yang kurang berkenan.

    Salam,
    ur brother,
    Abu Faris an-Nuri

  3. Haitan Rachman says:

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Sdr. Yang budiman,

    Kami ucapkan terimakasih atas penjelasan itu. Insya Allah, kami akan ungkap perkara-perkara yang banyak disampaikan terhadap usaha da’wah dan tabligh itu. Dan beberapa halnya sudah kami sampaikan di bagian tulisan kami sendiri, http://usahadawah.wordpress.com.

    Kami terlibat dalam usaha da’wah ini cukup lama, sehingga kami mengetahui pertumbuhan itu dengan baik. Dulu di Bandung jangankan ada madrasah hafidz quran dan alim, untuk tholabul ilmi juga sangat berkurangan karena banyak yang ikut ke dalam usaha da’wah ini orang-orang awam.

    Tetapi berselang dengan waktu, sekarang ini telah berdiri madrasah hafidz dan alim di dua lokasi. Untuk menjalankan itu tidak mudah untuk memulainya, dan meskipun kami tidak terlibat langsung ke dalam madrasah itu, tetapi perjalanannya sangat berhubungan dengan madrasah yang telah kami buat sebelumnya.

    Dan sebagai informasi, kami telah COPY-PASTEkan tulisan sdr. yang berkaitan dengan jenius, dan sekarang mendapatkan tanggapannya dari teman SALAFI sendiri. Bagi kami tidak ada masalah untuk itu, karena bagi kami sebuah pengetahuan atau informasi yang baik, tetap perlu disebarkan dengan baik pula.

    Terimakasih,
    Your Brother

  4. Haitan Rachman says:

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Kita kaum muslimin sangat lemah sekarang ini, tentunya kita perlu belajar yang berurusan dengan perkara lainnya misalkan perkara yang kita pakai sekarang ini, INTERNET, tetapi tidak dalam perkara urusan agama kita. Disinilah perlunya kita kaum muslimin untuk saling bermudzakarah satu sama lain untuk membangun ummat ini di masa depan.

    Kami sangat senang antum mengatakan bahwa usaha da;wah ini adalah usaha yang mulia. Dan sangat tepat bahwa sangat diperlukan ilmu sebagai penjelasnya. Sesuai dengan ayat yang antum sampaikan. Insya Allah, di masa depan setiap rombongan akan ada satu orang ulama/ustadz ketika sedang keluar.

    Tetapi untuk mencapai One Ustadz-One Rombongan tidak mudah. Memerlukan kesungguhan untuk mencetak para Ulama di masa depan. Mudah-mudahan dari kalangan Salafi akan banyak melahirkan Ulama, begitupun juga dari teman-teman kami.

    Teman-teman kita di Inggris, tahun 1996 telah menetapkan 1000 hafidz untuk dapat dikirim ke seluruh eropa. Dan sekarang sebentar lagi kaum muslimin di sana akan mempunyai masjid besar, yang kebetulan akan dibangun oleh teman-teman tabligh. Sehingga jangankan 1000 hafidz untuk dikirim seluruh eropa, mungkin saja berkeinginan mencetak 1000 alim dan 10.000 hafidz.

    Bagaimana dengan kita di Indonesia? Di Bandung saja masih berkurangan para Hafidz, sehingga kami berharap akan lahir para hafidz dari teman-teman salafi ataupun dari pegerakan lainnya, termasuk usaha da’wah.

    Jika berkenan dan ada waktu, silahkan mampir ke Bandung, tempat kami. kita dapat bermudzakarah terutama hal-hal yang berkaitan dengan Ilmu, dan ini sudah menjadi rencana yang ditanamkan.

    Terimakasih,

    Wa’alaikumu’ssalam warahmatu’LLahi wabarakatu wamaghfiratuh…

    My Brother, terkait dengan spirit ‘menerima kebenaran dari siapapun’, maka sebaiknya Antum beserta saudara-saudara fi’Llah dari Jama’ah Tabligh pun membaca dan menelaah kritik ilmiah yang ditulis oleh ulama dan para penuntut ilmu terhadap Jama’ah Tabligh, dan diterima apabila kritik tersebut benar adanya. Sehingga menjadi perbaikan dan masukan untuk kita semua.

    Salam

  5. […] jadi teringat tulisan ustad Abu Faris dalam blog-nya bahwa “terdapat perbedaan yang signifikan antara menerima kebenaran dari mana saja dan menimba […]

  6. Haitan Rachman says:

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Tentu kami pelajari pandangan ilmiyyah dari berbagai pihak terhadap usaha da’wah dan tabligh ini, termasuk dari para Ulama. Tetapi tentunya kita semua mempunyai kerangka analisa ilmiyyah. Disinilah kita kaum muslimin perlu banyak melakukan inter-komunikasi dan inter-koneksi, sehingga kaum muslimin di mana saja akan mendapatkan manfaatnya.

    Sehingga secara jujur, kami pernah bersama-sama dengan teman-teman salafi, karena teman-teman salafi ini tinggal di gedung kami sendiri kurang lebih 1.5 tahun. Sehingga kami dapat berhubungan secara inter-koneksi dan inter-komunikasi. Tetapi apakah teman-teman salafi dapat menyilahkan kaum musliminnya? Itu merupakan kebijakan masing-masing untuk membangun kaum muslimin sendiri di masa depan.

    Silahkan sdr. dapat berikan pandangannya dalam tulisan kami di situs kami, http://usahadawah.wordpress.com

    Terimakasih,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s