Who Moved My Cheese (Bag. 1)

Posted: November 9, 2007 in Cuplikan, Resensi & Bedah Buku, Kiat Usaha & Motivasi

“Tidak ada yang tetap, kecuali perubahan itu sendiri.” Demikianlah bunyi sebuah pameo terkenal. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menghambat perubahan. Yang dapat kita lakukan hanyalah mengarahkan perubahan dan atau mengantisipasi perubahan.

Banyak buku yang mengupas tentang masalah perubahan dan inovasi seperti: Differentiate Or Die, karangan Jack Trout dan Steve Rivkin; Blue Ocean Strategy karangan W. Chan Kim dan Renée Mauborgne; Change dan Re-code Your Change DNA, keduanya karya Rhenald Kasali, dan masih banyak lagi yang lain.

Salah satu buku yang bagus, inspiring dan mudah dipahami yang mengupas tentang bagaimana menyikapi perubahan adalah Who Moved My Cheese, karangan Spencer Johnson. Meski buku ini sebenarnya termasuk kategori buku cukup lawas, namun content-nya masih tetap relevan dan dapat dimanfaatkan sampai saat ini dan nanti, sehingga saya cantumkan dalam blog ini. Meskipun alasan sebenarnya adalah, karena saya suka buku itu! Hehe.

Buku ini mengupas tentang dua hal berseberangan yang bekerja dalam diri kita, yaitu “sederhana” dan “rumit”, yang ditamsil dan diumpamakan melalui empat tokoh imajiner dalam sebuah kisah fiktif. Empat tokoh tersebut mewakili bagian dari kepribadian manusia, yaitu: Sniff (Endus), Scurry (Lacak), Hem (Kaku) dan Haw (Aman). Sniff dan Scurry digambarkan sebagai dua ekor tikus, sementara Hem dan Haw digambarkan sebagai dua orang kurcaci. Keempatnya hidup dalam labirin-labirin, yang menggambarkan berbagai perubahan dan ketidakpastian. Buku ini banyak mengandung simbolisasi yang indah dan mudah ditangkap.

Kadang kita bertindak seperti Sniff, yang mampu mencium adanya perubahan dengan cepat, atau Scurry yang segera bergegas mengambil tindakan, atau Hem yang menolak serta mengingkari perubahan karena takut perubahan akan mendatangkan hal yang buruk, atau Haw yang baru mencoba beradaptasi dalam keadaan terdesak dan apabila melihat perubahan mendatangkan sesuatu yang lebih baik.

Di Indonesia, buku tersebut diterjemahkan dan diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Cetakan yang saya gunakan kali ini adalah cetakan ke-12, Agustus 2006. (Milik pribadi? Oh bukan, pinjam punya teman. He he.)

Berikut ini adalah kisah fiktif dan perumpaan yang menjadi inti buku dimaksud, dengan ringkasan dan perubahan:

WHO MOVED MY CHEESE

Hidup empat tokoh yang berlarian di dalam labirin mencari cheese untuk kesejahteraan dan kebahagiaan mereka. Dua di antaranya adalah tikus yang bernama “Sniff’ dan “Scurry”, dua lainnya adalah kurcaci se­besar tikus yang berpenampilan dan bertingkah laku sama seperti manusia pada saat ini. Namanya adalah “Hem” dan “Haw”.

Setiap hari tikus dan kurcaci tersebut menghabis­kan waktu mereka di dalam labirin mencari cheese kesukaan mereka.

Tikus-tikus, Sniff dan Scurry, yang hanya mampu berpikir sejauh otak binatang pengerat itu berpikir namun dikaruniai naluri yang baik, mencari cheese keras berlubang-lubang sama seperti yang dilakukan tikus-tikus lainnya.

Sementara itu kedua kurcaci, Hem dan Haw, menggunakan otak mereka, yang dipenuhi dengan berbagai dogma dan emosi, mencari Cheese yang berbeda—yaitu Cheese dengan C besar.

Namun meskipun berbeda, kurcaci dan tikus memiliki kesamaan. Setiap pagi masing-­masing mengenakan pakaian jogging dan sepatu lari mereka, meninggalkan rumah kecil mereka, berlomba lari menuju labirin mencari cheese favorit mereka.

Labirin tersebut terdiri dari lorong panjang ber­kelok-kelok dan ruang-ruang yang beberapa di anta­ranya berisi cheese yang lezat. Namun demikian ada pula sudut-sudut gelap dan jalan tak bertuan yang menyesatkan. Sehingga mudah sekali bagi siapa saja tersesat di dalamnya.

Sementara itu, bagi mereka yang telah menemu­kan jalan, terdapat rahasia-rahasia yang membuat mereka bisa hidup senang.

Tikus-tikus, Sniff dan Scurry, menggunakan metode trial and error dalam mencari cheese. Mere­ka berlari ke satu lorong dan jika temyata kosong, mereka akan berbalik dan mulai mencari di lorong yang lain. Mereka mengingat lorong mana saja yang tidak menyimpan cheese dan dengan cepat pindah ke daerah lain.

Sniff bertugas melacak jejak cheese dengan mengendus-endus menggunakan hidungnya yang hebat, sedang Scurry yang akan berlari terlebih dulu. Mereka pernah juga salah arah dan sering menabrak tembok. Namun tak lama ke­mudian mereka akan menemukan kembali jalan yang benar.

Sama seperti tikus, kedua kurcaci, Hem dan Haw, juga menggunakan kemampuan berpikir dan belajar dari pengalaman mereka. Namun mereka bergantung pada otak mereka yang kompleks dalam mengem­bangkan metode menemukan Cheese.

Meskipun demikian mereka semua, Sniff, Scurry, Hem, dan Haw menemukan apa yang mereka inginkan dengan cara masing-masing. Dan pada suatu hari, mereka menemukan cheese kesukaan mereka di salah satu ujung lorong Cheese Station C!

Setelah itu, setiap pagi para tikus dan kurcaci se­gera memakai perlengkapan lari mereka dan langsung berlari menuju Cheese Station C. Tak lama kemudi­an hal itu menjadi kegiatan rutin mereka.

Sniff dan Scurry tetap dengan kebiasaan bangun pagi mereka dan langsung berlari ke dalam labirin, dan selalu mengikuti rute yang sama. Begitu sampai di tujuan, mereka menanggalkan se­patu lari dan mengikat kedua talinya, lalu mengalung­kannya di leher sehingga memudahkan mereka me­makainya saat memerlukannya nanti. Kemudian me­reka menikmati cheese.

Pada awalnya Hem dan Haw juga berlarian ke Cheese Station C setiap pagi untuk menikmati po­tongan Cheese baru yang lezat yang telah menunggu mereka.

Namun setelah beberapa saat kebiasaan para kurcaci berubah. Sekarang, Hem dan Haw bangun sedikit lebih siang, berpakaian sedikit lebih lama, clan kemudian baru berjalan ke Cheese Station C. Sekarang mereka sudah tahu di mana letak Cheese Station C dan jalan menuju ke sana.

Mereka tidak tahu dari mana datangnya Cheese itu dan siapa yang menempatkannya di sana. Mereka hanya berasumsi bahwa Cheese itu pasti ada di sana.

Setiap pagi, begitu Hem dan Haw sampai di Cheese Station C, mereka segera masuk dan berlaku seolah-olah di rumah sendiri. Mereka menggantung pakaian lari, melepas sepatu dan menggantikannya dengan sendal. Mereka merasa sangat nyaman saat ini karena telah menemukan Cheese. “Ini luar biasa,” kata Hem. “Tersedia cukup ba­nyak Cheese untuk kita selamanya.” Kurcaci-kurcaci itu merasa bahagia dan sukses, serta berpikir bahwa sekarang mereka sudah aman.

Segera sesudah itu Hem dan Haw mengangap Cheese yang mereka temukan di Cheese Station C adalah milik mereka. Tempat itu seperti toko Cheese yang luas dan mereka pun segera memindahkan ru­mah mereka lebih dekat ke sana dan mulai memba­ngun kehidupan sosial di sekitarnya.

Kadang, Hem dan Haw mengundang teman-te­man mereka untuk mengagumi tumpukan Cheese di Cheese Station C. Sambil menunjuk ke tumpukan itu dengan bangga, mereka berkata, “Cheese yang cantik, bukan?” Terkadang mereka membagikannya kepada rekan mereka, tapi kadang juga tidak. “Kami berhak mendapatkan Cheese ini,” kata Hem lagi. “Kami harus bekerja keras dan lama untuk me­nemukannya.”

Setiap malam para kurcaci berjalan perlahan me­nuju tempat tinggal mereka dengan membawa tum­pukan penuh Cheese, dan paginya dengan yakin me­reka akan kembali lagi untuk mengambil lebih banyak lagi.

Hal ini berjalan sampai beberapa saat. Dalam waktu singkat keyakinan Hem dan Haw pun berubah menjadi kesombongan akan keberhasil­an mereka. Segera mereka terjebak dalam kenyaman­an sehingga tidak menyadari apa yang sedang terjadi.

Sementara waktu berlalu, Sniff dan Scurry tetap melakukan kegiatan rutin mereka. Mereka tiba pagi-­pagi sekali, mengendus, mencakar, dan melacak dae­rah sekitar Cheese Station C, mereka melihat apakah ada perubahan yang terjadi dibandingkan kemarin. Baru kemudian mereka duduk dan memakan cheese.

Suatu pagi mereka tiba di Cheese Station C dan melihat tidak ada lagi cheese di sana.

Mereka tidak heran sama sekali. Karena Sniff dan Scurry sudah memperhatikan bahwa simpanan cheese tersebut semakin hari semakin menipis belakangan ini. Mereka sudah siap dengan keadaan ini, dan secara insting tahu apa yang harus mereka lakukan.

Mereka saling melihat, melepaskan sepatu lari yang mereka ikat dan digantungkan di leher, kemudian mengenakannya, lalu mengencangkan tali pengikatnya.

Tikus tidak melakukan analisis yang berlebihan.

Bagi tikus, masalah dan pemecahannya sama sederhananya. Situasi di Cheese Station C sudah ber­ubah. Maka Sniff dan Scurry memutuskan untuk ber­ubah juga. Mereka berdua mencarinya kembali di dalam labirin. Sniff pun mulai mengangkat hidungnya, me­ngendus, dan menganggukkan kepalanya ke arah Scurry, yang dengan cepat segera berlari masuk ke dalam labirin sementara Sniff mengikutinya dari bela­kang secepat ia bisa.

Dengan cepat mereka berangkat untuk menemu­kan cheese baru.

Di waktu siangnya, masih pada hari yang sama, Hem dan Haw tiba di Cheese Station C. Mereka tidak mem­perhatikan perubahan-perubahan kecil yang terjadi se­tiap hari, sehingga mereka merasa yakin bahwa Cheese mereka pasti ada di sana.

Mereka tidak siap menghadapi kenyataan di depan mereka.

“Apa?! Tidak ada Cheese?!teriak Hem. Kemu­dian ia terus berteriak-teriak, “Tidak ada Cheese?! Ti­dak ada Cheese?!Seolah-olah jika ia berteriak seke­ras mungkin seseorang bakal mengembalikan Cheese­-nya.

Who Moved My Cheese?!teriaknya. Akhirnya, sambil berkacak pinggang, wajahnya berubah merah padam, ia pun meraung keras sekali, “Ini tidak adil!”

Haw hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Ia pun juga merasa yakin pasti menemukan Cheese di Cheese Station C. Ia berdiri di sana lama sekali, terpaku karena terguncang. Ia sama sekali ti­dak siap menghadapi hal ini.

Hem meneriakkan sesuatu, namun Haw tidak ingin mendengarkannya. Ia tidak mau menghadapi apa yang sedang terjadi, ia pun berusaha menyingkirkannya.

Tindakan para kurcaci sangat tidak menarik dan tidak produktif, namun bisa dipahami. Menemukan Cheese bukan pekerjaan mudah dan bagi para kurcaci lebih besar lagi artinya dibanding­kan dengan hasil yang hanya bisa dimakan setiap hari.

Menemukan Cheese adalah cara memenuhi pemikiran mereka bahwa mereka berhak untuk baha­gia. Bagi para kurcaci Cheese mempunyai arti lebih, tergantung dari rasanya. Bagi sebagian dari mereka, menemukan Cheese ber­arti menemukan hal-hal yang bersifat material, bagi yang lainnya bisa berupa hidup sehat atau mencapai kepuas­an spiritual. Bagi Haw, menemukan Cheese berarti menemukan rasa aman, mempunyai keluarga yang Baling mencintai suatu hari nanti, dan tinggal di rumah yang nyaman di Cheddar Lane. Sedangkan bagi Hem, Cheese akan menjadi Cheese Besar (alat pengaruh) yang digunakannya un­tuk mempengaruhi orang lain dan untuk memiliki ru­mah besar di daerah elit, Camembert Hill.

Karena Cheese sangat berarti bagi mereka, kedua kurcaci tersebut memerlukan waktu yang lebih lama untuk memutuskan apa yang harus mereka lakukan. Hal yang bisa mereka pikirkan hanyalah tetap menca­ri-cari di sekitar Cheese Station C untuk memastikan bahwa Cheese tersebut memang benar-benar sudah lenyap.

Para kurcaci masih belum percaya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Tak ada satu orang pun yang memberi peringatan kepada mereka. Ini tidak benar. Hal ini tidak biasanya terjadi.

Malam itu Hem dan Haw pulang ke rumah dalam keadaan lapar dan gundah. Namun sebelum mereka pergi, Haw menulis di dinding:

SEMAKIN PENTING ARTI CHEESE BAGI ANDA SEMAKIN INGIN ANDA MEMPERTAHANKANNYA

Keesokan harinya Hem dan Haw meninggalkan rumah mereka dan kembali ke Cheese Station C lagi, dengan harapan, siapa tahu dapat kembali menemukan Cheese mereka. Ternyata situasinya tidak berubah, Cheese itu sudah tidak ada lagi di sana. Para kurcaci tidak tahu harus berbu­at apa. Hem dan Haw hanya berdiri saja di sana, se­perti dua buah patung.

Hem menganalisa situasi tersebut berkali-kali sam­pai akhirnya otaknya yang canggih dan sistem kepercayaannya yang besar mengambil alih. “Menga­pa mereka memperlakukan aku seperti ini?” tuntutnya. “Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”

Akhirnya Haw membuka matanya, melihat sekeli­ling ruangan dan berkata, “Eh, ke mana Sniff dan Scurry? Apakah mereka tahu sesuatu yang tidak kita ketahui?”

“Apa yang mereka ketahui?” kata Hem sinis.

Lanjut Hem, “Mereka cuma tikus biasa. Mereka hanya merespon apa yang terjadi. Kita adalah kurcaci. Kita lebih pintar dari tikus-tikus itu. Kita harus mampu mene­mukan jawaban terhadap apa yang telah terjadi.”

“Aku tahu, kita lebih pintar,” kata Haw, “namun tampaknya kita tidak bertindak lebih pintar saat ini. Situasi di sini telah berubah, Hem. Mungkin kita perlu berubah dan melakukan hal yang berbeda.”

“Mengapa kita harus berubah?” tanya Hem. “Kita kurcaci. Kita beda. Hal semacam ini tidak selayaknya menimpa kita. Atau jika terjadi, setidaknya kita men­dapatkan keuntungan darinya.”

“Mengapa kita harus mendapatkan keuntungan?” tanya Haw.

“Karena kita berhak,” kata Hem mantap. “Berhak atas apa?” kata Haw ingin tahu.

“Kita berhak atas Cheese kita.”

“Mengapa?” tanya Haw lagi.

“Karena, bukan kita yang menyebabkan bencana ini,” kata Hem. “Ini disebabkan oleh orang lain, maka kita harus mencari tahu.”

Haw mengusulkan, “Mungkin sebaiknya kita ber­henti menganalisa situasi ini dan mulai pergi mencari Cheese Baru.”

“Oh, tidak,” debat Hem. “Aku akan mencari akar permasalahannya.”

Sementara Hem dan Haw masih mencoba me­mutuskan apa yang akan mereka lakukan, Sniff dan Scurry telah menemukan jalan mereka. Mereka ma­suk jauh ke dalam labirin, keluar masuk lorong dan koridor yang ada, mencari cheese di setiap Cheese Station yang mereka temukan.

Mereka tidak memikirkan hal-hal lain selain men­cari Cheese Baru.

Memang, mereka tidak langsung menemukan cheese selama beberapa waktu, sampai akhirnya tiba di suatu bagian labirin yang belum pernah mereka datangi sebelumnya: Cheese Station N.

Mereka memekik kegirangan. Mereka menemu­kan apa yang mereka cari-cari: persediaan Cheese baru yang sangat banyak. Mereka tidak bisa mempercayai penglihatan me­reka. Tempat itu adalah toko cheese terbesar yang pernah dilihat oleh para tikus.

Sementara itu, Hem dan Haw masih kembali ke Cheese Station C untuk mengevaluasi keadaan me­reka. Mereka sekarang mulai menderita karena kelangkaan Cheese. Mereka menjadi putus asa dan saling menyalahkan satu sama lain sebagai penyebab penderitaan mereka.

Sering kali Haw memikirkan rekan tikus mereka, Sniff dan Scurry, serta bertanya-tanya apakah mere­ka sudah menemukan cheese atau belum. Ia yakin sekali mereka juga mengalami masa-masa sulit karena berlarian di dalam labirin yang tidak sedikit pun menjanjikan kepastian. Namun, ia juga tahu bah­wa keadaan semacam itu hanya akan berlangsung se­mentara.

Terkadang, Haw membayangkan Sniff dan Scurry telah menemukan Cheese baru dan sedang menik­matinya. Ia membayangkan mungkin sebaiknya ia juga berlarian berpetualang lagi di labirin, dan menemu­kan Cheese baru yang masih segar. Ia bahkan ham­pir bisa merasakannya.

Semakin jelas Haw melihat gambaran dirinya me­nemukan dan menikmati Cheese baru, semakin kuat pula dorongan dari dalam dirinya untuk meninggal­kan Cheese Station C.

“Ayo kita pergi!” teriaknya tiba-tiba.

“Tidak,” balas Hem dengan cepat. “Aku senang di sini. Nyaman. Kita sudah kenal. Di samping itu di luar sana sangat berbahaya.”

“Sama sekali tidak,” bantah Haw. “Kita sudah menjelajahi banyak tempat sebelumnya, kita bisa me­lakukannya lagi.”

“Aku sudah terlalu tua untuk itu,” kata Hem. “Dan aku takut, aku tidak ingin tersesat dan mengolok-olok diri sendiri. Kamu juga kan?”

Mendengar itu, ketakutan Haw akan kegagalan pun muncul kembali dan harapannya untuk menemukan Cheese baru pun surut.

Jadi, setiap hari mereka tetap melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan selama ini. Mereka pergi ke Cheese Station C, tidak menemukan Cheese, lalu pulang ke rumah, dalam keadaan khawatir dan putus asa.

Rumah mereka bukan lagi tempat peristirahatan bagi mereka seperti sebelumnya. Mereka sulit tidur dan sering mimpi buruk tentang tidak menemukan Cheese sama sekali. Namun, Hem dan Haw tetap saja kembali ke Cheese Station C dan menunggu di sana setiap hari.

Hem berkata, “Tahu tidak, jika saja kita bekerja lebih keras lagi kita akan menemukan bahwa tidak ada perubahan besar. Cheese itu mungkin saja ada di dekat kita. Mungkin mereka menyembunyikannya di balik dinding.”

Keesokan harinya, Hem dan Haw kembali dengan membawa peralatan. Hem membawa pahat, semen­tara Haw memukul-mukulkan palu sampai mereka membuat lubang di dinding Cheese Station C. Mereka mengintip ke dalamnya, namun tetap tidak menemukan Cheese.

Mereka kecewa namun masih yakin bahwa mere­ka yakin bisa memecahkan masalah itu. Maka mereka mulai bekerja lebih pagi, tinggal lebih lama, dan bekerja le­bih keras. Namun, setelah beberapa lama mereka be­kerja, yang mereka dapatkan hanyalah lubang besar di dinding.

Haw mulai menyadari adanya perbedaan besar antara aktivitas dan produktivitas.

“Mungkin,” kata Hem, “kita sebaiknya duduk dulu dan melihat apa yang akan terjadi. Cepat atau lambat mereka pasti akan menaruh Cheese itu lagi di sinil”

Haw sangat ingin mempercayainya. Maka setiap hari ia pulang ke rumah hanya untuk beristirahat dan kembali dengan enggan bersama Hem ke Cheese Sta­tion C. Namun Cheese tidak pernah muncul lagi.

Saat itu mereka menjadi semakin lemah karena lapar dan tertekan. Haw mulai bosan menunggu dan berharap akan adanya perubahan situasi. Ia mulai menyadari se­makin lama mereka berada dalam keadaan tanpa Cheese, keadaan mereka akan bertambah parah. Haw tahu mereka sudah sampai pada batas keku­atan dan kesabaran mereka.

Akhirnya, pada suatu hari Haw menertawakan di­rinya sendiri. “Haw (ha), Haw (ha), lihatlah keadaan kita. Kita tetap melakukan hal yang sama terus menerus dan bertanya-tanya mengapa keadaan tidak bertambah baik. Jika ini tidak bisa dibilang konyol, pasti ada istilah yang lebih lucu lagi.”

Sebenarnya Haw tidak menyukai ide untuk berlarian lagi di labirin, karena ia tahu akan tersesat dan tidak tahu dimana ia akan menemukan Cheese. Namun ia harus menertawakan kebodohannya, dan bagaimana rasa takutnya telah mempermainkan dirinya.

Ia bertanya kepada Hem, “Di manakah kita mele­takkan sepatu lari kita?” Butuh waktu lama untuk me­nemukannya, karena mereka telah memindahkan ba­rang-barang saat menemukan Cheese mereka di Cheese Station C, dan menurut mereka saat itu, sepatu itu tidak akan diperlukan lagi.

Ketika Hem melihat rekannya mulai mengenakan peralatan larinya, ia berkata, “Kamu tidak serius akan berlarian di dalam labirin lagi kan? Mengapa tidak menunggu saja di sini bersamaku sampai mereka me­naruh Cheese lagi di sini?”

“Karena, kamu tidak memahaminya,” kata Haw. “Aku sebenarnya juga tidak ingin kembali ke sana, Namun sekarang aku sadar mereka tidak akan pernah mengembalikan Cheese yang lalu ke sini. Inilah saat­nya menemukan Cheese baru.”

Hem membantah, “Tapi bagaimana jika di luar sana juga tidak ada Cheese? Atau kalaupun ada, tapi kamu tidak bisa menemukannya?”

“Aku tidak tahu,” jawab Haw. Ia sudah menanya­kan pertanyaan yang sama kepada dirinya sendiri berkali-kali dan merasakan ketakutannya muncul kembali. Ketakutan yang membuat ia berada di tempat yang sama sampai saat ini.

Ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Di manakah kesempatan yang lebih besar untuk menemukan Cheese, di sini atau di dalam Labirin?”

Ia membayangkan sate gambar dalam angannya. Ia melihat dirinya sendiri keluar dari Labirin dengan senyum di wajahnya.

Meskipun gambaran itu mengejutkannya, namun hal itu membuatnya merasa lebih baik. Ia melihat diri­nya tersesat berkali-kali di dalam Labirin, namun cu­kup percaya diri bahwa akhirnya ia menemukan Cheese baru di luar sana bersamaan dengan hal-hal baik yang menyertainya. Ia mulai mengumpulkan keberaniannya.

Kemudian ia mulai menggunakan imajinasinya untuk menggambarkan gambaran yang paling ia yakini—­dengan detail yang realistis—bahwa ia akan mene­mukan dan menikmati rasa Cheese baru.

Ia melihat dirinya sedang makan Cheese Swiss yang berlubang-lubang, dan Cheese Amerika yang berwarna orange terang, Cheese mozzarella dari Italia, dan lembutnya Cheese Perancis Camembert, serta… kemudian ia mendengar Hem mengatakan sesuatu, dan menyadari bahwa mereka masih di dalam Cheese Station C.

Haw berkata, “Hem, kadangkala, sesuatu itu berubah dan mereka tidak akan pernah sama lagi. Itulah hidup! Kehidupan terus berjalan dan kita pun harus demikian.”

Haw melihat pada rekannya yang diam saja dan mencoba menjelaskan pemikirannya kepadanya, akan tetapi ketakutan Hem sudah berubah menjadi kema­rahan dan ia tidak lagi mau mendengarkan. Haw tidak bermaksud menyinggung temannya, akan tetapi ia harus menertawakan betapa bodohnya mereka berdua.

Saat Haw bersiap-siap untuk berangkat, ia mulai marasa lebih bergairah. Haw tertawa dan mengumumkan, “Inilah waktu­nya ber-LABIRIN!”

(Lalu apakah gerangan yang akan terjadi? Bersambung… in sya-ā’Llāh.)

Comments
  1. Izin copas ya, Pak … (plus bagian 2)
    JazakaLLOHu khoyr.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s