Who Moved My Cheese (Bag. 2 – Selesai)

Posted: November 9, 2007 in Cuplikan, Resensi & Bedah Buku, Kiat Usaha & Motivasi

Hem tidak tertawa dan juga tidak bereaksi.

Haw mengambil batu kecil yang tajam dan menu­liskan bahan untuk dipikirkan oleh Hem di dinding. Sama seperti kebiasaannya, Haw bahkan menggam­bar Cheese di sekelilingnya, dengan harapan tulisan itu bisa membuat Hem tersenyum, tergugah, dan mulai mengejar Cheese Baru.

Tertulis:

JIKA ANDA TIDAK BERUBAH ANDA AKAN PUNAH

Haw pernah punya keyakinan bahwa bisa jadi di da­lam sana tidak ada Cheese, dan mungkin ia tidak akan pernah menemukannya. Keyakinan yang timbul kare­na ketakutannya itu telah membekukan dan mem­bunuhnya. Haw tersenyum. Ia tahu Hem pasti sedang berta­nya-tanya “Who Moved My Cheese?namun saat ini Haw sedang bertanya pula, “Mengapa aku tidak bangkit dan bergerak bersama Cheese lebih awal?”

Saat ia mulai masuk ke dalam labirin, Haw me­noleh lagi ke belakang, dan bisa merasakan kenya­manannya. Ia bisa merasakan dirinya ditarik ke dae­rah yang telah dikenalnya dengan baik—walaupun ia sudah lama tidak lagi menemukan Cheese di sana.

Haw menjadi lebih cemas dan bertanya-tanya apa­kah ia benar-benar ingin pergi ke dalam labirin. Ia menuliskan sesuatu di dinding yang ada di depannya dan menatapnya beberapa saat:

APA YANG ANDA LAKUKAN APABILA ANDA TIDAK TAKUT?

Ia tahu kadang rasa takut penting juga. Saat rasa takut menyerang, segala sesuatunya akan menjadi se­makin buruk jika kita tidak berbuat sesuatu, sehingga hal itu bisa mendorong kita untuk melakukan sesua­tu. Namun, rasa takut tak akan berguna jika terlalu takut sehingga tidak berani melakukan apapun.

Ia melihat ke sebelah kanannya, ke bagian labirin yang belum pernah dijelajahinya, dan rasa takutnya pun mulai menyerang. Kemudian ia mengambil napas dalam-dalam, berbe­lok ke kanan, masuk ke dalam labirin, sambil berlari-lari kecil menuju ke tempat yang belum diketahuinya.

Saat ia mencoba menemukan jalannya, pada mu­lanya Haw merasa khawatir, jangan-jangan ia sudah terlalu lama menunggu di Cheese Station C. Ia sudah lama tidak makan Cheese yang membuat keadaannya saat ini lemah. Ia memerlukan waktu yang lebih lama, dan lebih sulit untuk berjalan di dalam labirin diban­ding dulu. Ia memutuskan, jika ia mendapat kesem­patan sekali lagi, ia akan keluar dari zona kenik­matannya dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi secepat mungkin. Hal itu akan membuat sega­lanya lebih mudah.

Kemudian Haw tersenyum simpul saat terlintas dalam pikirannya, “Lebih baik terlambat daripada ti­dak sama sekali.”

Selama beberapa hari Haw bisa menemukan se­dikit Cheese di sini dan sedikit lagi di sana, namun jumlahnya tidak cukup banyak untuk bertahan lama. Ia berharap bisa menemukan Cheese dalam jumlah cukup besar, sehingga bisa dibawa kembali ke tem­pat Hem berada dan untuk membujuknya keluar dan kembali masuk ke dalam labirin.

Namun saat ini Haw masih belum begitu percaya diri. Ia masih sering kebingungan di dalam labirin. Banyak hal sudah berubah sejak terakhir kali ia masuk ke sana.

Saat ia merasa sudah mendapat kemajuan, tiba-­tiba ia mendapati dirinya tersesat dalam lorong-lo­rong labirin. Perkembangannya seperti maju dua langkah lalu mundur lagi satu langkah. Itulah tantangannya, namun ia mengakui bahwa kembali ke labirin, memburu Cheese, tidaklah seburuk yang ia takutkan sebelumnya.

Setelah lewat beberapa waktu, ia mulai bertanya­-tanya, apakah cukup realistis jika ia berharap dapat menemukan Cheese baru. Kemudian ia tertawa, menyadari bahwa saat ini tak ada sesuatu yang bisa ia makan.

Setiap kali ia merasa takut, ia mengingatkan diri sendiri akan apa yang sudah ia lakukan, betapa tidak nyamannya saat itu, bahwa keadaan saat ini jauh le­bih baik dibanding dengan keadaan tanpa Cheese untuk dimakan. Kini ia memegang kendali, tidak lagi pasrah pada keadaan.

Kemudian ia mengingatkan dirinya sendiri, jika Sniff dan Scurry saja bisa berjalan terus, tentu ia juga bisa!

Kemudian, saat Haw melihat kembali ke belakang, baru disadarinya bahwa lenyapnya Cheese di Cheese Station C tidaklah terjadi begitu saja seperti yang dipercayainya selama ini. Jumlah Cheese yang ada, memang semakin berkurang, dan yang tertinggal pun sudah tua. Rasanya sudah tidak enak.

Bahkan jamur pun sudah bertumbuhan di atas cheese-cheese tua itu. Namun ia tidak begitu mem­perhatikan. Diakuinya juga, jika ia menyempatkan diri memperhatikan hal-hal tersebut, pasti ia sudah bisa menduga apa yang akan terjadi. Namun itu tidak ia lakukan.

Sekarang Haw sadar bahwa perubahan tidak akan mengejutkannya jika ia selalu memperhatikan kejadi­an-kejadian yang ada dan mengantisipasi perubahan yang terjadi. Mungkin itulah yang telah dilakukan oleh Sniff dan Scurry.

Ia memutuskan untuk lebih waspada mulai seka­rang. Ia akan menyongsong perubahan yang datang dan mengatasinya. Ia akan lebih memperhatikan nalurinya untuk merasakan saat perubahan akan ter­jadi dan mempersiapkan diri untuk menyesuaikan diri.

Ia berhenti untuk beristirahat dan menulis di dinding Labirin:

CIUMLAH CHEESE SESERING MUNGKIN SEHINGGA ANDA TAHU SAAT IA MULAI MEMBUSUK

Beberapa waktu kemudian, sesudah sekian lama tidak juga menemukan Cheese, Haw menemukan se­buah Cheese Station besar yang tampak menjanji­kan. Namun saat ia masuk ke dalamnya, ia sangat kecewa karena ternyata kosong.

“Perasaan kosong ini sudah sering aku rasakan,” pikirnya. Ia merasa putus asa dan ingin menyerah saja.

Kekuatan Haw jauh menurun. Ia tahu ia tersesat dan takut kalau tidak bisa bertahan hidup. Ia berpikir untuk berbalik arah dan kembali ke Cheese Station C. Paling tidak jika ia kembali, dan Hem masih ada di sana, ia tidak akan sendirian. Kemudian ia menanya­kan pertanyaan yang sama lagi, “Apa yang akan saya lakukan jika saya tidak takut?”

Haw merasa bahwa ia sudah bisa mengatasi rasa takutnya, namun sebenamya ia lebih sering merasa takut dibandingkan keberanian yang ia akui, bahkan pada dirinya sendiri. Ia tidak selalu begitu yakin akan penyebab rasa takut itu, namun dalam kondisi yang semakin lemah, ia tahu bahwa sebenarnya ia takut pergi sendiri. Haw tidak mengetahuinya, hal itu terja­di karena rasa takut yang ditimbulkan oleh berbagai macam kepercayaan yang diyakininya lebih mendo­minasi dirinya.

.Haw bertanya-tanya apakah Hem juga sudah mu­lai bergerak, atau masih terbelenggu oleh ketakutan­-ketakutannya. Kemudian Haw ingat masa-masa ter­baiknya saat berada di tengah belantara labirin. Yaitu saat is terus bergerak.

la menulis lagi di dinding, karena tulisannya lebih merupakan pengingat bagi dirinya sendiri dibanding sebagai petunjuk jalan bagi temannya si Hem, dengan harapan diikuti:

GERAKAN KE ARAH BARU MEMBANTU ANDA MENEMUKAN CHEESE BARU

Haw melihat jauh ke jalan setapak yang gelap, dan ia sadar kalau ia takut. Apa yang ada di depan sana? Apakah kosong? Atau bahkan lebih buruk lagi, ada bahaya mengancam? Ia mulai membayangkan hal-hal yang menakutkan yang bisa terjadi pada dirinya. Ia membuat dirinya sendiri ketakutan setengah mati.

Kemudian ia tertawa sendiri. Ia sadar bahwa rasa takut akan membuat keadaan menjadi bertambah bu­ruk. Maka ia pun melakukan apa yang akan ia laku­kan jika ia tidak takut. Ia bergerak ke arah yang baru.

Saat ia mulai berlari memasuki lorong yang gelap itu, ia pun tersenyum. Ia tidak menyadari sebelum­nya, namun ia menemukan hal yang menyejukkan jiwanya. Ia merelakan yang telah terjadi dan memper­cayai apa yang ada di depannya, meskipun ia tak tahu apa yang menantinya di depan sana.

Di luar perkiraannya, ia mulai menikmati apa yang dilakukannya. “Mengapa aku merasa sangat senang?” Pikirnya keheranan. “Aku tidak punya Cheese secuil pun dan tak tahu akan ke mana.”

Segera setelah itu, ia tahu apa yang membuatnya bahagia.

Ia berhenti dan menulis lagi di dinding:

SAAT ANDA MENINGGALKAN RASA TAKUT DI BELAKANG ANDA AKAN MERASA BEBAS

Haw menyadari bahwa dirinya telah terbelenggu oleh rasa takutnya sendiri. Bergerak menuju arah yang berbeda telah membebaskannya. Sekarang ia bisa merasakan tiupan angin dingin yang menyegarkan di bagian labirin tersebut. Ia mengambil napas panjang beberapa kali dan merasakan energi baru mengalir ke dalam tubuhnya. Begitu ia bisa mengatasi rasa takutnya, ternyata berada di labirin terasa lebih menyenangkan, berbeda dengan yang dulu dipercayainya.

Sudah lama Haw tidak merasakan hal seperti itu. Bahkan ia sudah hampir lupa betapa menyenangkan­nya mengejar Cheese.

Agar segalanya menjadi lebih baik, Haw mulai melukis gambar angan-angannya lagi. Ia melihat di­rinya secara utuh sedang duduk di tengah tumpuk­an Cheese kesukaannya—baik Cheddar maupun Brie! Ia melihat dirinya makan Cheese favoritnya sebanyak ia mau, dan ia menikmati pemandangan yang dilihatnya. Kemudian ia membayangkan ba­gaimana puasnya ia bisa merasakan rasa Cheese yang enak-enak itu.

Semakin jelas ia melihat bayangan dirinya menikmati Cheese baru, semakin nyata dan yakin bahwa hal itu bisa didapatkannya. Ia bisa merasakan bahwa ia memperoleh semuanya.

Ia menulis:

MEMBAYANGKAN DIRIKU SENDIRI SEDANG MENIKMATI CHEESE BARU, BAHKAN SEBELUM AKU MENEMUKANNYA, TELAH MENGARAHKAN AKU KEPADANYA

Haw tidak lagi berpikir tentang kerugian yang ba­kal ia derita, sebagai gantinya ia memikirkan tentang apa yang akan ia peroleh.

Ia terheran-heran mengapa sebelumnya ia selalu berpikir bahwa perubahan akan selalu berakibat bu­ruk. Sekarang ia menyadari bahwa perubahan bisa mengarah ke sesuatu yang lebih baik.

“Mengapa aku tidak bisa melihat hal ini sebelum­nya?” tanyanya pada diri sendiri.

Dan kemudian ia pun berlari sepanjang labirin de­ngan kekuatan dan semangat yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Tak lama kemudian ia menemukan Cheese Station dan sangat gembira ketika melihat ada sepotong Cheese Baru terlihat di dekat pintu masuk.

Ada berbagai jenis Cheese yang belum pernah ia lihat sebelumnya, namun semuanya kelihatan enak. Ia mencobanya dan ternyata memang enak.

Ia memakan hampir seluruh Cheese baru yang ada dan menyimpan sedikit di kantongnya untuk di­makan kemudian atau bahkan untuk dibagikan kepa­da Hem. Kekuatannya pun mulai pulih.

Ia memasuki Cheese Station baru itu dengan pe­nuh kegembiraan. Namun, ternyata di dalamnya ko­song, sungguh mengecewakan. Seseorang sudah le­bih dulu menghabiskan Cheese di situ dan hanya me­ninggalkan kepingan-kepingan kecil Cheese baru.

Ia menyadari bahwa jika saja ia bergerak lebih ce­pat, ia akan menemukan banyak Cheese baru di sini.

Haw memutuskan untuk kembali dan akan meli­hat apakah Hem sudah siap untuk bergabung.

Saat ia berbalik ke jalan yang pemah dilewatinya, ia berhenti dan menulis di dinding:

SEMAKIN CEPAT ANDA MELUPAKAN CHEESE LAMA SEMAKIN CEPAT ANDA MENEMUKAN CHEESE BARU

Beberapa saat kemudian Haw kembali ke Cheese Station C dan menemukan Hem di sana. Ia mena­warkan sepotong Cheese baru, namun ditolak.

Hem menghargai tawaran temannya itu, namun katanya, “Kupikir aku tidak akan suka Cheese baru. Itu bukan yang biasa aku makan. Aku ingin Cheese-­ku kembali dan aku tidak akan berubah sampai aku dapatkan yang aku mau.”

Haw hanya bisa menggelengkan kepalanya, ke­cewa, dan dengan enggan kembali keluar seorang diri. Saat ia tiba kembali di ujung tempat terjauh yang per­nah ia jelajahi, ia pun merasa kehilangan teman, na­mun menyadari ia menyukai apa yang sedang dite­mukannya. Bahkan sebelum menemukan impiannya, persediaan Cheese baru yang banyak, jika ada, ia tahu bahwa yang membuatnya bahagia bukanlah ha­nya memiliki Cheese.

Ia bahagia karena tidak dikejar-kejar oleh rasa takutnya. Ia menyukai apa yang sedang ia lakukan sekarang.

Menyadari hal ini, Haw tidak lagi merasa selemah saat ia masih tinggal di Cheese Station C tanpa Cheese. Kesadaran bahwa ia tidak akan membiarkan rasa takutnya menghentikannya dan bahwa ia seka­rang menuju ke arah baru membuat Haw bersemangat dan merasa kuat.

Sekarang ia merasa bahwa tinggal menunggu wak­tu saja sebelum ia menemukan yang ia butuhkan. Bah­kan ia sudah bisa merasakan ia telah menemukan apa yang ia cari.

Ia tersenyum saat menyadari:

JAUH LEBIH AMAN PERGI MENCARI CHEESE DI LABIRIN DIBANDING TETAP BERTAHAN DALAM KEADAAN TANPA CHEESE

Haw kembali menyadari, seperti yang pernah ia rasakan sebelumnya, yaitu bahwa apa yang kita takutkan tidaklah seburuk yang kita bayangkan. Ke­takutan yang kita biarkan berkembang dalam pikiran kita jauh lebih buruk daripada kenyataan sebenarnya.

Ia pernah sangat takut kalau-kalau tidak bisa me­nemukan Cheese lagi, dan oleh karenanya ia takut untuk mulai mencari. Namun sejak ia memulai perja­lanannya ia menemukan cukup banyak Cheese di lo­rong-lorong untuk membantunya bertahan. Dan se­karang ia berencana untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Hanya berencana saja sudah membuatnya ber­gairah.

Pemikirannya di masa lalu telah tertutup oleh awan kecemasan dan ketakutannya. Ia pernah berpikir akan kekurangan Cheese, atau Cheese-nya tidak bisa ber­tahan lama. Ia juga lebih banyak berpikir tentang aki­bat buruk apa yang akan terjadi dibandingkan kebaik­an apa yang bisa ia peroleh.

Namun hal itu sudah berubah saat ia meninggal­kan Cheese Station C.

Ia pernah punya keyakinan bahwa Cheese seba­iknya tidak boleh dipindahkan dan perubahan adalah sesuatu yang salah.

Saat ini ia menyadari bahwa perubahan akan sela­lu terjadi, baik kita mengharapkannya atau tidak. Per­ubahan hanya bisa mengagetkan kita jika kita tidak mengharapkannya dan tidak memperkirakannya.

Saat menyadari bahwa keyakinannya telah beru­bah, ia berhenti untuk menulis di dinding:

KEYAKINAN LAMA TIDAK AKAN MEMBAWA KEPADA CHEESE BARU

Haw belum lagi menemukan Cheese, namun saat ia berlarian di dalam Labirin, ia memikirkan pelajar­an-pelajaran yang ia dapatkan.

Haw sekarang sadar bahwa keyakinan barunya membentuk perilaku yang baru pula. Tindakannya saat ini sangat berbeda dengan apa yang ia lakukan saat masih bolak balik ke station cheese yang kosong dulu.

Ia tahu saat Anda mengubah keyakinan Anda maka tin­dakan Anda pun berubah.

Bisa saja Anda percaya bahwa perubahan akan mencelakakan Anda sehingga Anda menolaknya. Na­mun bisa pula Anda berkeyakinan bahwa menemu­kan Cheese baru akan sangat membantu Anda, oleh karena itu Anda menyambut perubahan yang terjadi.

Itu semua tergantung dari pilihan keyakinan Anda.

Ia menulis di dinding:

JIKA ANDA SADAR BAHWA ANDA BISA MENEMUKAN DAN MENIKMATI CHEESE BARU MAKA ANDA AKAN MENGUBAH HALUAN

Haw mengakui jika saja ia lebih cepat mengatasi perubahan yang terjadi dan meninggalkan Cheese Sta­tion C dari awal, mungkin keadaannya sudah lebih baik. Ia akan merasa lebih kuat dan sehat lahir batin serta siap menghadapi tantangan pencarian Cheese baru. Bahkan, mungkin ia sudah menemukannya se­karang jika saja ia siap mengantisipasi perubahan, daripada membuang waktu untuk menyangkal bah­wa perubahan sudah datang.

Ia menggunakan imajinasinya lagi dan melihat di­rinya telah menemukan Cheese baru dan sedang me­nikmatinya. Ia memutuskan untuk terus menjelajahi bagian-bagian yang belum diketahuinya di dalam Labirin, dan menemukan sedikit Cheese di sana-sini. Haw pun mulai mendapatkan kembali kekuatan dan kepercayaan dirinya.

Saat ia memikirkan tempat asalnya dulu, Haw merasa gembira karena telah menulisi dinding labirin di beberapa tempat. Ia yakin tulisan-tulisan itu bisa men­jadi petunjuk jalan bagi Hem, jika ia memutuskan un­tuk meninggalkan Cheese Station C.

Haw hanya berharap ia menuju ke arah yang be­nar. Ia memikirkan tentang kemungkinan Hem membaca Tulisan Tangan di Dinding dan menemu­kan jalannya.

Ia menulis di dinding, suatu hal yang telah beru­lang kali dipikirkannya:

MEMPERHATIKAN PERUBAHAN-PERUBAHAN KECIL SEJAK AWAL AKAN MEMBANTU ANDA MENYESUAIKAN DIRI TERHADAP PERUBAHAN BESAR YANG AKAN MUNCUL

Saat ini, Haw telah bisa melupakan masa lalu dan menyesuaikan diri dengan situasi sekarang.

la meneruskan pencariannya di dalam labirin de­ngan kekuatan dan kecepatan yang terus bertambah. Dan tak lama kemudian, terjadilah….

Saat ia merasa bahwa ia akan terjebak dalam labirin selamanya, perjalanannya—atau setidaknya per­jalanannya saat ini—berakhir dengan cepat dan meng­gembirakan.

Haw menyusuri sebuah lorong yang belum per­nah dimasukinya, berbelok, dan ia menemukan Cheese baru di Cheese Station N!

Saat ia masuk, pemandangan di depannya mem­buatnya sangat terkejut. Tumpukan Cheese tampak ada di mana-mana, benar-benar persediaan Cheese terbesar yang pernah dilihatnya. Tidak semua Cheese dikenalnya, karena beberapa di antara Cheese tersebut ada yang baru kali ini dilihatnya. Untuk sesaat ia bertanya-tanya apakah ini benar-­benar terjadi atau hanya khayalannya saja, sampai ia melihat dua teman lamanya, Sniff dan Scurry.

Sniff menyambutnya dengan anggukan kepala, dan Scurry melambaikan cakarnya. Perut mereka yang membuncit menunjukkan bahwa mereka sudah cu­kup lama berada di sana.

Haw dengan cepat membalas salam itu dan sege­ra mencicipi semua Cheese kesukaannya. Ia melepas sepatu larinya, mengikat kedua talinya, dan mengalungkannya di leher. Sniff dan Scurry tertawa. Mereka menganggukkan kepala tanda setuju. Kemu­dian Haw menerjang Cheese Baru. Saat ia sudah kenyang, diangkatnya sepotong Cheese segar dan bersulang. “Selamat untuk Cheese!

Saat Haw menikmati Cheese-nya, ia mengingat­-ingat kembali pelajaran yang diperolehnya.

Ia sadar saat ia merasa takut berubah ia ter­belenggu oleh bayangan mengenai Cheese lama yang sebetulnya sudah tidak ada lagi.

Jadi apa yang membuatnya berubah? Apakah rasa takut akan coati kelaparan? Haw tersenyum, karena hal semacam itu kadang bisa membantu juga.

Kemudian ia tertawa dan menyadari bahwa ia mulai berubah saat la belajar untuk menertawakan dirinya sendin atas kesalahan yang ia lakukan. Ia sadar bahwa cara tercepat untuk berubah adalah dengan menertawakan kebodohan diri sendiri—sehingga kita bisa merelakan, melupakan, dan dengan cepat mulai bergerak.

Ia tahu, ia telah belajar hal yang sangat berguna dari rekan tikusnya, Sniff dan Scurry. Mereka mem­buat hidup ini sederhana. Mereka tidak memperumit masalah. Saat si­tuasi berubah dan Cheese dipindahkan, mereka ber­ubah dan bergerak mengikuti Cheese. la akan meng­ingat hal itu.

Haw juga menggunakan otaknya yang luar biasa untuk melakukan hal yang bisa dilakukan lebih baik oleh kurcaci dibandingkan tikus.

Ia juga menyadari bahwa halangan terbesar untuk berubah terletak di dalam diri sendiri, dan masalah­nya tidak akan membaik jika tidak berubah.

Mungkin yang paling penting adalah selalu ada Cheese baru di luar sana baik disadari maupun tidak. Dan itu baru bisa didapatkan setelah mengatasi rasa takut dan menikmati petualangan.

Ia tahu rasa takut itu penting, karena akan menja­uhkan kita dari bahaya. Namun ia menyadari sebagian besar ketakutannya tidak masuk akal dan meng­halanginya untuk berubah saat diperlukan.

Saat itu ia tidak menyukai perubahan, Namun ter­nyata perubahan tersebut menjadi suatu karunia yang mengantarnya menemukan Cheese yang lebih baik.

Saat Haw mengingat-ingat hal yang telah dipe­lajarinya, ia teringat temannya Hem. Ia bertanya-ta­nya apakah Hem sudah membaca pesan-pesan yang ia tuliskan di dinding Cheese Station C dan labirin. Apakah Hem sudah memutuskan untuk merela­kan dan mulai bergerak? Apakah ia telah masuk ke dalam Labirin dan menemukan hal-hal yang membu­at hidupnya lebih baik? Ataukah Hem tetap saja membatu karena ia tidak mau berubah?

Haw berpikir untuk kembali lagi ke Cheese Sta­tion C untuk melihat apakah Hem masih ada di sana—dengan asumsi ia masih bisa mengingat jalan kem­bali. Jika ia menemukan Cheese di sana, ia mungkin bisa menunjukkan cara bagaimana ia bisa keluar dari kesulitan yang dihadapinya. Namun Haw juga sadar bahwa ia sudah rernah mencoba untuk membuat temannya itu berubah.

Hem harus bisa menemukan jalannya sendiri, ke­luar dari rasa nyamannya dan mengatasi rasa takutnya. Tak ada seorang pun yang bisa melakukan hal itu untuknya atau membujuknya. Ia harus bisa melihat keuntungan dari perubahan yang terjadi bagi dirinya.

Haw tabu bahwa ia sudah meninggalkan petunjuk jalan bagi Hem dengan itu ia pasti bisa menemukan jalan, yang diperlukan hanya membaca tulisan tangannya di dinding.

Ia menghentikan lamunannya dan menulis ringkasan pelajaran yang diperolehnya di dinding terbesar di Cheese Station N. Digambarnya potongan Cheese yang besar di sekeliling kebenaran-kebenaran yang diperolehnya, dan ia tersenyum saat melihat apa yang telah ia dapatkan:

PERUBAHAN SELALU TERJADI, MAKA PERHATIKAN PERUBAHAN DAN BERSIAPLAH UNTUK MENGANTISIPASINYA. SESUAIKAN DIRI DENGAN CEPAT, BERUBAHLAH SEIRING PERUBAHAN DAN NIKMATILAH PETUALANGAN MENGARUNGI PERUBAHAN TERSEBUT.

Haw tahu ia telah banyak berubah sejak terakhir kali ia bersama Hem di Station Cheese C, namun ia juga sadar bahwa dengan mudah ia bisa kembali ke kebiasaan lama jika ia merasa terlalu nyaman. Oleh karena itu, setiap hari ia memeriksa Station Cheese N untuk melihat keadaan Cheese-nya. la melaku­kan segalanya agar perubahan tidak lagi mengejutkannya.

Meskipun Haw mempunyai persediaan Cheese yang sangat banyak, ia masih sering menjelajahi labirin dan mendatangi daerah-daerah baru, sehingga ia akan tetap tahu apa yang terjadi di sekitarnya. Menurutnya jauh lebih aman jika ia menyadari pilihan-pilihan yang ada di depannya dibandingkan mengunci diri dalam zona kenyamanannya sendiri.

Kemudian, Haw mendengar suara yang menurut­nya berasal dari dalam labirin. Saat suara ribut itu semakin keras terdengar, ia sadar bahwa seseorang sedang menuju ke sana.

Hemkah yang datang? Diakah yang akan muncul di belokan sana?

Haw berharap—seperti yang sering ia lakukan selama ini—bahwa mungkin akhir­nya temannya mampu untuk…

BERGERAK BERSAMA CHEESE DAN MENIKMATINYA!

Tamat… ataukah sebuah awal yang baru?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s