Logika Tawassul (Revisi)

Posted: November 30, 2007 in Aqidah, Fiqh, Sanggahan & Kritik Ilmiah, Umum

Penulis pernah mendapati logika yang dikemukakan oleh orang-orang yang menganjurkan tawassul dengan orang-orang yang sudah wafat—yang zahirnya adalah orang shalih—di makam mereka, sebagai berikut: Seseorang yang hendak menemui dan meminta kepada raja maka ia harus melalui perantaraan sekretarisnya, bawahannya, atau orang yang dekat dengan raja terlebih dahulu, maka begitu pula orang yang hendak menghadap dan meminta kepada Allah, Sang Maha Raja, maka ia menggunakan perantaraan (ber-tawassul) dengan orang-orang yang dekat dengan Allah, yaitu orang-orang shalih atau para wali, di makam mereka.

Ini adalah logika, silogisme dan analogi yang sangat fatal kekeliruannya (qiyās fāsidu’l i`tibār wa ma`a’l fāriq). Sebab, tentu tidak sama antara raja dunia dengan Allah, Sang Maha Raja. Raja dunia banyak memiliki kelemahan. Ia dapat dimudharatkan oleh orang lain yang tidak dikenalnya, yaitu dibunuh atau dilukai. Di samping bahwa kekayaan raja dunia yang sangat terbatas sehingga ia tidak mampu mengabulkan permintaan dari seluruh rakyatnya. Karena itulah maka ia membutuhkan perantara, yaitu untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dan untuk menyeleksi permintaan yang masuk kepadanya. Adapun Allah, maka siapakah yang mampu memudharatkan Allah? Bukankah Allah itu maha kaya dan dengan mudah mampu memenuhi permintaan setiap hamba-Nya?

Disebutkan dalam hadits qudsi, bahwa Allah berkata,

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي. وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي. يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ. كَانُوا عَلَىٰ أَتْقَىٰ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ. مَا زَادَ ذٰلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً. يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ. كَانُوا عَلَىٰ أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً. يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ. قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي. فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ. مَا نَقَصَ ذٰلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ

“Hai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan mampu memudharatkan-Ku dan juga tidak akan mampu memberi manfaat kepada-Ku. Hai para hamba-Ku, sekiranya yang awal dan yang akhir dari kalian, begitu pula jin dan manusia seluruhnya berada pada kondisi satu hati yang paling bertaqwa dari kalian niscaya hal itu tidak menambah apapun pada kerajaan-Ku. Hai para hamba-Ku, sekiranya sekiranya yang awal dan yang akhir dari kalian, begitu pula jin dan manusia seluruhnya berada pada kondisi satu hati yang paling durhaka dari kalian niscaya hal itu tidak mengurangi sedikit pun dari kerajaan-Ku. Hai para hamba-Ku, sekiranya sekiranya yang awal dan yang akhir dari kalian, begitu pula jin dan manusia seluruhnya berdiri pada suatu tempat, lalu semuanya meminta kepada-Ku dan kemudian Aku penuhi permintaan dari masing-masing kalian, maka tidaklah hal itu mengurangi apa yang di sisi-Ku melainkan seperti berkurangnya (air laut yang menempel pada) jarum apabila dicelupkan kepadanya.” [Riwayat Muslim dan lain-lain.]

Di samping itu, dengan menggunakan logika yang sama dapat kita katakan: Manakah yang lebih baik; raja yang jauh dari rakyatnya sehingga rakyatnya harus memakai perantara untuk menemuinya, ataukah raja yang sangat dekat dan egaliter sehingga rakyatnya dapat bertemu langsung dengannya tanpa perantara? Tentu jawabnya adalah raja tipe kedua. Jika demikian, maka mengapa mereka justru menganalogikan Allah `Azza wa Jalla dengan raja tipe pertama?! Subhāna’Llāh ‘an mā yashifun.

تِلْكَ إِذاً قِسْمَةٌ ضِيزَى {22} إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاء سَمَّيْتُمُوهَا أَنتُمْ وَآبَاؤُكُم مَّا أَنزَلَ اللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنفُسُ وَلَقَدْ جَاءهُم مِّن رَّبِّهِمُ الْهُدَى {23}

Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentangnya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka.” (QS. An-Najm: 22-23)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila para hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah [2]: 186)

Selanjutnya, dari mana akan diketahui bahwa orang yang telah wafat yang dijadikan sebagai perantara itu adalah sebenar-benar wali Allah atau orang shalih dalam pandangan Allah? Meskipun secara zahir yang bersangkutan adalah orang shalih, tapi bukankah kita tidak mengetahui batin dan kadar keikhlasannya? Keikhlasan dan batin seseorang hanya diketahui oleh Allah. Padahal, keikhlasan adalah faktor utama yang menentukan penerimaan seseorang di sisi Allah. Bukankah yang masuk neraka pertama kali adalah orang alim atau qāri’, mujāhid dan penderma yang tidak ikhlas, padahal secara zahir mereka tampak sebagai orang shalih?

Dari Abū Hurairah, Nabi ` bersabda,

إنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَىٰ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ، رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ. فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّىٰ اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ: كَذَبْتَ. وَلكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ حَتَّىٰ أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ. فَأُتِيَ بِهِ. فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَـٰكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ. وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ حَتَّىٰ أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ. فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ. وَلَـٰكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ. ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya manusia yang pertama kali diadili pada hari Kiamat (ada tiga); (1) Orang yang mati syahid. Ia didatangkan lalu diperkenalkan nikmat-nikmatnya, maka ia pun mengenalnya. Selanjutnya Allah bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat tadi?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang di jalan-Mu hingga terbunuh.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya disebut pemberani, dan itu sudah terealisir. Lalu diperintahkan agar ia diseret atas wajahnya, hingga dilemparkan ke neraka. (2) Orang yang mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca al-Qur’ān. Ia didatangkan lalu diperkenalkan nikmat-nikmatnya, maka ia pun mengenalnya. Selanjutnya Allah bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat tadi?’ Ia menjawab, ‘Aku mempelajari ilmu di jalan-Mu dan akupun mengajarkannya, serta aku membaca al-Qur’ān di jalan-Mu.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau belajar supaya disebut `alim, dan itu sudah terealisir. Engkau juga membaca al-Qur’ān supaya disebut dia qāri’ dan hal itu sudah terealisir.’ Lalu diperintahkan agar ia diseret atas wajahnya, hingga dilemparkan ke neraka. (3) Orang yang diberi kelapangan oleh Allah dan diberikan segala jenis harta. Ia didatangkan lalu diperkenalkan nikmat-nikmatnya, maka ia pun mengenalnya. Selanjutnya Allah bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat tadi?’ Ia menjawab, ‘Tidaklah ada suatu sarana yang Engkau suka agar diinfakkan di dalamnya melainkan aku berinfak di dalamnya untuk-Mu.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau melakukannya supaya disebut dermawan, dan hal itu sudah terealisir.’ Lalu diperintahkan agar ia diseret atas wajahnya, hingga dilemparkan ke neraka.” [Riwayat Muslim III/1304/1678.]

Dalam lafazh lain disebutkan bahwa Nabi ` kemudian berkata kepada Abū Hurairah,

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أُولِئَكَ الثَّلاَثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ الله تُسَعَّرُ بِهِمْ النَّارُ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Ya Abū Hurairah, tiga orang itulah adalah makhluk Allah yang pertama kali dinyalakan neraka dengan mereka.” [Riwayat at-Tirmidzi dan lain-lain, serta dinyatakan valid oleh Syaikh al-Albāni]

Imam Ibnu’l Qayyim berkata, “Saya mendengar Syaikhu’l Islām Ibn Taimiyyah mengatakan, apabila sebaik-baik manusia adalah para Nabi, maka sejelek-jelek manusia adalah orang yang berusaha menyerupai mereka dari kalangan pendusta. Ia mengaku termasuk kalangan mereka, padahal ia bukan dari kalangan mereka. Sebaik-baik manusia setelah para Nabi adalah para ulama, syuhadā’, dan para penderma yang ikhlas, dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang berusaha menyerupai mereka dengan menimbulkan persepsi yang salah bahwa ia termasuk kalangan mereka, padahal sebenarnya bukan dari kalangan mereka.” [Lihat ad-Dā’ wa’d Dawā’ hal. 20.]

Kemudian, jika Anda berdoa langsung kepada Allah tanpa ber-tawassul kepada orang yang telah meninggal, maka seluruh ulama sepakat menilai bahwa hal tersebut sah dan tidak ada yang melarang hal itu. Sedangkan jika Anda berdoa dengan ber-tawassul kepada orang yang telah meninggal, maka sebagian ulama menyatakan bahwa hal itu sebagai bid`ah dan sebagian lain menyatakan sebagai bentuk kesyirikan. Sebagai orang yang berakal, manakah yang Anda pilih? Bukankah selayaknya Anda memilih yang lebih selamat dan yang disepakati kebolehannya oleh seluruh ulama, apalagi jika hal tersebut justru lebih memudahkan?

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qāf: 37)

Semoga ada manfaatnya….

Salam,

Abū Fāris An-Nūri

NB:

Pembahasan kali ini hanyalah terbatas sanggahan dan kritik ilmiah atas logika terkait tawassul sebagaimana di atas, dan bukan pembahasan terperinci mengenai tawassul. Adapun pembahasan terperinci tersebut maka in syā’a’Llāh akan saya turunkan di lain kesempatan, jika memungkinkan.

Comments
  1. zoel08 says:

    Jazakallah Ustadz atas tulisannya.
    Ana mau tanya adakah Ulama Ahlussunnah yang membolehkan bertawasul dengan Nabi sesudah beliau wafat atau kepada orang shalih yang sudah mati? Soalnya ini menjadi hujjah bagi mereka untuk mengatakan bahwa hal ini adalah masalah khilafiyah sehingga tidak boleh kita terlalu membesarkan masalah ini.

    Syukron

  2. ddians says:

    assalamualaikum
    artikel ini semakin membuka pintu hidayah buat an.tapi ad yang masih an pertayakan mudah mudahan dengan jawaban dari abu fariz nantinyabisa lebih semakin membuka piyu hidayah itu agar tidak ada lagi keraguan ntuk an meninggal kan amalan tarekat yang sudah menjalar dalam keluarga an.berikut pertayaannya 1.bagaimana kalo bertawsul kepada orang yang masih hidup.2. bagaimanapula dengan silsilah yang dituliskan oleh ahli tarekat,yang dimulai dari allah .malaikat jbril.rasulullah. parasahabat.dn sampaisekarang masih ad penerusnya yang mereka sebut degan mursyid..apakah ini bisa kita benarkan sementara untuk sejarah silsilah tidak bisa an temukan secara jelas. mungkin ini dulu dari ana. untuk saat in an sudah mulai meninggalkan amalan tarekat yang sudah saya pelajari. muda mudahan an bisa benar benar menemukan amalan yang haq yang bisa menjadi keyakinan an nantinya. berikut email an.
    ddiansyah@yahoo.co.id. wssalam

    wa’alaikumu’ssalam warahmatu’Llahi wabarakatuh…

    Saya jawab singkat saja, ber-tawassul dengan orang yang masih hidup yang dibolehkan adalah ber-tawassul dengan doa orang yang masih hidup tersebut, dan bukan dengan dzatnya. Misal: seorang anak meminta kepada orang tuanya untuk mendoakannya, dan semisalnya.

    Terkait dengan pengakuan silsilah, maka bisa jadi benar dan bisa jadi salah. Dan, yang jelas, kalau semua pengakuan itu dibenarkan, maka hancurlah agama ini. Misalkan saya yang mengaku memiliki silsilah tersebut, tentu Anda tidak langsung percaya bukan? Sebab bisa jadi saya tidak benar dalam pengakuan tersebut. Dengan demikian, maka pengakuan silsilah itu tidak dapat dijadikan parameter, karena sifatnya subjektif. Dan, yang seharusnya dijadikan parameter adalah kesesuaian amalan dengan Sunnah yang valid, sebagaimana yang telah dikumpulkan, diteliti dan tertera dalam literatur Sunnah. Inilah parameter yang benar dan lebih objektif.

    wa’Llahu a`lam bi’sh shawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s