Revitalisasi Pemaknaan Salafiyyah Sebagai Metodologi dan Bukan Penamaan Belaka (Sebuah Tanggapan; Bag. 1)

Posted: May 22, 2008 in Manhaj, Akhlaq & Dakwah

Tulisan ini merupakan lanjutan dan penjelasan atas tulisan saya sebelumnya, yang sempat diangkat dan diperbincangkan pada sebagian situs/forum dunia maya. Tulisan semacam ini merupakan realisasi niatan saya untuk melakukan kritik konstruktif (naqd bannā’) terhadap sebagian pihak yang mengaku Salafi atau mengaku mengikuti manhaj (metodologi) Salaf. Tentu bukan manhaj Salaf yang tengah saya kritik, namun tindakan sebagian pengaku Salafi itulah yang saya kritik. Saya harap dua hal ini dapat dibedakan dengan baik, dan keduanya totally different.

Mungkin timbul pertanyaan, khususnya di kalangan SaIafi, bukankah masih banyak kelompok/individu yang jauh lebih menyimpang sehingga lebih perlu dikritik? Dan sejauh mana urgensi kritik semacam ini?

Memang benar bahwa banyak kelompok lain yang jauh lebih menyimpang dan perlu diluruskan. Namun, kritik ini penting dilakukan mengingat pihak yang melakukannya boleh dibilang belum memadai.

Mengenai skala prioritas dan adanya kelompok lain yang jauh lebih menyimpang, maka kurang tepat kiranya untuk dijadikan argumen dalam menafikan kritik dimaksud. Sebab, adanya perkara yang lebih penting tidaklah menafikan perkara yang penting. Bahkan, perkara penting merupakan komplemen, penyempurna dan penyusun perkara yang lebih penting. Di samping itu, mungkin dapat dikatakan bahwa tidak ada satu pun perkara yang lebih penting melainkan ada perkara yang lebih penting lagi. Bahkan untuk syahadat sekalipun, bisa dikatakan bahwa lā ilāha illa’Llāh lebih penting dibandingkan muhammadu’rrasūlu’Llāh. [Lihat Kaifa Tuhakkim Nafsaka…, karya Syaikh Husain al-`Awāyisyah.]

Penentuan skala prioritas juga berbeda-beda, tergantung waktu, tempat dan kondisi, termasuk sudut pandang (point of view) dan kemampuan subjek melihat permasalahan. Pada kenyataannya, didapati sebagian komunitas SaIafi yang lebih concern mengkritik jamaah lain, bahkan sesama pengaku Salafi, yang secara umum boleh dibilang sama-sama menginginkan tegaknya syariah Islam, dibandingkan mengkritik atau menyanggah pihak yang secara blak-blakan menolak syariah, semisal JIL (Jaringan Islam Liberal) dan antek-anteknya yang kini tengah menancapkan kukunya di berbagai perguruan tinggi serta perkantoran.

Kritik konstruktif terhadap orang-orang yang berafiliasi kepada salafiyyah atau Ahlu’s Sunnah sebenarnya pun telah dilakukan oleh sejumlah ulama, ustadz dan dai, baik secara tegas dan jelas, maupun secara halus dan samar. Di antaranya adalah Syaikh ‘Abdu’l Muhsin al-`Abbād dengan risalah singkat beliau yang monumental, Rifqan Ahla’s Sunnah bi Ahli’s Sunnah; Ustadz Firanda melalui buku Lerai Pertikaian, Sudahi Permusuhan; Ustadz Abū Salmā melalui sejumlah tulisan yang dipublikasikan melalui blog-nya, www.abusalma.wordpress.com, dan lain-lain. Semoga di lain waktu, jika Allah memberi kemudahan, in syā-a’Llāh akan saya kutipkan ucapan ulama seputar permasalahan ini. Tentu saja saya sama sekali tidak bermaksud untuk menyejajarkan diri saya dengan mereka yang tersebut di atas, apalagi ulama. Saya hanya ingin menegaskan bahwa saya bukanlah orang baru apalagi bersendirian dalam hal ini. Meskipun mungkin metode, model dan cara penyampaian kritik konstruktif tersebut menggunakan bentuk yang berbeda-beda, dan mungkin bisa dibilang saya memiliki style tersendiri dalam hal ini.

Jika dikristalisasi, kritik konstruktif tersebut mungkin bisa dibilang berkisar pada dua isu utama: ādāb al-khilāf (etika dalam berbeda pendapat) dan mu`āmalatu’l mukhālif (menyikapi pihak yang berseberangan pendapat). Isu pertama terkait dengan eksistensi perbedaan itu sendiri dan lebih ke arah konsep normatif, sedangkan isu kedua terkait dengan pelaku perbedaan dan lebih ke arah konsep aplikatif. Kedua isu tersebut berhubungan sangat erat satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan.

Kesalahan dalam memahami dan mengimplementasikan kedua hal tersebut dari sebagian pengaku manhaj Salaf inilah yang menjadi sumber utama terjadinya perpecahan internal di kalangan mereka, sekaligus melekatkan bad image atau stigma negatif bagi dakwah salafiyyah secara umum.

Di samping kritik konstruktif yang dilakukan oleh kalangan internal, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat pula kritik serupa dari kalangan eksternal yang tidak menyatakan afiliasinya kepada manhaj Salaf, atau bahkan sangat resisten dan antipati terhadap dakwah salafiyyah. Jika kritikan itu benar adanya, maka seharusnya tidak perlu dipermasalahkan. Bahkan seorang Muslim wajib mengambil kebenaran dari manapun datangnya, sekalipun dari musuh. Hal ini pernah saya bahas secara lebih detil pada tulisan sebelumnya. Inilah bagian dari keadilan yang diperintahkan oleh Allāh `Azza wa Jalla melalui firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS. Al-Māidah)

Diriwayatkan bahwa Yahudi pernah mendatangi Nabi—shalla’Llāhu wa `alaihi wa sallam—dan berkata, “Kalian melakukan kesyirikan dan menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah!” Nabi—shalla’Llāhu wa `alaihi wa sallam—bertanya, “Mengapa bisa demikian?” Yahudi menjawab, “Kalian berkata, ‘Demi Ka’bah!’ Dan kalian juga berkata, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak Fulan!’” Maka Nabi—shalla’Llāhu wa `alaihi wa sallam—memerintahkan kepada para Sahabat apabila bersumpah agar mengucapkan: ‘Demi Rabb Ka’bah!’ Serta agar mereka mengatakan: ‘Atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu.’” [Riwayat an-Nasā’i VII/6/3773 dan lain-lain. Dinyatakan valid oleh Syaikh al-Albāni.]

Perhatikan bagaimana Nabi—shalla’Llāhu wa `alaihi wa sallam—menerima dan membenarkan kritik dari Yahudi sekalipun—la`anahumu’Llāh.

Di samping kritik konstruktif, tulisan saya sebelumnya juga memuat pernyataan sikap saya terhadap kelompok-kelompok yang ada pada saat ini. Saya tegaskan bahwa saya meyakini sepenuhnya kewajiban untuk ber-Islam dengan tidak menyimpang dari konsensus Salaf, atau yang disetarakan dengannya, tanpa berafiliasi kepada kelompok atau komunitas tertentu. Inilah keputusan saya pribadi sampai saat ini.

Selama diajari dan mempelajari manhaj Salaf, saya—juga kita semua, barangkali—mengetahui dan meyakini bahwa manhaj Salaf itu bersifat universal dan menyatukan, karena lintas benua, lintas komunitas, lintas kabilah/kesukuan, lintas budaya, bahkan lintas waktu. Manhaj Salaf merupakan antipode dari hizbiyyah (sektarianisme) dan ta`ashshub (fanatisme) yang menyebabkan umat terpecah-belah tanpa landasan yang dibenarkan syara`.

Siapapun orangnya, apapun warna kulitnya, apapun komunitasnya, dan di mana pun daerahnya, sekalipun di pegunungan terpencil, apabila ia ber-Islam dengan tidak menyimpang dari konsensus as-Salaf ash-shalih (the righteous early muslims), atau yang disetarakan dengannya, maka ia termasuk Ahlu’s Sunnah, al-Firqah an-Nājiyah, ath-Thā’ifah al-Manshūrah, as-Sawād al-A`zham, al-Ghurabā’, Salafiyyūn, dan Ahlu’l Hadīts (dalam pengertian yang lebih umum) yang merupakan representasi dari Muslim yang menganut Islam yang benar, otentik, pure dan original. Dengan demikian, sebagai landasan pemersatu adalah metodologi Salaf, dan bukan institusi, kelompok atau komunitas tertentu yang mengaku Salafi. Prinsip al-walā’ wa’l barā’ (loyalitas dan permusuhan) pun seharusnya didasarkan atas metodologi Salaf dan bukan atas entitas kelompok semata—sekalipun dinamakan Salafi. Terlebih lagi jika kelompok-kelompok pengaku Salafi tersebut saling cakar-cakaran satu sama lain.

Imam Ibn Taimiyyah berkata,

وليس لأحد أن ينصب للأمة شخصا يدعو الى طريقته ويوالي ويعادي عليها غير النبى ولا ينصب لهم كلاما يوالي عليه يعادي غير كلام الله ورسوله وما اجتمعت عليه الأمة بل هذا من فعل أهل البدع الذين ينصبون لهم شخصا أو كلاما يفرقون به بين الأمة يوالون به على ذلك الكلام أو تلك النسبة ويعادون

“Tidak dibenarkan bagi seorang pun untuk mengangkat person tertentu bagi umat, di mana ia menyeru kepada jalan person itu, serta membangun loyalitas dan permusuhan di atas jalan tersebut, selain dari Baginda Nabi—shalla’Llāhu wa `alaihi wa sallam. Dan tidak dibenarkan pula untuk mengangkat suatu ucapan (pendapat) bagi umat, di mana yang bersangkutan membangun loyalitas dan permusuhan di atasnya, selain dari ucapan Allāh dan Rasul-Nya, serta apa yang telah menjadi konsensus (ijmā`) umat. Bahkan yang demikian ini merupakan perbuatan ahli bid`ah, di mana mereka mengangkat tokoh atau ucapan yang dengannya mereka memecah belah umat. Mereka membangun loyalitas dan permusuhan di atas ucapan atau penisbatan tersebut.” [Majmū` al-Fatāwā, vol. XX, hal. 164.]

Sama saja status hukumnya antara mengangkat tokoh ataukah mengangkat kelompok tertentu—meskipun mengaku Salafi—lalu kemudian membangun al-walā’ wa’l barā’ (loyalitas dan permusuhan) di atas semata-mata entitas kelompok, tanpa membedah lebih dalam metodologi (manhaj) yang dianut. Yang demikian ini adalah ciri khas ahli bid’ah dan bukan bagian dari manhaj Salaf.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa manhaj Salaf membentuk masyarakat yang universal dan penuh keragaman—dengan aturan: tidak menyimpang dari konsensus Salaf, atau yang disetarakan dengannya. Manhaj Salaf tidak membentuk masyarakat komunal. Apa itu masyarakat komunal? Pada umumnya ciri-ciri masyarakat komunal adalah: Pertama, memiliki keingintahuan (curiousity) yang over dosis terhadap orang lain. Kedua, Bila ada orang lain yang berbeda, maka mereka akan “dibentuk” agar menjadi sama dan homogen melalui mekanisme rumor. Dengan demikian rumor lebih ditujukan kepada “mereka yang tidak sama agar menjadi sama”. Ketiga, Sistem senioritas dan penghormatan yang berlebihan terhadap penghuni lama. Pendatang baru dituntut untuk tunduk kepada mereka yang datang lebih dahulu. Hambatan terhadap orang baru diterapkan untuk menimbulkan kepatuhan terhadap orang lama. [Lihat Re-Code Your Change DNA, Rhenald Kasali, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, cet. Kedua, Februari 2007, hal. 14.]

Jika dalam kelompok yang mengaku manhaj Salaf masih terdapat ciri masyarakat komunal sebagaimana di atas, maka berarti kelompok tersebut masih belum sepenuhnya on the right track. Dan secara fakta yang jujur, ternyata ciri masyarakat komunal masih terdapat dalam sebagian komunitas pengaku Salafi.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa kesamaan metodologi mau tidak mau pasti berimplikasi kepada terbentuknya kelompok. Meskipun bersifat universal atau bahkan sporadis sekalipun, dan bukan komunal, namun tetap saja dapat disebut sebagai kelompok. Pernyataan di atas mengandung kebenaran. Karena itu, nama lain Ahlu’s Sunnah wa’l Jamā`ah sebagaimana disebutkan dalam teks-teks yang valid adalah al-Firqah an-Nājiyah, yang artinya golongan yang selamat, atau ath-Thā’ifah al-Manshūrah, yang artinya kelompok yang mendapat pertolongan. Di antara teks dimaksud adalah sabda Nabi—shalla’Llāhu wa `alaihi wa sallam:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ مَنْصُوْرِيْنَ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى السَّاعَة

Senantiasa ada segolongan/sekelompok dari umatku yang mendapat pertolongan. Tidak memudharatkan mereka orang-orang yang merendahkan mereka sampai hari datangnya hari Kiamat.” [Riwayat at-Tirmdizi dalam Jāmi`-nya, IV/485/2192 dan lain-lain, dengan sanad yang valid.]

Imam Ahmad berkata, “Jika mereka bukan ahli hadits maka aku tidak tahu lagi siapa mereka.” Imam al-Qādhī `Iyādh berkata, “Sesungguhnya Ahmad memaksudkan Ahlu’s Sunnah wa’l Jamā`ah dan mereka yang beraqidah madzhab ahli hadits.” Imam an-Nawawi berkata, “Bisa jadi kelompok dimaksud terpecah-pecah di antara berbagai jenis kaum Mukmin. Di antara mereka ada para pemberani yang berperang (di jalan Allāh), ahli fiqh, ahli hadits, orang-orang yang zuhd, para penegak amr ma`rūf nahy munkar, dan jenis-jenis lain dari para pelaku kebaikan. Tidak ada kelaziman bahwa mereka bergabung, bahkan bisa jadi mereka terpisah-pisah di berbagai belahan bumi.” [Tuhfah al-Ahwadzī, vol. VI, hal. 360; dan al-Minhāj Syarh Shahīh Muslim Ibn al-Hajjāj, vol. XIII, hal. 67.]

Hanya saja, kelompok yang terbentuk dengan semata-mata asas kesamaan metodologi dan aqidah belaka, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ahmad dan al-Qādhī `Iyādh, tentu tidak dapat disamakan dengan pemaknaan kelompok menurut konotasi umum, di mana anggota-anggotanya membangun loyalitas di atas entitas kelompok. Inilah salah satu ciri yang membedakan antara hizbiyyah (sektarianisme) dan manhaj Ahlu’s Sunnah. Siapapun yang berada di atas kebenaran, maka ia merupakan bagian dari jamaah Ahlu’s Sunnah, meskipun ia bersendirian pada ruang terpencil dan lorong zaman yang berbeda. Masing-masing anggota dari kelompok Ahlu’s Sunnah terkoneksi secara contactless menembus sekat-sekat ruang dan waktu.

Ibn Mas`ūd berkata dalam atsar-nya yang masyhur,

الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ

“Jamaah itu adalah menepati kebenaran meskipun engkau sendirian.”

Dalam lafal lain:

الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ طَاعَةَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Jamaah itu adalah menepati ketaatan kepada Allāh `Azza wa Jalla.” [al-Bā`its `alā Inkār al-Bida` wa’l Hawādits, Abū Syāmah, hal. 22; Ighātsatu’l Lahfān, hal. 69.]

Ibn al-Qayyim berkata, “Orang yang nyeleneh (ganjil, syādzdz) adalah yang menyelisihi kebenaran, meskipun seluruh manusia di atas penyelisihan kebenaran tersebut, kecuali satu orang saja, maka mereka (seluruhnya) adalah orang-orang yang nyeleneh. Dahulu, pada zaman Ahmad Ibn Hanbal seluruh manusia nyeleneh kecuali suatu kelompok kecil, maka kelompok kecil itulah jamaah. Adapun para hakim, orang-orang yang terkena fitnah (pendapat bahwa al-Qur’ān adalah makhluk), dan Khalīfah beserta para pengikutnya, maka seluruhnya adalah orang-orang yang nyeleneh, sedangkan Imam Ahmad secara bersendirian adalah jamaah. Tatkala hal ini tidak dipahami oleh orang-orang (ketika itu), mereka pun berkata kepada Khalīfah, ‘Wahai Amīr al-Mu`minīn, apakah dirimu, para hakim yang kau tunjuk, pejabat bawahanmu, ahli fiqh, dan para muftī seluruhnya berada di atas kebatilan, sementara Ahmad bersendirian di atas kebenaran?!’” [I`lām al-Muwaqqi`īn, vol. III, hal. 397.]

Pada intinya, komunitas dan persatuan yang dibentuk dalam manhaj Ahlu’s Sunnah adalah berdasarkan kebenaran aqidah dan metodologi, dan bukan komunitas yang dipertautkan oleh semata-mata afiliasi atau penisbatan terhadap kelompok tertentu, apapun namanya, sekalipun mencatut nama Ahlu’s Sunnah atau Salafiyyūn.

Ada sebagian rekan yang memberi kritik dan masukan bahwa sikap yang saya pilih di atas, yaitu untuk menjadi orang ‘bebas’ dan tidak berafiliasi kepada kelompok manapun, tidak dapat diberlakukan kepada semua individu, khususnya orang-orang awam yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan penelaahan dan studi komparatif. Harus ada starting point di mana orang awam tersebut mulai mengaji dari komunitas tertentu dan memiliki keterikatan dengan komunitas tersebut.

Secara realitas, saya membenarkan hal ini, dan saya pun sama sekali tidak melazimkan semua orang untuk bersikap sebagaimana yang saya pilih. Hanya saja menurut saya, hal terpenting bagi orang awam itu adalah menyadari keawamannya dan menjaga dirinya untuk tidak terjebak ke dalam fanatisme. Sehingga dengan demikian, ia berusaha untuk senantiasa mengembangkan potensi ilmiahnya dan meningkatkan statusnya dari orang awam menjadi penuntut ilmu (thālib al-`ilm) independen, dalam artian tidak membebek, tergantung dan terkunci oleh komunitas sebelumnya. Bukan malah ikut-ikutan vonis sana serang sini terhadap orang-orang di luar komunitasnya—sebagaimana yang sering disaksikan. Orang awam termasuk golongan yang dibolehkan untuk melakukan taqlīd, dan pen-taqlīd tidak pantas mengeluarkan hukum, apalagi memvonis orang lain. Yang demikian itu hanyalah merupakan haknya orang yang berilmu. Dan pen-taqlīd bukanlah orang yang berilmu.

Ibn al-Qayyim berkata,

التقليد ليس بعلم باتفاق أهل العلم

Taqlīd itu bukanlah ilmu berdasarkan konsensus (ijmā`) ulama.” [I`lām al-Muwaqqi`īn, vol. II, hal. 188.]

Tanggapan Kepada Sebagian Rekan yang Mulia

Selanjutnya kemudian muncul kritik dan sanggahan atas apa yang saya tuliskan sebelumnya oleh senior saya yang terhormat, al-Akh al-Fādhil Abū’l Jauzā’ as-Salafi. Tulisan itu dikirim ke milis yang saya juga menjadi salah satu pesertanya, yaitu: salafyitb@itb.ac.id, dengan catatan waktu: Mon, 5 May 2008 13:53:07 +0700, dengan subject: [Salafy-ITB] Salafy, Salafiyyun, Salafiyyah ??? (saya kutip tanpa editing). Dan dengan adanya tanggapan dari sebagian peserta milis lainnya, maka pembahasannya pun jadi melebar ke berbagai permasalahan. Pada kesempatan ini, saya lebih fokus menanggapi tulisan al-Akh Abū’l Jauzā’ di atas. Adapun komentar dari peserta milis lainnya, maka hanya sedikit sekali yang akan saya respon, yaitu sebagian kecil dari komentar al-Akh al-Fādhil Abū Thālib al-Atsari. Jika diberi kelapangan, pendapat saya atas sejumlah permasalahan yang muncul pada subject di atas dibuat dalam tulisan tersendiri—dengan atau tanpa menunjuk referensi milis di atas. Mengingat untuk membahas satu saja permasalahan tersebut bisa jadi dibutuhkan tulisan yang cukup panjang.

Kritikan al-Akh Abū’l Jauzā’ tersebut boleh dibilang pedas. Jika sebelumnya saya sempat menanggapinya dengan komentar pendek yang cukup pedas pula, maka pada kali ini saya mengucapkan terima kasih, jazāka’Llāhu khairan, kepada beliau. Saya berbaik sangka bahwa hal tersebut dikarenakan beliau tidak ridha melihat saya berada di atas sesuatu yang salah menurut pandangan beliau. Saya menduga bahwa beliau hendak mengamalkan hadits Nabi—shalla’Llāhu wa `alaihi wa sallam.

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah beriman (secara sempurna) salah seorang dari kalian, sehingga ia mencintai bagi saudaranya hal-hal yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” [Muttafaq `alaih.]

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Agama adalah nasehat.” [Riwayat Muslim I/74/55.]

Sejujurnya saya tidak terlalu bersemangat menanggapi tulisan al-Akh Abū’l Jauzā’. Bukan karena saya merasa kesulitan untuk menanggapinya, namun di samping adanya kesibukan saya yang lain, sebagai penyebab utama keterlambatan keluarnya tulisan ini, rasanya tidak ada perkara esensial yang penting untuk ditanggapi. Dalam hal-hal esensial, saya rasa mungkin bisa dibilang bahwa tidak ada perbedaan antara saya dan beliau. Karena itu, tanggapan saya lebih bersifat self defense dengan adanya kesalahpahaman, dugaan yang tidak berdasar dan konklusi prematur dari yang bersangkutan. Namun, karena sudah kadung ngomong bahwa saya akan memberikan tanggapan dan sebagian rekan pun sudah menagihnya, jadinya yah saya tuliskan pula tanggapan yang menurut saya tidak terlalu penting ini. Setidaknya tanggapan saya ini lebih memperjelas tulisan saya yang lalu. Semoga saja ada manfaatnya bagi diri saya dan orang lain.

Al-Mutanabbi bersyair,

وَكَمْ مِنْ عَائِبٍ قَوْلاً صَحِيْحاً

وَآفتُهُ مِنَ الْفَهْمِ السَّقِـــــــــيْمِ

Berapa banyak orang mencela perkataan yang benar

Ternyata penyakitnya adalah pemahaman yang buruk

[Khizānatu’l Adab, vol. I, hal. 192; dan Qirā adh-Dhaif, vol. I, hal. 58.]

Allāh `Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS. Al-Hujurāt [49]: 12)

Ketika menjelaskan ayat di atas, Ibn Katsīr dalam Tafsīr-nya mengutip ucapan `Umar Ibn al-Khaththāb:

وَلاَ تَظُنَّنَّ بِكَلِمَةٍ خَرَجَتْ مِنْ أَخِيْكَ الْمُؤْمِن إِلاَّ خَيْرًا وَأَنْتَ تَجِدُ لَهَا فِي الْخَيْرِ مَحْمَلاً

“Sungguh, janganlah sekali-kali engkau menduga suatu kalimat yang keluar dari saudaramu yang beriman melainkan kebaikan, sedangkan engkau mendapati kemungkinan untuk itu.” [Lihat pula Rifqan Ahla’s Sunnah bi Ahli’s Sunnah, Syaikh Abdu’l Muhsin Ibn Hamd al-`Abbād, Dār al-Mughnī, ar-Riyādh, cet. pertama, 1424 H/2003 M.]

Sekarang kita cermati apa yang telah digoreskan oleh al-Akh Abū’l Jauzā’. Penting untuk saya informasikan di awal, sebagai amanat ilmiah, bahwa terkadang saya tidak mengutip tulisan beliau secara berurutan dan memenggal kutipan untuk digabungkan potongan lain yang bersesuaian. Namun, demi Allāh, sama sekali tidak ada niatan dalam diri saya untuk men-tahrīf (menyelewengkan) ucapan beliau. Ini saya lakukan untuk meringkas dan meminimalkan redundansi yang tidak menyenangkan. Jika terjadi kesalahan, maka saya tidak menyengaja untuk itu dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Beliau berkata:

Asy-Syaikh Abdullah bin ‘Abdil-Hamid Al-Atsary menjelaskan lebih lanjut :

ويطلق على كل من اقتدى بالسلف الصالح، وسار على نهجهم في سائر العصور ((سلفي)) نسبة إليهم، وتمييزاً بينه وبين من يخالفون منهج السلف ويتبعون غير سبيلهم.

“Dan dimutlakkan atas setiap orang yang mengikuti As-Salafush-Shalih dan berjalan di atas manhaj mereka pada semua jaman dengan Salafy. Nama tersebut dinisbahkan kepada mereka sebagai pembeda antara dia dengan orang-orang yang menyelisihi Manhajus-Salaf dan yang mengikuti selain jalan mereka” [selesai – Al-Wajiiz].

Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab Al-‘Aqil berkata : “Dan Salafy sekarang ini adalah, orang yang iltizam (komitmen) terhadap ‘aqidah, fiqh, dan ushul para imam serta menapaki manhaj dan hidayah mereka, mengambil semua jalan dan metodenya, dan beriltizam dengannya, serta wala’ dan bara’nya tegak di atas garis tersebut; sekalipun di antara mereka masa dan tempatnya sangat jauh. Adapun orang yang mengambil sebagian cara dan metode mereka dengan meninggalkan sebagian yang lainnya, maka ia bukanlah seorang Salafy, sekalipun ia menamakan dirinya Salafy” [Manhaj Al-Imam Asy-Syafi’i]. [Bold dan underline kalimat terakhir dari saya.]

Komentar saya:

Apa yang dikutipkan oleh al-Akh Abū’l Jauzā’, khususnya bagian yang saya bold dan underline, menurut saya justru menguatkan apa yang telah saya sampaikan sebelumnya, yaitu bahwa yang terpenting adalah perealisasian manhaj Salaf dan bukan pengakuan atau penamaan. Hal ini juga disepakati oleh beliau.

Jika seseorang ber-iltizām dengan Sunnah maka disebut Ahlu’s Sunnah. Apakah sebutan bagi orang yang meneladani Salaf? Tentu saja dinamakan Salafi. Itu sudah otomatis sekaligus merupakan aksioma dan konsekuensi logis. Hal ini sudah pernah saya sampaikan pada milis di atas, namun saya tidak tahu apakah al-Akh Abū’l Jauzā’ sempat membacanya atau tidak. Jika terhadap pelaksanaan manhaj Salaf menyebabkan individu terkait disebut sebagai Salafi, maka pertanyaan selanjutnya, masih perlukah ia mengaku, mengklaim, atau menamakan diri sebagai Salafi? In syā-a’Llāh akan dibahas lebih lanjut.

Beliau berkata:

Namun saya sedikit merasa heran jika ada orang yang mengaku menisbatkan diri pada Manhaj Salaf, tapi tidak suka – atau bahkan “menyalahkan” (dengan bahasa yang halus) – tentang istilah Salafy.

Namun menyalahkan orang yang menamakan diri (atau lebih tepatnya : menisbatkan diri) dengan Salafy saya rasa adalah sikap yang keliru.

Komentar saya:

Apa yang dipahami bahwa saya menolak istilah Salafi maka itu tidaklah benar. Namun, secara jujur saya akui bahwa penyebab kesalahpahaman dalam kasus ini mungkin lebih dikarenakan oleh pernyataan saya yang tidak jelas (kurang bersifat self explanatory). Pada dasarnya (sekali lagi: pada dasarnya, atau secara teori) saya tidak menolak fatwa ulama yang menyatakan kebolehan penisbatan atau penamaan “Salafi“. Namun…?

Sebelumnya, mari kita tengok sebagian dari fatwa ulama terkait hal ini.

Ibn Taimiyyah berkata,

لا عيب على من أظهر مذهب السلف وانتسب إليه واعتزى إليه بل يجب قبول ذلك منه بالاتفاق فإن مذهب السلف لا يكون إلا حقا فإن كان موافقا له باطنا وظاهرا فهو بمنزلة المؤمن الذي هو على الحق باطنا وظاهرا وإن كان موافقا له في الظاهر فقط دون الباطن فهو بمنزلة المنافق فتقبل منه علانيته وتوكل سريرته إلى الله فإنا لم نؤمر أن ننقب عن قلوب الناس ولا نشق بطونهم

“Tidak ada aib bagi orang yang menampakkan madzhab Salaf serta menisbatkan diri dan berafiliasi kepadanya. Bahkan wajib untuk menerima hal tersebut darinya menurut konsensus (ulama). Sebab, madzhab Salaf tidak lain melainkan kebenaran. Jika yang bersangkutan menepati madzhab secara lahir dan batin, maka kedudukannya adalah sebagaimana halnya orang mukmin yang berada di atas kebenaran secara lahir dan batin. Jika yang bersangkutan menepati madzhab Salaf secara lahir saja, dan tidak secara batin, maka ia sebagaimana halnya orang munafik, sehingga diterima apa yang tampak darinya, sedangkan yang tersembunyi diserahkan kepada. Kita tidak diperintah untuk membedah hati manusia dan membelah batin mereka.” [Majmū` al-Fatāwā, vol. IV, hal. 149.]

[to be continued alias bersambung in syā-a’Llāh.]

NB: Bagi yang pernah membaca tulisan ini sebelumnya, maka saya informasikan bahwa penulisan kata “Ustadz” di depan nama Abū’l Jauzā’ saya hapus, dan saya ganti menjadi “al-Akh al-Fādhil” atau “al-Akh”. Bukan karena saya tidak lagi menganggap beliau sebagai ustadz, namun yang demikian ini karena merealisasikan dan menghormati permintaan beliau kepada saya lewat email secara japri. Adapun Abū Thālib al-Atsari maka dari sisi penyebutan saya persamakan dengan Abū’l Jauzā’. Mohon maaf apabila ada yang tidak berkenan.

Comments
  1. uncal says:

    barakallahu fiikum..
    Semoga jd bahan masukan yg bermanfaat.
    Memang benar, kemungkinan kritikan kawan2 thd antum krn msh kurang jelasnya pernyataan antum. Harap bs lbh diperjelas..

  2. Ibnu Abdul Muis says:

    InsyaAllah, apa yang telah dijelaskan ustadz Adni sangat jelas dan mencerahkan. Sebenarnya letak perbedaannya adalah pada perasaan orang lain untuk mau memahami apa yang diharapkan dari ustadz Adni atas tulisannya. Kalau hati sudah menolak, kebenaran apapun akan terbantahkan meski telah dikuatkan dengan dalil-dalil yang qath’i dan fakta realitas yang dilihatnya.

    Sejujurnya, saya jauh lebih melihat manhaj salaf mengejewantah dalam diri ustadz Adni ketimbang orang-orang yang hanya sekedar mengaku atau menamai dirinya dengan salafi atau atsari. Mungkin karena tabiat dari mayoritas orang Indonesia itu adalah orang-orang yang kalem (moderat) dalam sikat dan tingkah laku, maka mereka sangat tidak simpati dengan tabiat-tabiat radikal dan ekstrim. Wallahu’alam wabarakallahu fiikum.

    Baraka’Llahu fikum….

    Saya pribadi masih sangat jauh dari peneladanan terhadap Salaf, dan hanya dapat mengatakan sebagaimana ucapan Abu Bakr ash-Shiddiq:
    اللهم لا تؤاخذني بما يقولون
    واجعلني خيرا مما يظنون
    واغفرلي ما لا يعلمون
    Ya Allah janganlah menghukumku atas apa yang mereka katakan; dan jadikan aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan; serta ampunilah aku terhadap apa yang tidak mereka ketahui (tentangku).”

    Juga sebagaimana disebutkan dalam Nuniyyah al-Qahthani,
    والله لو علموا قبيح سريرتي … لأبى السلام علي من يلقاني
    ولأعرضوا عني وملوا صحبتي … ولبؤت بعد كرامة بهوان
    لكن سترت معايبي ومثالبي … وحلمت عن سقطي وعن طغياني
    فلك المحامد والمدائح كلها … بخواطري وجوارحي ولساني

    Demi Allah, sekiranya mereka tahu buruknya yang tersembunyi dariku,
    tentulah orang yang bertemu denganku enggan mengucapkan salam padaku.
    Tentulah mereka berpaling dariku dan enggan bersahabat denganku,
    dan aku menjadi hina setelah mendapat kemuliaan.
    Namun, Engkau menutup segala cela dan aib-aibku,
    dan Engkau bersikap welas asih terhadap kesalahan dan kezalimanku,
    Maka hanya bagi-Mu segala puja dan puji
    dengan segala pikiran, anggota badan dan lisanku.

    Dan di antara orang-orang yang mengaku sebagai salafi atau atsari, terdapat banyak orang-orang yang jauh lebih baik dibandingkan diri saya….

    Baraka’Llahu fikum… Hadana’Llahu jami`an ila sawa’ish shirath….

  3. arribath says:

    Assalamualaiku ustadz adni

    Saya bisa memahami adanya kerisauan dan kepedulian dari ustadz terhadap dakwah salafi. Dan Nasihat itu adalah sesuatu yang baik apalagi jika nasihat tersebut berangkat dari prasangka dan niat yang baik pula.

    Saya lebih suka adanya nasihat dari pada kritik
    karena nasihat lebih bernuansa islami dan lebih bergaya bahasa yang lembut dan menarik hati.

    Adalah lebih elok ya ustadz jika kita inginkan adanya perubahan dan perbaikan pada dakwah yang kita cintai yakni dakwah salafi ini, dengan tetap memperhatikan uslub dan gaya bahasa yang lembut dan menarik simpati, dan bukan bukan gaya bahasa yang membuat kita antipati.

    karena niat-niat yang baik dan mulia perlu akan cara-cara yang benar, uslub yang tepat dan tidak meninggalkan unsur
    – niat ikhlas
    – ilmu
    – kelembutan
    – kesantunan
    – kesabaran

    karena kelembutan memperindah segala sesuatu demikian pula ketidaannya akan merusak dan mendistorsi tercapainya maksud dan tujuan. Sementara cara-cara yang tidak tepat akan menghantarkan kita pada ketidak tercapaian tujuan dan bahkan dapat menyulut munculnya konfrontasi-konfrontasi baru yang tidak kita harapkan adanya.

    Amar ma’ruf nahi munkar haruslah tidak keluar dari batasan hikmah dan tujuannya, yakni tercapainya kemaslahatan dan berkurangnya kemadhorotan, dan bukan sebaliknya.

    Saya menyampaikan rasa kekhawatiran saya ya ustadz. jika wacana yang antum bangun memang berangkat dari niat tulus / ikhlas. tidak ada lain kecuali menginginkan berkembangnya kebaikan bagi dakwah salafiyun, tentu adalah ustadz yang lebih memahami bagaimana cara berinteraksi dengan manusia tanpa menimbulkan perselisan yang baru.

    karena ahlak dan kelembutan dari gaya bahasa dapat ditangkap oleh siapapun baik orang berilmu maupu orang-orang awam.

    Hendaknya ustadz jika ingin agar suatu jamaah dan kelompok dapat bersikap adil dalam menyikapi hal-hal tertentu. maka terlebih dahulu ia pun memberikan nasihatnya dengan cara-cara yang adil jauh dari sikap melampiaskan ketidak sukaan belaka, atau provokasi dan kritik yang tidak menggunakan bahasa yang halus.

  4. bayu200687 says:

    hiks…sangat menyentuh…
    barokallohu fiik

  5. rismaka says:

    Al Akh Abu faris, ana mau tanya.
    Benarkah pernyataan ini: “Saya tidak mau mengaku salafi, karena revitalisasi pemaknaan salafi sudah mulai rusak di zaman sekarang. Namun saya ingin menjadikan salaf sebagai metodologi dalam beragama.” Jadi kesimpulannya, DI ZAMAN SEKARANG, saya tak mau menyebut diri ini salafi.
    Mohon penjelasannya. Jazakallahu khoir atas perhatiannya.

    Mengenai permasalahan penamaan diri dengan salafi, in sya-aLlah rencananya akan dibahas dalam tulisan tersendiri.

  6. Assalamu 'alaikum says:

    Al-Hamdulillah, akhirnya saya bisa ketemu jejak antum di sini. nomor ana hilang, sehingga nomor antum pun hilang dan ana kehilangan kontak antum. Ana Anshari Taslim, tolong balas ke email ana ya

    Tanggapan:
    Eh Ustadz… sudah saya balas ke email Antum, mohon konfirmasi apabila ternyata email tsb tidak sampai… Btw, lagi ngerjain proyek buku apa?

  7. abu Wildan says:

    A-lhamdulillah, ana sangat mengapresiasi upaya antum untuk menjelaskan manhaj salaf sesuai dengan kelembutan dan kasih sayang terhadap sesama. islam menjadi rahmatan lil alamin dantidak menjadi sumberp prtengkaran melebihi porsi yang seharusnya. kita tentu mencintai manhaj salaf, tetapi kita tidak rela manhaj ini dicaplok oleh orang-orang yang over acting namun meinim pemahaman. ifrath wa tafrith. Harap kuniungi blok ana di idrusabidin.blogspot.com (Idrus Abidin)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s