Renungan (Muhasabah)

Posted: December 9, 2008 in Tazkiyatun Nafs, Umum

Perenungan menjadi hal mewah di zaman serba instan ini. Cyberspace, jarak yang dilipat dan dunia yang berkejaran kencang, tampaknya menyudutkan perenungan pada kotak waktu yang besarnya hampir ternihilkan.

Renungan beda dengan lamunan. Merenung adalah hal produktif, yaitu menginvestasikan waktu dengan berpikir mendalam (deep thinking) untuk tercapainya perbaikan berkesinambungan (continous improvement) di masa mendatang. Dari renungan, lahirlah breakthrough dan solusi dari berbagai permasalahan. Adapun melamun maka bersifat konsumtif, yaitu membelanjakan dan memboroskan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Dalam hadits nabawi, melamun diistilahkan dengan thūlu’l amal (panjang angan-angan).

Islam menganjurkan perenungan. Dalam teks-teks keagamaan didapati anjuran untuk merenungkan dan memikirkan ayat-ayat-Nya, baik qauliyyah, yang tertuang Kitab Suci dan hadits nabawi, maupun kauniyyah, yang terhampar dalam bentangan semesta raya. Bahkan, mungkin dapat dikatakan bahwa salah satu hikmah dianjurkannya bangun malam untuk beribadah (di antaranya shalat Tahajjud) adalah karena waktu tersebut juga merupakan momen yang paling tepat untuk merenung dan berpikir. Hal sebaliknya, terdapat kecaman bagi mereka yang tidak mau merenung dan berpikir.

Dalam dimensi yang lebih sempit, renungan kadang diistilahkan dengan muhāsabah. Secara etimologis, muhāsabah berasal dari huruf h s b yang berasosiasi dengan perhitungan atau memperhitungkan. Jadi, makna muhāsabah kurang lebih adalah membuat perhitungan terhadap diri sendiri atas kondisi dan kekurangan di masa lampau untuk koreksi, peningkatan dan perbaikan di masa mendatang, sebelum datangnya perhitungan hakiki dari Allah pada hari Kiamat. Dalam bahasa Indonesia, muhāsabah sering diterjemahkan dengan introspeksi.

Diriwayatkan bahwa `Umar ibn al-Khaththab r.a. berkata,

حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا

“Buatlah perhitungan atas diri-diri kalian, sebelum kalian diperhitungkan (oleh Allah).” [Riwayat Ibn Abī Syaibah dalam al-Mushannaf VII/96/34459. Secara sanad, sebagian ahli hadits mencacat validitas riwayat tersebut. Namun tidak diragukan bahwa maknanya benar.]

Memperhitungkan kesalahan dan kekurangan diri sendiri secara jujur dan benar umumnya merupakan hal yang sulit, karena manusia sering dikalahkan oleh hawa nafsu, subyektifitas dan vested interest. Kecuali mereka yang merendahkan dirinya dengan sebenarnya di hadapan keagungan dan kemahasempurnaan Rabbnya.

Setidaknya ada lima hal yang harus diperhitungkan, yaitu sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi s.a.w. berikut:

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنُ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلُ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاه، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَ أَبْلاَه، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

“Tidaklah kedua kaki seorang hamba itu bergerak dari sisi Rabbnya pada hari Kiamat, hingga ia ditanya tentang lima hal: (1) tentang umurnya, untuk apa ia gunakan; (2) tentang masa mudanya, untuk apa ia habiskan; (3) tentang hartanya, dari mana ia dapatkan, dan (4) kemana ia belanjakan harta tersebut; serta (5) apa yang ia amalkan atas hal-hal yang sudah diketahuinya.” [Riwayat at-Tirmidzi IV/612/2416 dan lain-lain.]

Tentunya kita pun tidak dilarang untuk merenung dan memperhitungkan hal-hal yang bersifat duniawi, sebagaimana firman Allah:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia, serta berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” [QS. Al-Qashash (28): 77.]

Zaman berlari, bulan berganti, tahun berlalu. Masa lalu adalah partikel-partikel anggota tubuh manusia yang tertanggalkan di belakang. Imam al-Hasan al-Bashri berkata,

ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمُ ذَهَبَ بَعْضُكَ

“Hai anak Adam, hanyasanya engkau adalah hari-hari berbilang. Jika satu hari pergi, maka hilang pula sebagian dirimu.” [Hilyah al-Auliyā’ II/148.]

Akhirnya, semoga kita dapat memperhitungkan dan merenungkan jejak waktu yang telah kita lewatkan guna memperbaiki kondisi diri ke depan.

Comments
  1. Muh Mujianto says:

    Yup, benar sekali!
    muhasabah

    Abdul JAbbar
    PEnulis Buku: PAspor KEmatian

  2. dunia sunyi says:

    artikel anda layak di baca, cukup menginspirasi

    artike terbaruku……anak perempuanku, lekaskah sembuh dari sakitmu karena di negeri para bandit, sakit adalah mimpi buruk bagi kaum lemah
    http://esaifoto.wordpress.com

  3. munir says:

    subhanallah…terima kasih ah atas nasehatnya…semoga kita termasuk orang yg selalu memuhasbahi diri.

  4. adniku.wordpress.com

    Oya………
    Mata berkata buta,

    Sekata seakan tak semakna,

    Seluruh hati dan jiwa,

    Hanya selalu dirantai tanda tanya.

  5. anny says:

    semua ucapan dan perkataan di atas membngkit kan semangat juang dalam melawan setan dalam perbuatan yg di larang oleh ALLAH SWT.

    masih da kah yg lain untuk perenungan hati dalam penyejuk hati diri ku………..

  6. […] Renungan (Muhasabah) – Tuesday, December 09, 2008 – Abu Faris […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s