Pelajaran dari Sebuah Jam

Posted: December 12, 2008 in Kiat Usaha & Motivasi, Umum

Seorang pembuat jam berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. “Hai jam, sanggupkah kamu berdetak 31.104.000 kali selama setahun?” “Ha?! Sebanyak itukah?!” kata jam terperanjat, “Aku tidak akan sanggup!”

“Ya sudah, bagaimana kalau 86.400 kali saja dalam sehari?”

“Delapan puluh ribu empat ratus kali?! Dengan jarum yang ramping seperti ini?! Tidak, sepertinya aku tidak sanggup,” jawab jam penuh keraguan.

“Baik, bagaimana jika 3.600 kali dalam satu jam?”

“Dalam satu jam berdetak 3.600 kali? Tampaknya masih terlalu banyak bagiku.” Jam bertambah ragu dengan kemampuannya.

Dengan penuh kesabaran, tukang jam itu kembali berkata, “Baiklah kalau begitu, sebagai penawaran terakhir, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?”

“Jika berdetak satu kali setiap detik, aku pasti sanggup!” Kata jam dengan penuh antusias. Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik.

Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31.104.000 kali dalam setahun, yang juga setara dengan berdetak 86.400 kali dalam sehari, yang setara pula dengan berdetak 3.600 kali dalam satu jam.


Pesan dari kisah tersebut:

Kita sering meragukan dan underestimated terhadap kemampuan diri sendiri untuk mencapai goal, pekerjaan, dan cita-cita yang tampak sangat besar. Kita lantas menggangapnya sebagai hal sangat berat yang tidak mungkin dapat kita angkat. Namun sebenarnya apabila hal yang dianggap besar tersebut kita perkecil dan perkecil lagi, lantas kemudian kita realisasikan hal-hal kecil tersebut secara konsisten serta kontinu, niscaya hal besar yang semula kita anggap tidak mungkin tercapai itu akan terealisasikan.

Intinya, hal besar akan tercapai dengan konsistensi dan kontinuitas, atau dengan istilah lain yang sering digunakan masyarakat: istiqamah! Tentu melekatkan konsistensi dan kontinuitas kepada diri sendiri itu bukan hal yang mudah, karena akan menimbulkan kelelahan yang sangat.

Al-Mutanabbi berkata dalam syairnya yang masyhur,

وَإِذَا كَانَت النُّفُوْسُ كِبَارًا

        تَعِبَتْ فِي مُرَادِهَا الْأَجْسَامُ

Dan sekiranya jiwa itu besar,

        tentulah jasad itu akan letih dalam menggapai maksudnya. [Khizānah al-Adab I/251.]

Ingat, seribu langkah tidak akan ada tanpa adanya satu langkah pertama. Garis panjang hanyalah merupakan kumpulan dari titik-titik.

Comments
  1. silmikaffa says:

    Assalâmu ‘alaykum wr.wr
    trimakasih atas pelajarannya.

  2. rismaka says:

    Berarti intinya itu: “segala sesuatu yg besar pasti berawal dari sesuatu yang kecil…”

  3. denim says:

    pak ustadz, ceritanya menarik dan penuh makna. Tp apakah cerita spt ini diperblehkan ga ya? Kan ini hanya rekaan (baca: boongan) bukan sebuah kisah nyata. Syukran.

    Tanggapan:

    Saya sudah menduga sebelumnya bahwa pertanyaan ini akan muncul ^_^ khususnya dari mereka yang mungkin pernah mengikuti kajian komunitas Salafi di zaman ini.

    Kalo nanya ke saya tentang kebolehan semisal cerita fiksi di atas, maka pendapat pribadi saya cenderung bahwa hal tersebut tidaklah terlarang. Hal ini mungkin terkesan berbeda dengan mainstream pendapat komunitas Salafi zaman ini.

    Alasan pendapat saya, setiap orang yang berakal mengetahui bahwa apa yang disebutkan hanyalah bentuk permisalan untuk diambil pelajaran darinya. Dan, bentuk permisalan itu sendiri banyak tersebar dalam al-Qur’an dan Sunnah.

    Ingin contoh?

    Dari an-Nu`man ibn Basyir, Nabi s.a.w. berkata,
    مثل القائم على حدود الله والواقع فيها كمثل قوم استهموا على سفينة فأصاب بعضهم أعلاها وبعضهم أسفلها فكان الذين في أسفلها إذا استقوا من الماء مروا على من فوقهم فقالوا لو أنا خرقنا في نصيبنا خرقا ولم نؤذ من فوقنا فإن يتركوهم وما أرادوا هلكوا جميعا وإن أخذوا على أيديهم نجوا ونجوا جميعا
    “Permisalan orang yang melaksanakan perintah Allah sekaligus melaksanakan amr ma`ruf nahy munkar dan orang yang sebaliknya adalah sebagaimana halnya suatu kaum yang bersama-sama menaiki kapal. Ada yang berada di bagian atas kapal dan ada pula yang mendapat bagian bawah. Mereka yang berada di bawah apabila mengambil air harus melewati rekan-rekan mereka yang di bagian atas, sehingga mereka berkata, ‘Sekiranya kita membuat lubang di tempat kita, tentulah kita tidak perlu melewati yang di bagian atas kita.’ Kalau saja mereka dibiarkan melaksanakan keinginannya, tentulah seisi kapal binasa. Dan jika mereka dicegah, tentulah seisi kapal selamat.” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari II/882/2361 dan lain-lain.)

    Mau lagi? ^_^

    Dari Abu Hurairah, Nabi s.a.w. bersabda,
    مثلي ومثل الأنبياء من قبلي كمثل رجل ابتنى بيوتا فأحسنها وأجملها وأكملها إلا موضع لبنة في زاوية من زواياها فجعل الناس يطوفون ويعجبهم البنيان فيقولون ألا وضعت ههنا لبنة فيتم بنيانك فقال محمد صلى الله عليه وسلم فكنت أنا اللبنة
    “Permisalanku dan permisalan para Nabi sebelumku adalah seperti seseorang yang membuat bangunan yang bagus dan indah. Ia menyempurnakan bangunan tersebut kecuali tempat satu bata di salah satu sudutnya (masih kosong). Masyarakat kemudian mengelilingi bangunan tersebut dan takjub terhadapnya, namun mereka berkomentar, ‘Tidakkah sebaiknya kau letakkan satu batu bata di sana sehingga sempurnalah bangunanmu?’ Muhammad shallaLlahu `alaihi wa sallam lalu berkata, “Akulah batu bata tersebut.” [Hadits shahih riwayat al-Bukhari, Muslim dan lain-lain.]

    Bukankah perahu, bangunan, dialog dan sebagainya yang tersebut dalam hadits di atas itu fiktif, tidak riil dan hanya sekedar permisalan?

    Apakah permisalan itu merupakan dusta? Tentu saja jawabnya tidak. Sebab, semua orang mengetahui bahwa yang disebutkan dalam permisalan itu fiktif adanya. Hanyalah menjadi dusta apabila hal yang fiktif namun diceritakan kepada khalayak sebagai kisah nyata.

    Jika sebuah kisah permisalan kemudian dinyatakan haram hanya karena tidak disebutkan sebagai permisalan, maka kiranya yang demikian ini lahir dari pemikiran yang sempit dan kaku.

    Dengan demikian, terhadap pihak yang mengharamkan kisah seperti yang saya tuliskan di atas, jika ada, maka hendaklah ia mendatangkan dalil pengharaman tersebut, dan hendaklah ia berhati-hati untuk tidak bermudah-mudah dalam mengharamkan sesuatu.

    WaLlahu a`lam bish shawab….

  4. denim says:

    Oke. Syukran atas jawabannya. Tp knp ya kok hrs menyerempet ke penyebutan kelompok tertentu he2…

    Hanya menyebutkan realita yang saya ketahui. Faktanya memang begitu kan?

  5. denim says:

    Oiya satu hal lg, mungkin (menurut saya lho) ada perbedaan antara permisalan yg dicontohkan Rasul ‘alaihi shalatu wa salam dg kisah di atas. Permisalan dr Rasul adalah sesuatu yg sangat mungkin terjadi secara akal dan realita. Tp pd kisah di atas terdapat sesuatu yg ganjil berupa dialog antara manusia dg jam?!

    Kesimpulan saya sih bahwa cerita tersebut tidak bs disamakan dg permisalan yg biasa disebutkan dlm al-qur’an dan hadits atau yg biasa diungkapkan para ulama. Mohon tanggapannya Ustadz…

    Justru dialog antara jam dengan manusia itulah yang semakin menegaskan bahwa kisah tersebut hanyalah permisalan belaka. ^_^

    Sekarang gini deh, kalo misalnya saya buat permisalan dalam bentuk cerita pendek yang meminjam kalimat Saudara di atas “sangat mungkin terjadi secara akal dan realita”, maka apakah Anda akan berpendapat bahwa permisalan yang terdapat dalam al-Quran dan Sunnah dapat melegitimasi kisah permisalan tersebut? Tebakan saya, mohon maaf kalau salah, Anda pun tidak akan berpendapat begitu, bukankah demikian? ^_^

    Apakah jam berbicara merupakan sesuatu yang benar-benar mustahil? Jawabnya adalah tidak, sekiranya Allah mengizinkan. Bukankah terdapat hadits valid yang menyebutkan bahwa batu dan pepohonan itu berbicara dalam peperangan menjelang hari Kiamat antara kaum Muslim dan Yahudi?

    Intinya, yang menjadi pusat perhatian seharusnya adalah bahwa al-Quran dan Sunnah pun menyebutkan permisalan yang bersifat fiktif.

    Pun, dalam syair terkadang disebutkan bahwa benda mati berbicara. Jika yang menjadi patokan adalah masalah “kemungkinan terjadi” berarti apakah syair yang semacam itu hukumnya menjadi haram? ^_^

    Terakhir, saya hanya ingin bertanya, apa sebenarnya pendapat Saudara dalam hal ini? Apakah haram? Jika haram, maka apa dalilnya? Jika dalilnya adalah kebohongan, maka sudah saya jawab sebelumnya.

  6. denim says:

    Syukran ustadz.
    Saya belum memiliki pendapat yg menentramkan hati saya dalam masalah ini. Saya pribadi cenderung tidak menceritakan hal2 semacam ini, karena bisa jd nanti semua hal yg bohong nanti bisa dilegitimasi dg dalih sebagai permisalan…

    Tanggapan:

    Sikap hati-hati dalam memutuskan tentunya merupakan sikap yang terpuji. Dan in sya’a’Llah saya pribadi senantiasa berusaha untuk toleran dalam perbedaan pendapat. Justru yang saya sesalkan adalah mereka yang tidak toleran dalam perbedaan.

    Kalau boleh iseng bertanya, dengan argumen/dalil yang saya kemukakan di atas, apakah pendapat yang ‘mengharamkan’ hal semisal cerpen secara mutlak itu menentramkan hati Saudara? ^_^ Kalo bagi saya sih yang demikian itu justru tidak menentramkan hati. ^_^

    Sekali lagi, argumen yang umum digunakan adalah masalah kebohongan. Dan, sebagaimana sudah saya sampaikan, yang namanya kebohongan itu adalah penyampaian tidak sesuai fakta, yaitu kisah fiktif tapi kemudian diaku sebagai nyata. Hal ini terjadi pada apa yang disebut dengan qushshash (tukang cerita) di waktu lampau, sebagaimana yang tertera dalam literatur klasik. Bahkan mereka pun sering memalsu hadits, sehingga sebagian ulama menulis tema Ahadits al-Qushshash (hadits-hadits tukang cerita).

    Adapun apabila sudah sama-sama tahu bahwa itu adalah fiktif, sebagaimana halnya permisalan, apalagi misalnya pun sudah ditegaskan di muka, lantas dimanakah letak bohongnya?

    Kiranya penting untuk saya sampaikan di sini, sebagaimana juga pernah saya sampaikan, bahwa saya pribadi meyakini kisah nyata memiliki dampak yang jauh lebih baik ke jiwa dibandingkan kisah fiktif, dan menjamurnya kisah fiktif memiliki andil negatif dalam membenamkan kisah nyata. Namun demikian, untuk ‘mengharamkan’ seluruh kisah fiktif secara mutlak pun rasanya kurang tepat.

  7. Ah Subhanallah, selalu ada hikmah yang bisa saya dapatkan dari setiap entry di blog ini. Jazakallah ustadz.

  8. abul-jauzaa says:

    Sepakat pak ustadz,…. memang beda permisalan atau pengandaian dengan cerita bohong.

  9. Kalau cerita dalam “Who Moved My Cheese” termasuk pemisalan, Pak?
    Terserah deh masuk kriteria apa, tapi banyak pelajaran yang saya dapat dari kisah itu.

    Tanggapan:
    Kalau saya pribadi menilainya sebagai permisalan, dan memang kenyataannya demikian, bukan? ^_^

  10. abu abdillah muhammad says:

    maksud ceritanya baik, tp mngambil permisalan yg krg tepat atau bahkan salah.al quran, hadits, atsar pr sahabat dn juga pr ulama sringkali mnggunakan permisalan, dmikian jg org2 barat dr kalangan nashara dan yahudi mrka sring membuat permisalan dlm menyampaiakn mksud baiknya agr menarik dan mngena dihati. tp jk mau meneliti niscaya akan trlihat jls perbedaanya.
    dan keselamatan itu ada pd sikap ittiba’ kpd rasullullah dan mngikuti jalan nya pr ulama dlm menyampaikan kebaikan.itu pndapat ana. allahu a’lam

  11. adibey says:

    saya dapat mengambil kesimpulan bahwa segala sesuatu yang dikerjakan secara istiqomah akan berbuah dengan manis, walaupun dalam perjalanan selalu dihadapkan pada rintangan…, nah, untuk memulai dari yang terkecil itu kadang kita sulit untuk menungkan idenya ustad, mohon pencerahannya?

  12. gusti... says:

    terima kasih banyak uztad. setidaknya ungkapan itu tidak terlalu berlebihan atas motivasi yg saya dapat dari cerita ini. sya adalah seorang remaja yang ingin menggapai sukses meski dengan kemampuan se adanya.. sekali lagi syukran….

  13. […] Posted: December 12, 2008 by Abu Faris in Kiat Usaha & Motivasi, Umum 12 […]

  14. […] Sumber. Be Sociable, Share! TweetRelated posts: […]

  15. […] Ingat, seribu langkah tidak akan ada tanpa adanya satu langkah pertama. Garis panjang hanyalah merupakan kumpulan dari titik-titik. Sumber […]

  16. suhery says:

    sukron yaaa akhii..iman naik turu,tanpa adanya sebuah kontrol maka,akan mengakibatkan ,kerugian..pentinga saling manasehati..Demi masa. وَالْعَصْرِ 1
    Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ 2
    kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

  17. […] Pelajaran dari Sebuah Jam – Friday, December 12, 2008 – Abu Faris […]

  18. Dufal says:

    Kesimpulan yang tepat-biidznillah- dari crita diatas adalah:
    ” suatu upaya kecil yang dilakukan secara berkesinambungan dan konsisten diatasnya(serta menyelipkan do’a didalamnya),maka-biidzinillah-, peluang untuk memperoleh hasil yang besar lebih mungkin pencapaiannya ketimbang duduk manis sembari berangan-angan menuai hasil besar tanpa action.wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s