Archive for the ‘Aqidah’ Category

Di tahun 2007, saya pernah berdiskusi dengan Direktur Utama (Dirut) salah satu Lembaga Keuangan Syariah (LKS) terbesar di Indonesia. Pada kesempatan itu, Dirut berkata, “Menurut saya, kaum Mukmin itu seyogyanya tidak perlu merindukan Surga sebab Surgalah yang merindukan mereka. Manusia merupakan sebaik-baik penciptaan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allāh (QS. At-Tīn: 80), lebih baik dari Surga sekalipun. Karena itu, tidak selayaknya sebaik-baik penciptaan merindukan sesuatu yang derajat penciptaannya lebih rendah. Yang derajat penciptaannya lebih rendah itulah yang seharusnya merindukan yang derajat penciptaannya lebih tinggi. Walhasil, kaum Mukmin sepantasnya hanyalah merindukan perjumpaan dengan Allāh.” Demikianlah kira-kira yang disampaikan Dirut tersebut. Saya kemudian menimpali, “Taruhlah yang demikian itu benar (padahal kurang tepat), namun bukankah perjumpaan dengan Allāh hanya terjadi apabila kaum Mukmin berada di Surga?” End of that story.

(more…)

Advertisements

Penulis pernah mendapati logika yang dikemukakan oleh orang-orang yang menganjurkan tawassul dengan orang-orang yang sudah wafat—yang zahirnya adalah orang shalih—di makam mereka, sebagai berikut: Seseorang yang hendak menemui dan meminta kepada raja maka ia harus melalui perantaraan sekretarisnya, bawahannya, atau orang yang dekat dengan raja terlebih dahulu, maka begitu pula orang yang hendak menghadap dan meminta kepada Allah, Sang Maha Raja, maka ia menggunakan perantaraan (ber-tawassul) dengan orang-orang yang dekat dengan Allah, yaitu orang-orang shalih atau para wali, di makam mereka.

Ini adalah logika, silogisme dan analogi yang sangat fatal kekeliruannya (qiyās fāsidu’l i`tibār wa ma`a’l fāriq). Sebab, tentu tidak sama antara raja dunia dengan Allah, Sang Maha Raja. Raja dunia banyak memiliki kelemahan. Ia dapat dimudharatkan oleh orang lain yang tidak dikenalnya, yaitu dibunuh atau dilukai. Di samping bahwa kekayaan raja dunia yang sangat terbatas sehingga ia tidak mampu mengabulkan permintaan dari seluruh rakyatnya. Karena itulah maka ia membutuhkan perantara, yaitu untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dan untuk menyeleksi permintaan yang masuk kepadanya. Adapun Allah, maka siapakah yang mampu memudharatkan Allah? Bukankah Allah itu maha kaya dan dengan mudah mampu memenuhi permintaan setiap hamba-Nya?

Disebutkan dalam hadits qudsi, bahwa Allah berkata,

(more…)

Bidadara untuk Wanita?

Posted: September 17, 2007 in Aqidah

Syaikh Muhammad al-‘Utsaymīn pernah ditanya, “Jika seorang wanita dari kalangan ahli surga belum pernah menikah di dunia, atau ia menikah namun suaminya tidak masuk surga, maka siapakah yang akan bersama wanita itu (di surga)?”

Beliau menjawab, “Jawaban atas pertanyaan ini dapat diambil dari keumuman firman Allah Ta’ālā:

وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ نُزُلاً مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيم

“Dan bagi kamu di dalamnya (akhirat) apa yang kamu inginkan dan bagi kamu (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat [41]: 31-32)

(more…)

Kunci Surga

Posted: September 17, 2007 in Aqidah

Ketahuilah, sesungguhnya kunci surga adalah tauhid dan perealisasian Lā Ilāha illallāh, yaitu dengan menjadikan seluruh ibadah semata-mata hanya ditujukan kepada Allah dan tidak berbuat syirik kepada-Nya.

Nabi ` bersabda,

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

“Barangsiapa yang bersaksi bahwa Lā Ilāha illallāh (tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah) maka wajib baginya surga.”

[Lihat Shahīh al-Jāmi’, no. 229; dan ash-Shahīhah, no. 1135. Hadits ini dimasukkan sebagai salah satu hadits mutawātir dalam Nazhm al-Mutanātsir, hal. 21, no. 8]

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu yang ingin dicapai kunci tertentu untuk membukanya…. (more…)