Archive for the ‘Cuplikan, Resensi & Bedah Buku’ Category

Tulisan berikut ini bersumber dari risalah Syaikh Husain al-‘Awāyisyah, yang berjudul: Kaifa Tuhakkim Nafsaka wa Ahlaka wa Man Talī Umurāhum bi Hukmi’Llah (cet. pertama, Dār Ibn Hazm, 1423 H), yang saya terjemahkan secara bebas pada kesempatan kali ini, dengan mengambil hal-hal yang penting, disertai perubahan.

Risalah tersebut sebenarnya sudah lama saya terjemahkan untuk Pustaka Imam Asy-Syafi’i dan baru diterbitkan pada tahun 1427 H/Maret 2006 M dengan judul: Menerapkan Syari’at Islam dalam Diri, Keluarga dan Orang-Orang yang Ada di Dawah Tanggung Jawab Anda, Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah.

(more…)

‘Orang kanan’ yang dimaksud kali ini adalah mereka yang senantiasa berusaha menjadi orang yang luar biasa dengan mengedepankan inovasi dan kreativitas. Dalam pertarungan bisnis yang carut marut dewasa ini, sering kali dibutuhkan pendekatan dan cara berpikir yang tidak linear, melainkan lateral. Kontroversial, bukan konvensional. Gebrakan, tidak lagi gerakan.

Dari `Āisyah, dengan sanad yang valid, beliau berkata,

كاَنَ رَسُولُ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْه وَسلّم يُحِبّ التَّيَمُّن فِي شَأْنِه كُلّهِ

“Adalah Nabi—shallaLlāhu `alaihi wa sallam—menyukai memulai dengan (anggota tubuh) yang kanan dalam segala hal (yang baik).” (Riwayat al-Bukhāri: I/165/416 dan Muslim: I/226/268, dan ini adalah lafazh Muslim)

Mendahulukan anggota tubuh yang kanan tidak terbatas dalam memakai sendal, bersuci dan yang semisalnya. Dalam perspektif bisnis pun prinsip ‘kanan’ tersebut berlaku. (more…)

Persahabatan sejati merupakan sesuatu yang sangat langka di era materialisme ini. Mencari seorang sahabat sejati yang setia dan dapat dipercaya mungkin jauh lebih sulit dibandingkan mencari jarum dalam tumpukan jerami. “Tidak ada persahabatan dan permusuhan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi”, demikianlah slogan yang pada awalnya dikumandangkan oleh para politikus opurtunis namun kemudian merembet kepada berbagai macam lapisan masyarakat dalam setiap lini kehidupan.

Mengingat demikian langkanya persahabatan sejati, maka seorang penyair berkata,

سَمِعْنَا بِالصَّدِيْقِ وَلاَ نَرَاهُ         عَلَى التَّحْقِيْقِ يُوْجَدُ فِيْ الأَنَامِ

وَأَحْسَــبُهُ مـــُحَالاً نَـمَقُوْهُ         عَلَى وَجْهِ الْمَجَازِ مِنَ الْكَلاَمِ

Kami dengar tentang sahabat sejati tapi kami tidak melihatnya

terwujudkan secara nyata di antara manusia.

Kusangka itu adalah suatu kemustahilan yang mereka tuliskan

hanya sekedar dalam bentuk ucapan kiasan

[Al-Mustathraf fī Kull Fann Mustazhraf, vol. I, hal. 272]

Ibn ‘Aun berkata: Dari ‘Umair Ibn Ishāq, beliau berkata: “Kami menganggap bahwa yang pertama kali diangkat dari manusia adalah persahabatan.” [Tafsīr Ibn Katsīr, QS. Al-Anfāl [8]: 63. Lihat pula muqaddimah Ustadz Abū ‘Abdil Muhsin Firanda dalam risalah yang berjudul: Hak-Hak Persaudaraan Islam]

Wahb Ibn Munabbih berkata, “Aku bersahabat dengan manusia selama lima puluh tahun. Tidak aku dapati seseorang yang mengampuni ketergelinciranku, memaafkan kesalahanku dan menutup aibku.” [Al-Mustathraf fī Kull Fann Mustazhraf, vol. I, hal. 272]

‘Ali Ibn Abī Thālib berkata, “Jika pengkhianatan merupakan tabiat, maka kepercayaan terhadap setiap orang merupakan kelemahan.”

Seorang bijak ditanya, “Apa itu sahabat sejati?” Ia menjawab, “Itu adalah nama yang diletakkan bukan pada tempatnya, serta hewan yang tidak ada wujudnya.”

Ja’far ash-Shādiq berkata, “Persedikitlah mengenal manusia, dan ingkarilah siapapun yang kau kenali dari mereka. Jika kau memiliki seratus sahabat, maka buanglah sembilan puluh sembilan, dan berhati-hatilah terhadap satu yang tersisa!”

(more…)