Archive for the ‘Fiqh’ Category

Salah satu momen terpenting yang terjadi di bulan Ramadhan nan mulia adalah peristiwa diturunkannya al-Qur`ān. Mengingat pentingnya peristiwa tersebut, banyak masyarakat sampai-sampai membuat peringatan ritual terkait peristiwa itu, yang mereka yakini jatuh pada tanggal 17 Ramadhan dan mereka namakan dengan peringatan Nuzūlul Qur`ān. Namun pada kesempatan kali ini saya tidak akan membahas kebid’ahan dan ketidaksesuaian acara dimaksud dalam tinjauan syariat—menurut pendapat yang benar in syā-aLlāh. Hal ini mengingat sudah terdapat cukup banyak tulisan dari ulama dan para ustadz yang membahasnya. Tulisan singkat saya kali ini adalah seputar sebagian hikmah dari ayat al-Qur`ān yang pertama kali diturunkan dan korelasinya dengan peradaban manusia.

(more…)

Mungkin termasuk perkara yang masyhur di kalangan kita, bahwa banyak ulama kontemporer membolehkan tanzhīm an-nasl (pengaturan atau penjarangan kelahiran), namun melarang dan mengharamkan tahdīd an-nasl (pembatasan kelahiran atau yang umum dikenal dengan KB). Kali ini saya akan coba mengkritisi, sesingkat mungkin—sebagaimana kebiasaan saya—sejauh mana akurasi dan ketepatan pendapat yang mengharamkan tahdīd an-nasl tersebut.

(more…)

Kadang kita dapati ustadz atau penulis yang senantiasa membuka khuthbah, ta’līm dan tulisan ilmiah mereka dengan Khuthbatul Hājah yang tercantum dalam hadits Ibn Mas’ūd: innal hamda liLlāh nahmaduhu wa nasta’īnuhu wa nastaghfiruh… (sesungguhnya segala puji adalah milik Allah. Kami memuji-Nya, meminta pertolongan dan memohon ampunan kepada-Nya…).

Hal ini populer setelah al-‘Allāmah Muhammad Nashiruddīn al-AlbānirahimahuLlāh—menulis risalah yang berjudul Khuthbatul Hājah. Pada risalah tersebut Syaikh menegaskan signifikansi untuk memulai khuthbah, tulisan dan yang semisalnya dengan Khuthbatul Hājah. Beliau juga menyebutkan bahwa hal ini termasuk sunnah yang telah ditinggalkan oleh banyak orang (sunan mahjūrah).

Saya pribadi sudah lama menerjemahkan risalah dimaksud atas permintaan salah satu penerbit, namun qaddaruLlāh sampai saat ini belum diterbitkan.

Hanya saja, pada kalangan sebagian (kecil) orang seolah-olah kemudian timbul pandangan yang sedikit “miring” terhadap orang yang berbicara atau menulis yang melakukan pembukaan dengan selain Khuthbatul Hājah dimaksud, bahwa mereka tidak “nyunnah” dan semisalnya. Bahkan, terkadang bisa jadi hal tersebut dijadikan sebagai salah satu parameter atau penanda untuk menilai manhaj yang bersangkutan dalam beragama. Apa yang saya sebutkan ini bukan mengada-ada, tapi realitas, meskipun bisa jadi dalam jumlah yang relatif sangat kecil. Menurut saya, hal ini adalah bukanlah sikap yang tepat.

Selanjutnya, apakah benar bahwa yang disunnahkan adalah senantiasa (ber-iltizām) membuka khuthbah, tulisan, ta’līm, dan yang semisalnya dengan Khuthbatul Hājah tersebut? Sebagaimana yang mungkin dipraktekkan oleh sebagian orang. Pada kali ini saya akan membawakan pendapat dari Syaikh Bakr Abū Zaid terkait permasalahan ini, untuk dijadikan bahan wacana dan studi komparatif dalam permasalahan ini.

(more…)

Pada umumnya orang Indonesia rutin pulang ke kampung halaman menjelang ‘Idul Fithri atau Lebaran. Tak peduli betapapun kesulitan dan kesukaran yang dihadapi untuk itu. Berdesak-desakan di kereta, berjubel di bis, kemacetan panjang di perjalanan, sampai menempuh ratusan kilo berbekal sepeda motor dengan risiko kehujanan dan kepanasan, dan hal-hal lain yang tak kalah hebatnya. Semua itu dilakukan dalam rangka merayakan Lebaran di kampung halaman sekaligus untuk ajang silaturrahim terdahsyat dalam setahun bersama sanak keluarga. Seluruh jerih payah itu dilakukan demi terealisirnya satu kata: “pulang”.

Pulang, adalah hal yang dinanti sekaligus merupakan salah satu obat kebahagiaan. Pulang adalah tujuan. Lama tidak pulang dan berada di luar tempat tinggal menimbulkan keresahan dan kegundahan. Contoh sederhana, jika kita berada di kantor beberapa jam lebih lama dibanding biasanya maka kita akan resah dan keinginan untuk pulang menjadi sangat kuat. Betapapun indahnya perjalanan wisata yang kita lakukan, ujung-ujungnya pun kita ingin pulang.

Ada satu temuan menarik yang cukup relevan dengan pembahasan kali ini. Ternyata bayi lebih merasa nyaman jika digendong oleh ibunya pada sisi kiri. Mengapa? Karena detak jantung ibu lebih tertangkap oleh bayi. Detak jantung yang sama yang dulu bayi itu dengarkan sewaktu berada dalam kandungan ibu. Bayi tersebut seakan-akan merasa pulang ke tempat awalnya.

(more…)