Who Moved My Cheese (Bag. 1)

“Tidak ada yang tetap, kecuali perubahan itu sendiri.” Demikianlah bunyi sebuah pameo terkenal. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menghambat perubahan. Yang dapat kita lakukan hanyalah mengarahkan perubahan dan atau mengantisipasi perubahan.

Banyak buku yang mengupas tentang masalah perubahan dan inovasi seperti: Differentiate Or Die, karangan Jack Trout dan Steve Rivkin; Blue Ocean Strategy karangan W. Chan Kim dan Renée Mauborgne; Change dan Re-code Your Change DNA, keduanya karya Rhenald Kasali, dan masih banyak lagi yang lain.

Salah satu buku yang bagus, inspiring dan mudah dipahami yang mengupas tentang bagaimana menyikapi perubahan adalah Who Moved My Cheese, karangan Spencer Johnson. Meski buku ini sebenarnya termasuk kategori buku cukup lawas, namun content-nya masih tetap relevan dan dapat dimanfaatkan sampai saat ini dan nanti, sehingga saya cantumkan dalam blog ini. Meskipun alasan sebenarnya adalah, karena saya suka buku itu! Hehe.

Buku ini mengupas tentang dua hal berseberangan yang bekerja dalam diri kita, yaitu “sederhana” dan “rumit”, yang ditamsil dan diumpamakan melalui empat tokoh imajiner dalam sebuah kisah fiktif. Empat tokoh tersebut mewakili bagian dari kepribadian manusia, yaitu: Sniff (Endus), Scurry (Lacak), Hem (Kaku) dan Haw (Aman). Sniff dan Scurry digambarkan sebagai dua ekor tikus, sementara Hem dan Haw digambarkan sebagai dua orang kurcaci. Keempatnya hidup dalam labirin-labirin, yang menggambarkan berbagai perubahan dan ketidakpastian. Buku ini banyak mengandung simbolisasi yang indah dan mudah ditangkap.

Kadang kita bertindak seperti Sniff, yang mampu mencium adanya perubahan dengan cepat, atau Scurry yang segera bergegas mengambil tindakan, atau Hem yang menolak serta mengingkari perubahan karena takut perubahan akan mendatangkan hal yang buruk, atau Haw yang baru mencoba beradaptasi dalam keadaan terdesak dan apabila melihat perubahan mendatangkan sesuatu yang lebih baik.

Continue reading

Filosofi KISS (Keep It Simple Stupid!)

Berikut ini saya posting sebuah tulisan yang cukup menarik yang saya dapatkan di forum intranet kantor saya, pada tahun 2006. Terlepas dari validitas contoh yang disebutkan, terdapat pelajaran berharga yang dapat diambil dari contoh tersebut. Berikut ini adalah tulisan dimaksud dengan sedikit perubahan:

Dalam kehidupan sehari-hari, kita hendaknya mencari cara terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang terjadi. Tetapi, saat menghadapi suatu masalah seringkali kita terkecoh, sehingga walaupun masalah tersebut terpecahkan, tetapi pemecahan yang ada bukanlah suatu pemecahan yang efisien dan justru malah terlalu rumit.

Mari kita lihat kasus-kasus di bawah ini:

Pertama: Kasus kotak sabun yang kosong terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar di Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun yang kosong. Dengan segera para pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman.

Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong. Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong.

Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda.

Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan.

Continue reading

Jenius Adalah Kerja Keras

“Jenius adalah kerja keras.” Begitulah salah satu ucapan Einstein yang masyhur. Kisah berikut ini mungkin dapat dijadikan sebagai salah satu bukti pembenaran atas ucapan tersebut:

Ada satu cerita tentang orang Singapura yang bernama Adam Khoo. Pada umur 26 tahun dia mempunyai empat bisnis yang beromzet US$ 20 juta! Ketika umur 12 tahun Adam dicap sebagai orang yang malas, bodoh, agak terbelakang dan tidak ada harapan. Continue reading

Menjadi ‘Orang Kanan’: Berpikir Lateral Vs Linear

‘Orang kanan’ yang dimaksud kali ini adalah mereka yang senantiasa berusaha menjadi orang yang luar biasa dengan mengedepankan inovasi dan kreativitas. Dalam pertarungan bisnis yang carut marut dewasa ini, sering kali dibutuhkan pendekatan dan cara berpikir yang tidak linear, melainkan lateral. Kontroversial, bukan konvensional. Gebrakan, tidak lagi gerakan.

Dari `Āisyah, dengan sanad yang valid, beliau berkata,

كاَنَ رَسُولُ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْه وَسلّم يُحِبّ التَّيَمُّن فِي شَأْنِه كُلّهِ

“Adalah Nabi—shallaLlāhu `alaihi wa sallam—menyukai memulai dengan (anggota tubuh) yang kanan dalam segala hal (yang baik).” (Riwayat al-Bukhāri: I/165/416 dan Muslim: I/226/268, dan ini adalah lafazh Muslim)

Mendahulukan anggota tubuh yang kanan tidak terbatas dalam memakai sendal, bersuci dan yang semisalnya. Dalam perspektif bisnis pun prinsip ‘kanan’ tersebut berlaku. Continue reading