Archive for the ‘Tazkiyatun Nafs’ Category

Di tahun 2007, saya pernah berdiskusi dengan Direktur Utama (Dirut) salah satu Lembaga Keuangan Syariah (LKS) terbesar di Indonesia. Pada kesempatan itu, Dirut berkata, “Menurut saya, kaum Mukmin itu seyogyanya tidak perlu merindukan Surga sebab Surgalah yang merindukan mereka. Manusia merupakan sebaik-baik penciptaan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allāh (QS. At-Tīn: 80), lebih baik dari Surga sekalipun. Karena itu, tidak selayaknya sebaik-baik penciptaan merindukan sesuatu yang derajat penciptaannya lebih rendah. Yang derajat penciptaannya lebih rendah itulah yang seharusnya merindukan yang derajat penciptaannya lebih tinggi. Walhasil, kaum Mukmin sepantasnya hanyalah merindukan perjumpaan dengan Allāh.” Demikianlah kira-kira yang disampaikan Dirut tersebut. Saya kemudian menimpali, “Taruhlah yang demikian itu benar (padahal kurang tepat), namun bukankah perjumpaan dengan Allāh hanya terjadi apabila kaum Mukmin berada di Surga?” End of that story.

(more…)

Tema pembicaraan kali ini adalah mengenai sebuah ayat al-Qur’ān yang sekiranya diturunkan kepada gunung niscaya luluh lantak; yang apabila direnungkan oleh pembacanya maka hatinya bergetar ketakutan dan air matanya mengalir; yang jika dihayati oleh orang yang bergelimang maksiat maka ia bertaubat; serta bila dipahami oleh siapa saja yang berpaling dari seruan Allāh maka ia pun bersegera kepadanya-Nya. Ayat yang menyebutkan tentang pintu gerbang dari sebuah perjalanan panjang nan berat….

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Āli `Īmrān [3]: 185.)

Kematian adalah langkah awal dari perjalanan agung yang memisahkan suami dari istrinya, orang tua dari anaknya, kekasih dari yang dicintainya dan saudagar dari kekayaannya. Perjalanan yang bermuara kepada keabadian; kenikmatan Surga atau kesengsaraan Neraka. Kematian merupakan hal yang diyakini namun sering kali sengaja dilupakan atau terlupakan; perkara yang diketahui akan tetapi begitu banyak diabaikan. Karena itulah, Nabi—shallā’Llāhu `alaihi wa sallam—mengingatkan,

(more…)


Senang melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain senang (selanjutnya disingkat: SOS) sejatinya merupakan karakter bawaan manusia. Karena itulah terdapat anjuran dalam hadits:

انْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَل مِنْكُمْ وَلاَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

Lihatlah kepada orang-orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah kalian melihat orang-orang yang berada di atas kalian, karena sesungguhnya yang demikian itu menyebabkan kalian tidak meremehkan nikmat yang telah Allah berikan kepada kalian.” [Riwayat Muslim IV/2275/2963, at-Tirmidzi IV/665/2513, dan lain-lain.]

Dalam lafal lain disebutkan:

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَل مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ

Jika salah seorang dari kalian memandang orang lain yang diberi kelebihan dalam harta, fisik, anak-anak dan pengikut dibandingkan dirinya, maka hendaklah ia memandang orang lain yang kondisinya lebih rendah dari dirinya.” [Riwayat al-Bukhāri V/2380/6125.]

Memperhatikan orang-orang yang kondisinya lebih baik dari kita, dalam banyak kesempatan justru membuat kita menderita serta sakit hati, dan sebaliknya melihat orang yang lebih menderita dibandingkan kita justru menjadikan kita terhibur. Karena itulah Nabi SAW mengeluarkan statement perintah sebagaimana di atas. Demikianlah karakter bawaan manusia. Hanya saja, masing-masing orang memiliki tentu memiliki sikap yang berbeda dalam menindaklanjuti sifat tersebut. Ada yang berjuang melawannya. Dan ada pula menurutinya, sehingga terkadang hal itu sampai kepada perbuatan dosa dan tindak kejahatan.

Karakter SOS inilah yang kemudian membentuk manusia tipe psikopat, yakni suka meneror orang lain untuk kepuasan pribadi. Senang dan suka cita apabila ada orang lain menderita dan sengsara akibat perbuatannya. Dengan demikian, tiap orang punya potensi untuk menjadi psikopat. Hanya saja kadar potensi tersebut berbeda-beda, ada yang besar dan ada pula yang kecil. Kadar yang kecil itu dapat menjadi besar dan sebaliknya, yang besar dapat menjadi kecil. Tergantung bagaimana yang bersangkutan menyikapi atau memupuknya, serta tergantung seberapa besar penghalang yang dibangun. Jika seseorang itu dekat dengan Allah Ta`ālā, mengimani hari akhirat dengan keimanan yang sebenarnya, dan menghayati betapa besar dosa tindak kelaliman kepada sesama, maka ia telah menghalangi dan melunturkan sifat psikopat dalam dirinya.

(more…)

Tulisan berikut mungkin dapat dikatakan telah kehilangan momennya atau terlambat, namun dari sisi content in sya’a’Llāh tetap tidak expired. Selamat menyimak dan semoga ada manfaatnya. 

“Permisalan perbuatan seorang yang mendekatkan diri kepada Rabbnya,” kata Pak Izhar, guru kimia saya sewaktu SMU, “adalah seumpama gerakan elektron yang mendekati inti atom. Kita tahu elektron-elektron berada pada lintasan-lintasan energi yang mengelilingi inti atom. Elektron dapat berpindah dari satu lintasan ke yang lain dengan melepas atau menyerap energi. Jika elektron berpindah ke lintasan yang menjauhi inti, maka ia menyerap energi. Dan jika ia berpindah ke lintasan yang medekati inti maka ia melepas energi. Semakin dekat elektron dengan inti maka ia semakin stabil.” Demikianlah kira-kira yang disampaikan Pak Izhar. 

Sebagaimana halnya elektron yang semakin stabil apabila semakin dekat dengan inti, maka seorang hamba yang semakin dekat dengan Rabbnya maka akan semakin stabil kehidupannya. Penuh ketentraman, ketenangan, serta tidak goyah atau terombang-ambing oleh  ujian dan cobaan yang menderanya.  (more…)