Surga Hanyalah Sarana, Bukan The Ultimate Destination (Muntaha’l Ghayah)

Di tahun 2007, saya pernah berdiskusi dengan Direktur Utama (Dirut) salah satu Lembaga Keuangan Syariah (LKS) terbesar di Indonesia. Pada kesempatan itu, Dirut berkata, “Menurut saya, kaum Mukmin itu seyogyanya tidak perlu merindukan Surga sebab Surgalah yang merindukan mereka. Manusia merupakan sebaik-baik penciptaan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allāh (QS. At-Tīn: 80), lebih baik dari Surga sekalipun. Karena itu, tidak selayaknya sebaik-baik penciptaan merindukan sesuatu yang derajat penciptaannya lebih rendah. Yang derajat penciptaannya lebih rendah itulah yang seharusnya merindukan yang derajat penciptaannya lebih tinggi. Walhasil, kaum Mukmin sepantasnya hanyalah merindukan perjumpaan dengan Allāh.” Demikianlah kira-kira yang disampaikan Dirut tersebut. Saya kemudian menimpali, “Taruhlah yang demikian itu benar (padahal kurang tepat), namun bukankah perjumpaan dengan Allāh hanya terjadi apabila kaum Mukmin berada di Surga?” End of that story.

Continue reading

Afiliasi (Intima’) Terhadap Kelompok Salafi?

Syaikh Ibn `Utsaimīn—rahimahu’Llāh Ta`ālā—berkata dalam Syarh al-Arba`īn an-Nawawiyyah, penjelasan hadits ke-28 (hadits al-`Irbādh Ibn Sāriyah):

Jika kelompok-kelompok (ahzāb) dalam tubuh umat Islam menjadi banyak jumlahnya, maka janganlah engkau berafiliasi (intimā’) kepada suatu kelompok pun. Pada zaman dahulu juga sudah terdapat berbagai macam kelompok, semisal Khawārij, Mu`tazilah, Jahmiyyah dan Rāfidhah. Kemudian akhir-akhir ini muncul (kelompok) yang disebut Ikhwāniyyūn (Ikhwāni), Salafiyyūn (Salafi), Tablīghiyyūn (Tablīghi) dan yang semisalnya.

Jadikanlah seluruh kelompok tersebut berada pada sisi kiri, dan menjadi keharusan bagimu untuk mengikuti imām, yakni apa-apa yang ditunjukkan oleh Nabi—shallā’Llāhu `alaihi wa sallam—melalui sabda beliau,

Continue reading

Membincang Penisbatan Kepada Salafiyyah

Syaikh Ibn `Utsaimīn—rahimahu’Llāh—pernah ditanya, “Fadhīlata’sy Syaikh, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Kami ingin mengetahui apa itu Salafiyyah sebagai manhaj, dan bolehkah kita menisbatkan diri kepadanya? Bolehkah kita mengingkari orang-orang yang tidak menisbatkan diri kepada Salafiyyah tersebut?

Jawaban beliau:

Salafiyyah adalah mengikuti manhaj Nabi—shalla’Llāhu `alaihi wa sallam—dan para Sahabat beliau, karena merekalah Salaf kita, yang telah mendahului kita. Mengikuti (meneladani) mereka itulah Salafiyyah. Adapun menjadikan Salafiyyah sebagai suatu manhaj spesifik yang seseorang itu bersikap sangat ekslusif dengannya serta menyesatkan orang lain yang menyelisihinya dari kalangan kaum muslimin—meskipun mereka di atas kebenaran—maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini (justru) menyelisihi Salafiyyah.

Seluruh generasi Salaf menyeru kepada Islam dan ber-ilti’ām seputar Sunnah Nabi—shalla’Llāhu `alaihi wa sallam—dan mereka tidak menyesatkan orang yang menyelisihi mereka disebabkan ta’wīl. Kecuali dalam permasalahan aqidah, maka mereka memandang bahwa orang yang menyelisihi mereka dalam hal tersebut adalah orang yang sesat.

Namun, sebagian orang yang bermanhajkan Salafiyyah pada zaman kita sekarang ini menyesatkan setiap orang yang menyelisihinya—meskipun (ternyata) kebenaran ada pada orang tersebut. Sebagian orang tersebut menjadikan Salafiyyah sebagai suatu manhaj hizbi (sektarian), seperti halnya manhaj kelompok-kelompok lain yang berafiliasi kepada Islam. Inilah hal yang diingkari dan tidak mungkin disetujui.

Continue reading

Cukup Kematian Sebagai Nasehat

Tema pembicaraan kali ini adalah mengenai sebuah ayat al-Qur’ān yang sekiranya diturunkan kepada gunung niscaya luluh lantak; yang apabila direnungkan oleh pembacanya maka hatinya bergetar ketakutan dan air matanya mengalir; yang jika dihayati oleh orang yang bergelimang maksiat maka ia bertaubat; serta bila dipahami oleh siapa saja yang berpaling dari seruan Allāh maka ia pun bersegera kepadanya-Nya. Ayat yang menyebutkan tentang pintu gerbang dari sebuah perjalanan panjang nan berat….

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Āli `Īmrān [3]: 185.)

Kematian adalah langkah awal dari perjalanan agung yang memisahkan suami dari istrinya, orang tua dari anaknya, kekasih dari yang dicintainya dan saudagar dari kekayaannya. Perjalanan yang bermuara kepada keabadian; kenikmatan Surga atau kesengsaraan Neraka. Kematian merupakan hal yang diyakini namun sering kali sengaja dilupakan atau terlupakan; perkara yang diketahui akan tetapi begitu banyak diabaikan. Karena itulah, Nabi—shallā’Llāhu `alaihi wa sallam—mengingatkan,

Continue reading

Senang Orang Susah; Susah Orang Senang (SOS)


Senang melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain senang (selanjutnya disingkat: SOS) sejatinya merupakan karakter bawaan manusia. Karena itulah terdapat anjuran dalam hadits:

انْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَل مِنْكُمْ وَلاَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

Lihatlah kepada orang-orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah kalian melihat orang-orang yang berada di atas kalian, karena sesungguhnya yang demikian itu menyebabkan kalian tidak meremehkan nikmat yang telah Allah berikan kepada kalian.” [Riwayat Muslim IV/2275/2963, at-Tirmidzi IV/665/2513, dan lain-lain.]

Dalam lafal lain disebutkan:

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَل مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ

Jika salah seorang dari kalian memandang orang lain yang diberi kelebihan dalam harta, fisik, anak-anak dan pengikut dibandingkan dirinya, maka hendaklah ia memandang orang lain yang kondisinya lebih rendah dari dirinya.” [Riwayat al-Bukhāri V/2380/6125.]

Memperhatikan orang-orang yang kondisinya lebih baik dari kita, dalam banyak kesempatan justru membuat kita menderita serta sakit hati, dan sebaliknya melihat orang yang lebih menderita dibandingkan kita justru menjadikan kita terhibur. Karena itulah Nabi SAW mengeluarkan statement perintah sebagaimana di atas. Demikianlah karakter bawaan manusia. Hanya saja, masing-masing orang memiliki tentu memiliki sikap yang berbeda dalam menindaklanjuti sifat tersebut. Ada yang berjuang melawannya. Dan ada pula menurutinya, sehingga terkadang hal itu sampai kepada perbuatan dosa dan tindak kejahatan.

Karakter SOS inilah yang kemudian membentuk manusia tipe psikopat, yakni suka meneror orang lain untuk kepuasan pribadi. Senang dan suka cita apabila ada orang lain menderita dan sengsara akibat perbuatannya. Dengan demikian, tiap orang punya potensi untuk menjadi psikopat. Hanya saja kadar potensi tersebut berbeda-beda, ada yang besar dan ada pula yang kecil. Kadar yang kecil itu dapat menjadi besar dan sebaliknya, yang besar dapat menjadi kecil. Tergantung bagaimana yang bersangkutan menyikapi atau memupuknya, serta tergantung seberapa besar penghalang yang dibangun. Jika seseorang itu dekat dengan Allah Ta`ālā, mengimani hari akhirat dengan keimanan yang sebenarnya, dan menghayati betapa besar dosa tindak kelaliman kepada sesama, maka ia telah menghalangi dan melunturkan sifat psikopat dalam dirinya.

Continue reading