Sedekah: Aset di Dunia Terlebih di Akhirat

Posted: August 26, 2008 in Tazkiyatun Nafs, Umum

Saya beberapa kali diminta untuk mengisi salah satu rubrik dalam Newsletter Priority yang diterbitkan setiap bulan sekali oleh perusahaan tempat saya bekerja. Mengingat blog ini cukup lama tidak di-up date, maka rasanya tidak ada salahnya apabila tulisan saya yang akan di-publish untuk Newsletter Priority edisi September 2008 (tema yang dimintakan ke saya kali ini adalah tentang sedekah) dicantumkan di sini, dan semoga saja ada manfaat yang dapat dipetik, khususnya bagi diri saya pribadi. Berikut adalah tulisan dimaksud:

Sedekah: Aset di Dunia Terlebih di Akhirat

Allah `Azza wa Jalla berfirman:

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Permisalan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Dan Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 261.)

Demikianlah Allah memotivasi para hamba-Nya untuk menafkahkan atau memberikan harta di jalan-Nya, yakni dalam segala hal yang mendatangkan keridhaan-Nya. Firman Allah tersebut mencakup pengeluaran harta yang sifatnya wajib, seperti zakat, maupun yang sifatnya sunnah, seperti infaq dan sedekah sunnah. Satu dibalas tujuh ratus kali lipat.

Dari Abu Hurairah, Nabi s.a.w. bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Sedekah itu tidak mengurangi harta.” [Riwayat Muslim dalam Shahīh-nya IV/2001/2588, dan lain-lain.]

Nabi s.a.w. juga bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Tidak ada satu hari pun yang dilalui oleh seorang hamba melainkan pada pagi harinya dua malaikat turun kepadanya. Salah satunya berkata: ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfaq.’ Sementara yang lainnya berkata: “Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit.'” [Riwayat al-Bukhari dalam Shahīh-nya II/522/1374 dan Muslim dalam Shahīh-nya II/700/1010.]

Dengan demikian, dalam konsep Islam, pengeluaran harta untuk berbagai macam bentuk kebaikan di jalan-Nya merupakan aset dan investasi yang pasti menguntungkan baik secara materi maupun immateri, tangible maupun intangible, di dunia maupun di akhirat; dan bukan liability atau biaya yang akan mengurangi harta. Justru tindakan menahan harta itulah yang akan menimbulkan kerugian. Kaum Muslim wajib meyakini kebenaran hal tersebut, sebagaimana mereka wajib meyakini kebenaran seluruh janji Allah dan Rasul-Nya. Mungkin dapat dikatakan bahwa pada umumnya kaum Muslim pun telah mengetahui konsep di atas. Hanya saja penyakit krusial dalam hal ini terletak pada kelemahan aqidah, sehingga pengetahuan tersebut hanya menjadi sebatas pengetahuan, tidak membuahkan keyakinan yang akhirnya melahirkan tindakan nyata.

Konsep Islam tersebut mungkin sulit diterima—apalagi diyakini dan terlebih diamalkan—oleh mereka yang teracuni oleh materialisme, mendewakan kebendaan dan berpikir matematis secara short time. Permasalahannya, virus materialisme tersebut terus-menerus menginfeksi dan menjangkiti kaum Muslim seiring derasnya arus budaya syahwat, baik sadar maupun tidak.

Allah tidak butuh harta dari hamba-Nya, karena Dialah yang maha kaya, bahkan Dialah yang maha memberi. Manusialah yang membutuhkan harta dan bantuan dari sesamanya, sesuai karakternya sebagai makhluk sosial (homo homini socious). Orang-orang miskin membutuhkan uluran tangan dari orang-orang yang memiliki harta berlebih. Di negara ini, golongan fakir dan miskin bertebaran di mana-mana. Menteri Keuangan sekaligus Menko perekonomian, Sri Mulyani, dalam Rapat Paripurna di Gedung DPR, pada hari Selasa, 26 Agustus 2008 menyatakan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan pada Maret 2008 adalah sebesar 34,96 juta atau 15,42%, dan dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2008 sebesar 8,46% atau 9,43 juta. [http://www.detikfinance.com/read/2008/08/26/153537/994926/4/angka-kemiskinan-turun-221-juta]

Melihat kenyataan di lapangan yang tampaknya jauh lebih memprihatinkan, validitas data tersebut boleh dibilang cukup meragukan.

Masih tingginya tingkat kemiskinan di negeri ini, merupakan peluang yang sangat besar bagi mereka yang memiliki harta berlebih untuk berinfaq, dalam rangka meraup benefit serta keuntungan darinya di dunia maupun akhirat.

Dari Abu Hurairah, Nabi s.a.w. bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا، حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إلى نَفْسِهَا فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi dengan naungan-Nya, pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. (1) Pemimpin yang adil. (2) Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah. (3) Pria yang hatinya selalu terikat dengan masjid. (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah; dia berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya. (5) Seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya. (6) Seseorang yang berdzikir kepada Allah secara menyendiri, lalu air matanya berlinang. (7) Lelaki yang diajak (berzina) oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu dia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah `Azza wa Jalla.’” [Riwayat al-Bukhari dalam Shahīh-nya I/234/629 dan Muslim dalam Shahīh-nya II/715/1031.]

Comments
  1. Iman Kristen says:

    Menarik membacanya.

    Dalam Kristen terbalik konsepnya, sedekah adalah kegiatan yang harus dilakukan karena merupakan bagian dari ucapan syukur karena telah menerima keselamatan. Disini perbedaan islam dan kristen.

    Salam.

    Sebenarnya tulisan di atas hanya mewakili sebagian kecil dari konsep sedekah dalam Islam, dan hanya menyebutkan sebagian benefit dari sedekah.

    Sedekah merupakan bagian dari ibadah, sedangkan ibadah yang dalam tingkatan yang paling ultimate adalah yang didasari oleh kesyukuran (kesyukuran di sini sifatnya umum dan tidak semata-mata karena keselamatan), dan bukan semata-mata mencari ganjaran. Meskipun mencari ganjaran dari Allah dalam Islam itu dibenarkan. Bahkan banyak teks al-Quran dan hadits menyebutkan ganjaran dari ibadah tertentu, untuk lebih memotivasi dalam mengerjakan kebaikan-kebaikan, khususnya apabila ternyata kebaikan menimbulkan kemaslahatan bagi banyak orang.

    Kembali ke ibadah yang didasari oleh kesyukuran, maka hal ini dicontohkan oleh Nabi Muhammad (shallaLlahu `alaihi wa sallam). Beliau shalat malam sampai kaki beliau bengkak, sehingga kemudian ditanyakan kepada beliau apa sebabnya sedemikian gigih beribadah, sementara dosa beliau yang telah lalu dan yang kemudian telah diampuni oleh Allah. Maka beliau menjawab, “Bukankah layak bagiku untuk menjadi hamba yang sangat banyak bersyukur?” [hadits valid riwayat al-Bukhari, Muslim, Ahmad, at-Tirmidzi, Ibn Majah dan lain-lain.]

    Konon, `Ali ibn Abi Thalib, seorang sahabat Nabi s.a.w. berkata, “Sebagian orang menyembah Allah karena menginginkan ganjaran. Inilah ibadah pedagang. Yang lain menyembah Allah karena takut. Inilah ibadah seorang hamba sahaya. Kelompok yang lain menyembah Allah karena rasa syukur. Inilah ibadah orang yang merdeka.”

    Beliau tidak menyalahkan mereka yang menjalin hubungan dengan Allah laiknya pedagang maupun hamba sahaya. Namun, saya belum mengecek validitas ucapan `Ali di atas.

    Bagaimana pun juga, sebagai penutup, secara logika sehat tentunya sama sekali tidak ada kontradiksi antara mencari ganjaran dengan kesyukuran, dan dengan demikian tentu keduanya tidak perlu dipertentangkan. Jika keduanya bisa dilakukan secara simultan, maka mengapa tidak?

    Dalam ayat al-Quran disebutkan (yang artinya): “Jika kalian bersyukur, tentu benar-benar akan Kutambahkan (nikmat-Ku), namun jika kalian ingkar maka adzab-Ku sungguh amat keras.” (QS. Ibrahim: 7)

    Jadi, Allah mengabarkan bahwa kesyukuran akan mendatangkan nikmat atau ganjaran baru… dan, sangat sombong kiranya apabila seseorang merasa tidak mebutuhkan ganjaran dan nikmat-Nya, sekaligus merupakan kekurangan apabila hanya menjadikan hanya semata ganjaran-Nya sebagai tujuan utama dalam beribadah…. (semoga hal ini dapat dipahami dengan baik, karena sekali lagi, tidak ada kontradiksi.)

    Untuk mengetahui lebih detil permasalahan beribadah karena mengharap ganjaran, maka mungkin sebaiknya Anda membaca tulisan saya sebelumnya: Surga Hanyalah Sarana, Bukan The Ultimate Destination

    Regards,
    Abu Faris

  2. fadli rahmat says:

    aslam’alaik…

    Dicari sedekah untuk pengadaan mushaf 100 exkplar untuk program tahfizd ponpes diponegoro, antum bisa bantu? hub saya: 08176567064

    barakallah fiik..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s